Menu
SAJIAN ISI

Hutan Terbakar, Kebun Sawit Justru Jadi Korban

Hutan Terbakar, Kebun Sawit Justru Jadi Korban Hutan Terbakar, Kebun Sawit Justru Jadi Korban

Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) membantah keras kebakaran hutan di Riau dilakukan oleh perusahaan sawit. Justru sebaliknya, perusahaan sawit di Riau menjadi korban akibat kejahatan pembakaran hutan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kasus kebakaran hutan dan lahan yang kembali terjadi dalam satu-dua bulan terakhir ini di Provinsi Riau, telah mengundang keprihatinan berbagai kalangan. Betapa tidak, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan kebakaran hutan dan lahan di Riau yang terakhir kali terjadi pada Februari-April 2014 telah menghanguskan 2.398 hektar, termasuk kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil 21.914 hektar.
 
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), beberapa waktu lalu, mengatakan, Pemerintah Riau belum optimal dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pasalnya, bencana asap dan karhutla di wilayah tersebut terus berulang setiap tahunnya.

Menurut Sutopo, modus yang dilakukan oleh pelaku pembakaran hutan cenderung sama setiap tahun. Pelaku membakar area yang jauh dari pemukiman saat musim kering, dengan menyulut api pada ranting dan ban bekas yang sudah dipotong-potong dan diberi minyak.

“Kelompok yang membakar melalui koperasi yang bekerja sama dengan kepala adat dan lurah kemudian mengajukan surat keterangan tanah per 2 hektar,” ujarnya. Kepolisian sendiri menyebutkan motif pembakaran tersebut adalah faktor ekonomi, karena ada pelaku yang mendapat imbalan Rp500.000-Rp750.000 untuk 10 hektar yang dibakar.

Namun, ada pula yang menuding bahwa pembakaran lahan itu dilakukan oleh oknum perusahaan perkebunan sawit. Terhadap tudingan ini, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Gapki, Tungkot Sipayung menegaskan, tidak mungkin perusahaan perkebunan sawit membuka lahan barunya dengan cara membakar semak belukar di atasnya.

Saat ini semua perusahaan kelapa sawit patuh terhadap aturan moratorium lahan. Apalagi, banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Riau juga telah mengantongi ISO 9000 yang selalu mengikuti peraturan yang dikeluarkan pemerintah.
 
"Kita lihat kasus di Riau, perkebunan kelapa sawit justru menjadi korban. Bagaimana tidak, kebun adalah aset utama perusahaan perkebunan, kalau itu terbakar matilah mereka. Jadi nggak mungkinlah itu dilakukan," tukas Tungkot.

Dia menduga kebakaran hutan itu berasal dari kawasan hutan. Sementara perkebunan sawit milik petani maupun perusahaan menjadi korban dari kebakaran itu. Untuk itu, kalau ada kebun sawit terbakar itu bukan penyebab kebakaran. Sebab tidak masuk akal pemilik perkebunan sawit membakar sawitnya. “Titik apinya berada di daerah pedalaman dan di sebagian lahan gambut,” tambahnya.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id