Menu
SAJIAN ISI

Peranan Sertifikasi Hadapi MEA

VP Monsanto Asia Pacific Juan Farinati (kedua kiri) bersama Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia James Tumbuan (kiri) dan CEO Musanto Indonesia Mauricio Amore (kedua kanan) berbincang dengan petani penerima manfaat program corporate social responsibility Monsanto Indonesia di Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (18/3). Melalui program tersebut perusahaan global penyedia produk pertanian itu berupaya membantu sejumlah petani di Mojokerto untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. VP Monsanto Asia Pacific Juan Farinati (kedua kiri) bersama Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia James Tumbuan (kiri) dan CEO Musanto Indonesia Mauricio Amore (kedua kanan) berbincang dengan petani penerima manfaat program corporate social responsibility Monsanto Indonesia di Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (18/3). Melalui program tersebut perusahaan global penyedia produk pertanian itu berupaya membantu sejumlah petani di Mojokerto untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Akhir Maret kemarin, sebuah seminar bertajuk Peranan Sertifikasi dalam Menghadapi Pasar Global dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diadakan di Botani Square Bogor, oleh Forum Purnabakti Eselon Satu Indonesia (Forpesi) dalam rangkaian ulang tahun ke 25 PT Mutu Agung Lestari.

Menurut Arifin Lambaga, Presiden Direktur PT Mutu Agung Lestari, seminar ini diadakan bersamaan dengan ulang tahun perak (25 tahun) yang jatuh pada tahun 2015 ini. "Untuk menjalin silaturahmi bersama klien Mutu Agung. Agar lebih dekat dan akrab, sekaligus memberikan award atau penghargaan kepada relasi Mutu Agung Lestari. Selain mengadakan seminar kita juga mengadakan turnamen golf," kata Arifin dalam sambutannya.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, Bambang Prasetya, Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Tony Liwang , Direktur Dami Mas Sejahtera SMART dan Budi Tjahyono dari Mutu Agung Lestari.

Dalam paparannya, Bambang Prasetya mengungkapkan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli jika tidak mengusai pengetahuan dan teknologi. Sehingga kekayaan sumber daya alam Indonesia bisa diperdagangkan dengan nilai tambah setinggi mungkin. Hal ini baru bisa tercapai melalui penerapan Iptek. "Produk hasil nilai tambah harus senantiasa memenuhi persyaratan, salah satunya dengan mengembangkan standarisasi. "Langkah pertama adalah dengan mengembangkan standarisasi mutu," katanya.

Menurut dia, strategi dalam menghadapi MEA dan pasar global, yang dilakukan Indonesia adalah dengan penerapan Undang-Undang 20 tahun 2014 dan turunanannya sebagai kepastian hukum  dan referensi nasional. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan standardisasi di sektor prioritas dan produk unggulan daerah dengan sistem akreditasi dan penilaian kesesuaian untuk fasilitasi stakeholder (skema baru dan perluasan lingkup di ILAC dan IAF). "Selanjutnya, penguatan infrastruktur penilaian kesesuaian (Lab Uji, Lab Uji Acuan, Metrologi Teknis) dengan mensinergikan dan penguatan SDM, Iptek dan Inovasi," tambah Bambang.

Bambang menjelaskan, dengan penerapan UU Standarisasi dan penilaian kesesuaian diharapkan; pertama, bisa meningkatkan jaminan mutu, efisiensi produksi, daya saing nasional, persaingan usaha yang sehat dan transparan dalam perdagangan, kepastian usaha, dan kemampuan pelaku usaha, serta kemampuan inovasi teknologi.

Kedua, bisa meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya, serta negara, baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup; dan ketiga, bisa meningkatkan kepastian, kelancaran, dan efisiensi transaksi perdagangan barang dan/atau jasa di dalam negeri dan luar negeri.

Tony Liwang menambahkan, untuk mendapatkan daya saing yang tinggi salah satu caranya adalah dengan penguasaan techno-preneurship & sustainability. Dengan konsep penerapan techno-preneurship akan menghasilkan keunggulan komparatif dan kompetitif. "Tujuan utamanya adalah meningkatkan keunggulan komparatif & kompetitif berdasarkan Quality, Time, Cost (QTC) dan 3 P (People, Planet, Profit) ," katanya.

Ditambahkan, yang dimaksud dengan QTC adalah bagaimana menghasilkan produk yang berkualitas dengan waktu yang singkat dan seefisien mungkin tanpa mengorbankan lingkungan, keuntungan dan masyarakat. "Maka dalam hal ini bisa ditentukan dengan standarisasi atau sertifikasi," pungkas Tony.  ***SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id