Menu
SAJIAN ISI

Soal Ekspor Kopi, RI Berpotensi Geser Brazil Featured

Pemetik kopi Arabica di Desa Sumbersekar, Dau, Malang, Jawa Timur. Kementerian Perdagangan mencatat, ekspor kopi Indonesia tumbuh sekitar 10,97 persen dengan nilai ekspor lebih dari Rp. 15 triliun per tahun. Pemetik kopi Arabica di Desa Sumbersekar, Dau, Malang, Jawa Timur. Kementerian Perdagangan mencatat, ekspor kopi Indonesia tumbuh sekitar 10,97 persen dengan nilai ekspor lebih dari Rp. 15 triliun per tahun.

Indonesia berpotensi menggeser Brazil dan Vietnam sebagai negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Hal ini dimungkinkan, karena perkebunan kopi Indonesia cukup luas dan memiliki jenis kopi terbaik di dunia.

Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertanian bekerjasama dengan asosiasi kopi untuk mewujudkan hal ini melalui intensifikasi lahan perkebunan kopi guna meningkatkan produktivitas petani.

Saat ini, Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar ketiga setelah Brazil dan Vietnam. Produksi kopi nasional pada 2014 sebanyak 685 ribu ton atau 8,9% dari jumlah total produksi kopi global. Produksi kopi robusta sebanyak 76,7% dari jumlah total produksi nasional tersebut. Sisanya bersumber dari kopi arabika 23,3%. Permintaan akan kopi Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat lantaran kopi robusta asal Indonesia lebih unggul, Pun demikian halnya dengan kopi arabika yang mempunyai karakteristik serta cita rasa unik.

Menteri Perindustrian, Saleh Husin mengatakan, kopi merupakan komoditas ekspor unggulan yang menjadi penyumbang terbesar keempat devisa negara setelah kelapa sawit, karet, dan kakao. Nilai devisa kopi mencapai US$ 1,4 miliar. ‪ Menurutnya, lahan perkebunan kopi cukup luas, yakni mencapai 1,24 juta ha. Luas tersebut dibagi dengan luas lahan perkebunan kopi robusta 933 ribu ha dan perkebunan kopi arabica 307 ribu ha.

Rata-rata luas kepemilikan lahan petani sebanyak 0,6 ha. Produktivitas tanaman kopi robusta sebanyak 741 kg biji kopi per hektar tiap tahunnya. Sedangkan produktivitas kopi arabika 808 kg/ha per tahunnya. “Lahan yang luas itu Kemenperin akan mengupayakan pertumbuhan ekspor dan memperkenalkan kopi-kopi Indonesia ke seluruh dunia. Dengan kopi kita akan tingkatkan devisa kita,” jelas Saleh, di Jakarta, baru-baru ini.

Akan tetapi luas lahan tersebut, menurut Saleh, tidak didukung dengan produktivitas yang tinggi. Sebagai perbandingan, rata-rata produktivitas petani kopi Brazil sebanyak 2.000 kg/ha/tahun dan Vietnam 1.500/kg/ha/tahun.

Saleh menjelaskan Indonesia harus mampu meningkatkan produksi kopi dengan kulaitas terbaik agar mampu menyaingi kedua negara tersebut. “Produkivitas ini harus ditingkatkan, mengapa kita tidak bisa, negara lain saja bisa,” tegasnya.

Saleh juga menyinggung mengenai budaya minum kopi. Tujuannya, mempromosikan peningkatan konsumsi kopi di dalam negeri dan mendongkrak ekspor produk kopi ke pasar internasional yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan seluruh rantai nilai perkopian Indonesia dari petani, industri sampai dengan penyedia jasa retail kopi. “Kita dorong budaya minum kopi agar bisa meningkatkan devisa.”  

Menurut Saleh, aneka jenis kopi juga perlu disosialisasikan untuk semakin dikenalkan kepada masyarakat Indonesia sendiri. Lebih lanjut dia mengatakan, kreativitas produsen kopi diperlukan untuk meningkatkan kualitas kopi di pasar ekspor dan brand kopi asal Indonesia.

“Kemudian kami akan melakukan gerakan meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi Nusantara, serta mempromosikan peningkatan konsumsi kopi Nusantara ke luar negeri. Jadi, Kami mengimbau para produsen untuk terus meningkatkan produk kopi berkualitas. Tujuannya,  agar dapat meningkatkan pendapatan devisa negara,” papar dia.

Faiz Ahmad, Direktur Industri Minuman dan Tembakau Kemenperin menambahkan, 5 dari 10 kopi terbaik di dunia berasal dari Indonesia. Untuk itu, ia cukup optimistis, kopi Indonesia akan semakin diminati di luar negeri.

Hanya saya, kata Faiz, kualitasnya dan produktivitasnya harus ditingkatkan agar bisa bersaing dengan Brazil dan Vietnam. “Kemenperin sedang menyusun road map industri kopi nasional, mudah-mudahan akhir tahun ini akan dipublikasikan. Dan kita bisa bertahap untuk menggeser Brazil dan Vietnam,” tandasnya.

Dijelaskannya, Indonesia berpotensi besar mewujudkan ambisinya menjadi pemasok kopi nomor satu di dunia karena areal perkebunan kopi Indonesia sangat luas. Luas perkebunan kopi Vietnam hanya 550 ribu ha. Selain itu, tambah Faiz, kualitas kopi robusta Indonesia lebih unggul daripada Vietnam.

Faiz menyebutkan intensifikasi tanaman sebagai salah satu solusi meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi. “Cara petani menangani kopi setelah panen adalah hal yang penting. Seperti menyangrai dan mengemasnya. Kemudian, memilihi biji kopi seharusnya yang berwarna merah dan kuning. Selama ini, petani memetik semua biji kopi merah, kuning dan hijau sehingga bisa menurunkan kualitas kopi,” katanya.

Selain itu, lanjut Faiz, petani kopi menggenjot produksinya dengan menggantikan tanaman yang tua yang umurnya berkisar 20-30 tahun dengan tanaman yang muda. “Hampir 40% dari luas lahan perkebunan itu usianya sudah tua,” tukasnya.

Apabila intensifikasi itu dijalankan dengan baik maka Indonesia perlahan-lahan bisa menggeser negara lainnya. Sebab, produktivitas akan naik, diharapkan bisa menembus 1 ton/ha dari sebelumnya 800-an ribu kg/ha.

“Hitungan saya kita bertahap bisa menggeser Vietnam dalam 5 tahun ke depan, setelah itu kita bisa menggeser Brazil,” kata Faiz optimistis.

Sementara, perlambatan ekonomi global telah mengendorkan harga produk komoditas Indonesia, termasuk ekspor kopi. Walau demikian, industri kopi nasional masih bisa bernapas lega karena volume ekspornya masih menanjak lantaran negara-negara tujuan ekspor masih meminati kopi Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor kopi selama semester I-2015 mencapai US$ 579 juta, naik dari Mei sebesar US$ 91,16 juta.

Gabungan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) memproyeksikan, ekspor kopi pada  tahun ini akan tumbuh dua digit. Volume ekspor biji kopi Indonesia pada tahun 2015 berpeluang menyentuh angka 400 ribu ton, atau tumbuh 10% dibanding tahun lalu sebesar 385 ribu ton.

Rata-rata volume ekspor kopi Indonesia, menurut organisasi eksportir ini, berada pada level sekitar 350 ribu ton per tahun meliputi kopi robusta (85%) dan arabika (15%). Sekitar 50 negara menjadi tujuan ekspor, beberapa di antaranya adalah negara ekspor utama, yaitu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Italia, dan Inggris.

Kopi spesial yang dimiliki Indonesia pun punya potensi yang bagus. Jenis kopi spesial yang dimiliki Indonesia lebih banyak daripada jenis kopi yang dimiliki negara lain. Indonesia bisa menjadi nomor satu pemasok kopi spesial karena di beberapa negara hanya punya satu sampai dua jenis kopi spesial. Beberapa daerah yang berpotensi untuk memasok kopi spesial, misalnya Mandailing, Gayo, dan Toraja.

Kopi Olahan
Ekspor kopi pada tahun ini bisa bertambah gemuk apabila menghitung ekspor kopi olahan. Nilai ekspor kopi olahan pada tahun 2014 mencapai US$ 332,24 juta, meningkat 9,9% dari tahun 2013. Apabila digabung dengan ekspor kopi olahan sebesar 90 ribu ton dan biji kopi pada  tahun 2014, maka volume total ekspor kopi sebanyak 475 ribu ton. Ekspor kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi ke berbagai negara, semisal Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, China, dan Uni Emirat Arab.

Demi memperkuat industri kopi olahan, Kemenperin menerapkan SNI kopi instan yang berlaku efektif pada Januari 2016 untuk melindungi konsumen dari kopi olahan bermutu rendah. Pada 2015, pemerintah melakukan harmonisasi tarif bea masuk produk kopi olahan berupa kopi sangrai, bubuk, instan, dan mix, menjadi 20% dari sebelumnya 5%. Itu tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 132 Tahun 2015. Tujuannya memberikan iklim bisnis yang sehat bagi industri kopi nasional.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Panggah Susanto mengatakan, pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri masih cukup prospektif. Sebab, konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata baru mencapai 1,1 kg per kapita/tahun, lebih rendah dari negara-negara tujuan ekspor kopi Indonesia.

Konsumsi masyarakat AS, misalnya, mencapai 4,3 kg. Kemudian Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8 kg, Norwegia 10,6 kg dan Finlandia 11,4 kg/kapita/tahun. “Industri kita baru mampu menyerap sekitar 35 persen produksi kopi dalam negeri dan sisanya sebesar 65 persen masih diekspor dalam bentuk biji. Artinya, peluang pengembangannya masih sangat terbuka lebar,” ujarnya.

Dia menambahkan, industri kopi nasional masih perlu ditingkatkan karena saat ini menyerap sekitar 35% produksi kopi dalam negeri. Sisanya sebesar 65% diekspor dalam bentuk biji kopi. Ke depannya, industri pengolahan kopi perlu melakukan diversifikasi produk kopi tidak hanya dikembangkan sebagai minuman, namun juga perlu dikembangkan dalam bentuk produk lainnya, semisal komestik, farmasi, dan essen makanan. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id