Menu
SAJIAN ISI

Menikmati Hamparan Asri Kebun Teh Malabar Featured

Hamparan Asri Kebun Teh Malabar Hamparan Asri Kebun Teh Malabar

Hamparan kebun teh di daerah Pengalengan, Bandung Selatan, warisan pemerintah kolonial Belanda ini menyajikan pemandangan yang menyejukkan. Di lokasi agrowisata ini pengunjung juga bisa menikmati hangatnya kolam renang yang mengandung belerang. Keindahan Kebun Teh Malabar tak perlu diragukan lagi. Selain terletak pada ketinggian 1.550 m diatas permukaan laut dengan suhu 16-26 derajat celcius, pengunjung obyek wisata ini  dapat melihat hamparan teh hijau bagaikan permadani.

Jarak tempuh ke lokai ini hanya sekitar 45 km ke sebelah selatan Kota Bandung atau sekitar 2 jam saja. Kebun ini juga sarat sejarah, karena di lokasi inilah terdapat makam dan rumah peninggalan K.A.R Bosscha, manajer pertama kebun ini sekaligus juga pendiri observatorium (terpong bintang) Bosscha yang ada di Lembang.

Secara geografis perkebunan Malabar terletak di Kampung Malabar, Desa Bojong Sari Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Daerah ini sangat cocok sebagai daerah perkebunan teh, dan tanaman teh pertama kali dibawa ke tempat ini oleh orang Belanda. Menurut informasi, tanaman teh pertama kali ditanam di tempat ini tahun 1880.

Daerah Malabar memang dianugerahi keunikan dan pemandangan alam yang cukup bagus, dengan hamparan teh hijau, menyelimuti punggung pegunungan, sekilas nampak seperti hamparan karpet hijau tanpa batas. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, pengunjung bukan hanya disuguhi pemandangan perkebunan teh semata.

Beberapa penduduk sekitar menginformasikan bahwa ada sebuah tempat yang bernama Gunung Nini, yang layak dikunjungi. Konon kabarnya, Gunung Nini merupakan tempat disimpannya sebuah benda yang mirip kentongan. Pada zaman kolonial Belanda, benda ini kerap dibunyikan, sebagai tanda  aktivitas pekerjaan di perkebunan dimulai dan diakhiri. Dari tempat ini pemandangannya sangat bagus, Danau Cileunca serta Kota Pangalengan dapat terlihat dengan jelas.

Para pelancong juga dapat mengunjungi kolam renang Tirta Karmelia. Di tempat ini para pelancong selain bisa menikmati panorama perkebunan the, juga dapat melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air. Untuk memanjakan para pelancong, pihak pengelola PTPN VIII menyediakan berbagai kolam, serta kamar rendam dengan air panas yang mengandung belerang.

Setelah menikmati hangatnya kolam renang air panas Tirta Karmelia, pengunjung juga bisa melongok ke sebuah makam seorang kolonial belanda bernama Bosscha. Sebagai informasi Bosscha merupakan salah satu Manajer atau Administratur Perkebunan Malabar. Karel Albert Rudolf Bosscha begitulah nama lengkapnya, dilahirkan di St Gravenhage Negeri Belanda.
Syahdan, tahun 1887 Bosscha tiba di indonesia, selanjutnya dia belajar mengenai teh di Sinagar, Sukabumi, Jawa Barat. Kemudian tahun 1896, ia dipercaya menjadi Administratur Perkebunan Malabar sampai kematian menjemputnya pada tahun 1928. Lokasi pemakaman Bosscha merupakan sebuah hutan kecil dengan rimbunan pepohonan seluas 1 hektar. Konon dahulu kala, di tempat ini Bosscha kerap merenung setelah beraktivitas seharian.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id