Menu
SAJIAN ISI

Gernas Kakao Cukup Berhasil Featured

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meninjau pohon kakao di Sulawesi Tenggara Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meninjau pohon kakao di Sulawesi Tenggara

Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Gamal Nasir menambahkan, Gernas Kakao merupakan salah satu upaya dalam mempercepat peningkatan produktivitas tanaman dan mutu hasil kakao nasional dengan mengoptimalkan seluruh potensi pemangku kepentingan dan sumber daya yang ada. Selain itu, Gernas Kakao juga ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi, produktivitas, dan mutu hasil.


Gamal mengungkapkan, dari luas areal tanaman kakao di Indonesia yang mencapai 1.732.641 hektar (ha) didominasi perkebunan rakyat (94%) dengan petani yang terlibat secara langsung sebanyak 1.626.816 KK (kepala keluarga). Dari luas areal kakao itu dibagi menjadi 873.785 ha Tamanan Menghasilkan (TM), dan 690.859 ha Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), dan 167.998 ha Tanaman Tidak Menghasilkan/Tua Rusak (TTM/TR).

Menurut dia, hingga tahun 2012 realisasi Gernas Kakao mencapai luasan 433.253 ha atau 96.27% dari target seluas 450.000 ha. Program Gernas Kakao dibagi menjadi tiga kegiatan, yakni peremajaan 85.520 ha, rehabilitasi 191.743 ha dan intensifikasi seluas 158.990 ha dengan anggaran sebesar Rp 2.884.0 miliar. Sedangkan target yang belum selesai dilakukan pada 2013 dengan fokus rehabilitasi tanaman seluas 28.280 ha.

Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Gernas Kakao selama 2009-2012, katanya, kegiatan peremajaan secara nasional telah mencapat 92.15% dari target dengan pencapaian 77.91% tanaman hidup. Dari segi keragaan tanaman hidup beragam antar daerah, provinsi-provinsi Bali, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan menunjukkan hasil peremajaan yang terpelihara dengan baik.
 
Sedangkan pada kegiatan rehabilitasi selama kurun waktu yang sama telah mencapai 99.2% dari target dengan pencapaian 91.0% tanaman hidup. “Di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, menunjukkan hasil rehabilitasi kakao terpelihara dengan baik,” ungkap Dirjen Perkebunan.
 
Untuk kegiatan intensifikasi juga telah mencapai 98.98% dari target nasional. Keragaan tanaman hidup beragam antar daerah, provinsi-provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat dan Bali menunjukkan hasil rehabilitasi yang terpelihara dengan baik.
 
Gamal menuturkan, kegiatan peremajaan dilakukan pada kebun yang rusak karena tanaman sudah tua dan kurang terawat maupun kebun yang terkena serangan hama penyakik berat. Hal ini berdampak pada produktivitas yang hanya berkisar 50-250 kilogram/ha atau rata-rata sekitar 150 kg/ha.
 
Hasil pengamatan dari sampel kebun yang diremajakan pada tahun 2009 menunjukkan bahwa pada tahun 2012 tanaman baru mulai menghasilkan. Hasilnya memperlihatkan bahwa produksi rata-rata 150 kg/ha. Sedangkan pada kebun milik petani yang dirawat dengan baik telah mencapat 220 kg/ha. Sementara pada kebun demplot mampu berproduksi 250 kg/ha.
 
Kebun pada umumnya kurang dipelihara sesuai standar budidaya, sehingga dalam kondisi itu maka prediksi potensi produksi pada 2013 hingga 2015 hanya akan sampai 600 kg/ha. Sedangkan, pada kebun-kebun petani yang dipelihara dengan baik, serta kebun demplot yang dipelihara sesuai dengan standar budidaya, maka pada tahun 2015 akan berpotensi menghasilkan hingga 1.000-1.200 kg/ha.
 
Untuk kegiatan rehabilitasi dilakukan pada kebun yang rusak karena tanaman sudah tua dan kurang terawat maupun kebun yang terkena serangan hama penyakit sedang. Produktivitas kebun tersebut berkisar antara 250-400 kg/ha, atau rata-rata sekitar 350 kg/ha.
 
Gamal menyebutkan, hasil pengamatan dari sampel dari kebun yang dilaksanakan rehabilitasi tahun 2009 dan 2010 telah menunjukkan bahwa pada tahun 2011-2012 tanaman baru mulai menghasilkan. Hasil produksi rata-rata 400 kg/ha. Sedangkan pada kebun milik petani yang dirawat dengan baik yelah mencapai 650 kg/ha. Sementara pada kebun demplot mampu berproduksi 750 kg/ha.
 
Dalam penilaian Gamal, kebun pada umumnya kurang dipelihara sesuai standar budidaya. Dengan kondisi tersebut prediksi potensi produksi pada tahun 2013-2015 hanya akan sampai 1.000 kg/ha. Sedangkan pada kebun-kebun petani yang dipelihara dengan baik serta kebun demplot yang terpelihara sesuai standar budidaya, pada 2015 akan memiliki potensi untuk menghasilkan hingga 1.050-1.350 kg/ha.
 
Untuk kegiatan intensifikasi dilakukan pada kebun yang kurang terawat namun memiliki tegakan tanaman yang masih baik dengan produktivitas kebun berkisar antara 300-500 kg/ha, atau rata-rata 400 kg/ha.
 
Hasil pengamatan dari sampel kebun yang dilaksanakan intensifikasi pada tahun 2009, 2010, 2011, maka setahun setelah dilaksanakan intensifikasi menunjukkan produksi rata-rata 600 kg/ha. Sedangkan pada kebun milik petani yang dirawat dengan baik telah mencapai  650 kg/ha dan pada kebun demplot mampu berproduksi 750 kg/ha.
 
Ditambahkan, kebun pada umumnya kurang dipelihara sesuai standar budidaya atau sama seperti saat mendapatkan bantuan intensifikasi. Pada kondisi tersebut maka prediksi potensi produksi pada tahun kedua setelah intensifikasi akan kembali ke produksi semula saat sebelum dilakukan intensifikasi.
 
Pada kondisi tersebut diprediksi produktivitas tanaman intensifikasi milik petani secara umum akan kembali pada produktivitas semula pada tahun 2015 mendatang. Sedangkan pada kebun-kebun petani yang dipelihara dengan baik, serta kebun demplot yang dipelihara sesuai budidaya, pada 2015 akan memiliki potensi untuk menghasilkan hingga 750-1.100 kg/ha.
 
Menurut Gamal, dampak produksi dari program Gernas Kakao untuk kegiatan peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi akan mulai bernilai positif pada 2013. Namun, peningkatan produksi masih kecil yaitu 39.965 ton. “Nilai tersebut akan terus meningkat dan diprediksi pada tahun 2015 akan mencapai 104.964 ton,” ujarnya.
 
Selain itu, lanjutnya, program Gernas Kakao juga berdampak pada perubahan sosial petani. Hal ini dapat dilihat dari interaksi dalam kelompok tani sebagai lembaga organisasi produksi dan bisnis petani. “Interaksi ini akan menentukan keberhasilan dalam membangun kelembagaan petani,” tandas Gamal.
 
Ditambahkannya, perubahan sosial terkait dengan jiwa gotong-royong meningkat saat program Gernas berlangsung. Karena sifatnya gerakan maka peserta gerakan berusaha untuk melakukan kegiatan bersama, yang tentunya menumbuhkan interaksi yang lebih sering dalam kehidupan.
 
Hanya saja, interaksi itu mulai memudar setelah tahun kedua dan seterusnya setelah Gernas berakhir. Meski begitu program Gernas telah mampu meningkatkan pengetahuan tentang budidaya kakao yang benar.
 
Sedangkan perilaku menyangkut etos bisnis berkebun cokelat belum terlihat perubahan. Hal ini karena kelembagaan petani (kelompok tani) belum berfungsi secara optimal. Namun di sisi lain, Gernas Kakao telah membantu petani untuk memperbaiki sistem drainase dan pengelolaan air hujan, juga melakukan pemangkasan pohon pelindung dan pembersihan kebun. *** SH, AP

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id