Menu
SAJIAN ISI

Kenaikan Subsidi Biodiesel Belum Tuntaskan Masalah Featured

Kenaikan Subsidi Biodiesel Belum Tuntaskan Masalah

Sekalipun DPR telah menyetujui bahwa alokasi subsidi biodiesel dinaikkan dari Rp1.500 menjadi Rp4.000 per liter, namun upaya itu dinilai pengusaha biofuel yang tergabung dalam Aprobi belum menuntaskan permasalahan. Lantas apa permasalahan sebenarnya yang dihadapi Aprobi?

Rapat kerja yang digelar antara Komisi VII DPR-RI dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, Rabu (4/2) kemarin, berjalan cukup alot. Pada kesempatan itu, dengan mengusung alasan demi menjaga kelangsungan industri BBN (bahan bakar nabati) nasional, pemerintah mengajukan kenaikan subsidi biodiesel dari Rp 1.500/liter menjadi Rp 5.000/liter, sementara untuk bioetanol dari 2.000/liter dinaikkan menjadi Rp 3.000/liter.

Sejatinya, usulan kenaikan subsidi BBN itu memang wajar mengingat harga minyak bumi mentah di pasar internasional saat ini sedang terpuruk, yakni di bawah US$50 per barel. Demikian pula halnya harga minyak solar maupun premium di pasar dunia juga mengalami penurunan. Tanpa pemberian subsidi BBN maka produsen BBN dalam negeri akan lebih untung menjual dalam bentuk minyak sawit mentah (CPO) daripada menjual untuk keperluan minyak biodiesel di dalam negeri mengingat harga CPO di pasar internasional jauh lebih tinggi daripada harga biodiesel yang ditetapkan pemerintah.

Padahal, pemerintah Indonesia tengah menggalakkan mandatori BBN sebesar 10% sejak tahun 2014 dan akan meningkat menjadi 16% pada tahun 2016 dan 20% pada tahun 2020. Bila pemerintah tak menyubsidi BBN maka dikhawatirkan industri biofuel di dalam negeri yang sekarang tengah semangat untuk menggenjot produksi dan meningkatkan kapasitas pabriknya demi menyukseskan mandatori tadi, bakal tidak bergairah lagi, dan memilih menjual produknya ke pasar mancanegara.

Tak sedikit jumlah wakil rakyat di Senayan yang mempertanyakan usulan kenaikan subsidi BBN yang terbilang tinggi tersebut. Namun, dengan penjelasan yang logis pihak Kementerian ESDM menyampaikan alasan kenaikan tersebut.  

Setelah terjadi pembahasan yang cukup alot, akhirnya rapat kerja yang dipimpin oleh Ketua Komi VII DPR-RI, Wardaya Karnika tersebut hanya memberikan persetujuan subsidi biodiesel sebesar Rp 4.000/liter dan subsidi bioetanol Rp 3.000/liter kepada produsen.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago edisi Maret 2015. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id