Menu
SAJIAN ISI

Mentan Inginkan Indonesia Pengendali Harga CPO Dunia Featured

Mentan Inginkan Indonesia Pengendali Harga CPO Dunia

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman ingin menjadikan Indonesia sebagai negara pengendali harga harga minyak sawit di pasar global. Pasalnya, Indonesia merupakan produsen dan pemasok kebutuhan minyak sawit terbesar di dunia.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan, industri sawit harus didukung karena merupakan komoditas strategis yang menyumbang besar untuk devisa. "Sawit ini komoditas strategis jadi harus didukung. Sawit telah menyumbang devisa sebesar Rp250 triliun pada tahun 2014," tandas Amran saat menghadiri Indonesian Palm Oil Conference 2015 (IPOC 2015) di Bali, Jumat (27/11).

Meski merupakan produsen dan pemasok kebutuhan minyak terbesar dunia, ia menyoroti ketidakmampuan Indonesia dalam mengendalikan harga CPO. Untuk itu, ujar Amran, Indonesia harus memperjuangkan agar berhasil menjadi pengendali harga CPO dunia, sehingga keuntungan yang diraih bisa lebih besar.

"Maka Indonesia sebagai pengekspor CPO utama dunia semestinya bisa mengatur harga sawit. Seperti halnya pengekspor gandum yang bisa mengatur harganya kepada importir, termasuk Indonesia," kata Amran memberikan ilustrasi.

Saat ini, jelas Amran, Indonesia merupakan pemasok sekitar 38% minyak nabati di seluruh dunia. Adapun produksinya tahun ini diperkirakan mencapai 30 juta ton.

Untuk itu, dia mengajak semua industri sawit dari Indonesia dan Malaysia bekerja sama dalam pemenuhan kebutuhan pasar global serta berjuang dalam mengendalikan harga. Apalagi, setelah terbentuk Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC), untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

“Pemerintah Indonesia dan Malaysia telah menandatangani nota kesepahaman tentang pembentukan Dewan Produsen Sawit Dunia pada 21 November lalu,” katanya.

Amran juga menyatakan bahwa kelapa sawit memiliki peranan penting untuk kesejahteraan masyarakat petani sebanyak 20 juta orang yang mengelola lahan 4 juta hektar.

"Mohon maaf, bukan berarti kami tidak peduli dengan lingkungan. Orangutan saja kita jaga dan mendapatkan perhatian dunia, apalagi petani dan masyarakat sekitar. Cara pandangnya harus kesejahteraan manusia, bukan hanya lingkungan, karena ada saudara-saudara kita yang perlu diprioritaskan," kata dia.

Menurut Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, yang ditugasi Presiden Jokowi untuk merintis pembentukan CPOPC, sudah saatnya Indonesia dan Malaysia sebagai produsen sawit terbesar dunia mengatur harga. Di pasar global, kekuatan produksi Indonesia dan Malaysia mencapai 85% dari produksi CPO global. “CPOPC sangat efektif mengatur harga minyak sawit di pasar global," katanya.

Dalam aspek lingkungan, disepakati untuk membuat “Standar Global Baru Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan”. Standar Global Baru dihasilkan dari harmonisasi antara Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISP0) yang nantinya akan menjadi standar internasional baru di bidang industri minyak sawit dunia.

Harmonisasi standar baru ini akan menjadi standar yang ramah lingkungan dan diharapkan bisa memberikan kesejahteraan kepada 4 juta petani sawit di Indonesia dan 500 ribu petani sawit di Malaysia.

Menurut Rizal, setelah pembentukan standar CPO yang disepakati Indonesia dan Malaysia, maka kedua negara sepakat tidak akan mengikuti standar Uni Eropa. “Sudah disepakati, kami akan hold standar negara Barat yang merugikan Indonesia,” tegasnya.

Selama ini, pemerintah Indonesia terus mengikuti persyaratan kegiatan ekspor CPO yang diminta negara Uni Eropa. Kata Rizal, aturan ketat CPO Uni Eropa mengakibatkan kerugian terhadap produsen CPO lokal, khususnya petani skala kecil.

Setiap tahun, Indonesia mengekspor CPO ke Uni Eropa berkisar 2,5 juta-3 juta ton. Beberapa waktu lalu, produk biodiesel Indonesia dihambat masuk ke Uni Eropa dengan tuduhan anti dumping. Agar ekspor CPO tidak anjlok, lanjut Rizal, pemerintah akan melobi negara pembeli CPO seperti Tiongkok dan India supaya menyetujui standar CPO buatan Indonesia-Malaysia.

Dukungan dari Kadin Indonesia
Setelah resmi terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani punya target memajukan industri kelapa sawit atau CPO Indonesia. Sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia harus bisa menjadi penentu harga CPO di pasar global.

"Kita penghasil sawit terbesar, tapi malah nggak bisa tentukan harga sawit. Harusnya sebagai penghasil terbesar bisa jadi penentu harga bareng-bareng dengan Malaysia," kata Rosan, di Hotel Trans Luxury Bandung, Jawa Barat, usai Munas Kadin ke-VII, Selasa (24/11/2015) malam.

Dikatakan Rosan, salah satu target utama dirinya di awal kepemimpinannya di Kadin adalah mendorong pembenahan industri CPO dan turunannya. Rosan menyebut, sawit sebagai produk lokal berdaya saing global.

"Sebagai Ketum Kadin baru, saya memilih fokus pada industri strategis lokal, brand yang dominan dalam negeri itu ya CPO. Local champion yang sukses merambah dunia," papar Rosan.

Selain menargetkan bisa jadi pengendali harga, lanjut dia, dirinya akan menggencarkan kampanye lewat Kadin mengenai pengelolaan kebun sawit Indonesia, yang sudah melaksanakan prinsip lingkungan berkelanjutan. Tujuannya, mengurangi hambatan yang membatasi CPO di negara-negara Eropa. Pasalnya, sawit dari Indonesia, sering mendapat citra buruk sehingga ditolak di berbagai negara, khususnya Eropa.

"Kita bersama-sama memberikan pemahanan kepada dunia luar, bahwa kita menjalankan bisnis kelapa sawit semakin lama semakin baik. Kita harus punya bargaining power ke pihak luar. Kita ada kendala tembus Eropa, ini yang saja perjuangkan," tukasnya. *** AP, SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id