Menu
SAJIAN ISI

Prospek Bisnis Perkebunan Masih Alami Tekanan Berat

Prospek Bisnis Perkebunan Masih Alami Tekanan Berat

Prospek bisnis perkebunan dalam dua tahun terakhir masih mengalami tekanan berat. Bahkan sejumlah komoditas perkebunan, seperti karet dan sawit diprediksi masih mengalami tekanan hingga 2016 mendatang. Presiden Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Teguh Wahyudi menyatakan, untuk meningkatkan produktivitas komoditas perkebunan diperlukan penerapan berbagai inovasi teknologi. Peningkatan produktivitas diperlukan untuk mengantisipasi kecenderungan  rendahnya harga komoditas yang disebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

"Pergerakan harga-harga komoditas karet, sawit, dan gula masih rendah. Hanya, harga kakao, kopi, dan teh relatif tinggi dalam lima tahun terakhir," jelas Teguh dalam diskusi dengan awak media di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam diskusi tersebut Teguh didampingi pimpinan-pimpinan anak perusahaan RPN, di antaranya Misnawi, Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember; Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina PT RPN Uhendi Haris; Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula RPN Triantarti; Direktur Pusat Penelitian Karet, Karyudi; Hasril Siregar, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit; Direktur Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Priyono; Kepala Biro Riset RPN Sinung Hendratno dan beberapa petinggi dari RPN.

Teguh menambahkan, sejumlah negara konsumen utama, seperti Tiongkok, Amerika Serikat (AS), India, dan Jepang terus mengurangi permintaannya, sehingga diperlukan pasar baru dari negara Eropa Timur dan Afrika yang pertumbuhan ekonominya lumayan stabil.

Faktor lainnya yang cukup berpengaruh, tambah Teguh, adalah inflasi, kebijakan produksi dan investasi, serta kinerja industri manufaktur. Apalagi, tren kerjasama oleh produsen komoditas perkebunan utama dunia juga berpengaruh terhadap harga komoditas itu pada tahun depan. Sebab, kerjasama itu menciptakan adanya upaya rekayasa pasokan ke pasar.

Begitu juga dengan berbagai kebijakan terkait tata niaga dan peningkatan budidaya komoditas perkebunan. “Faktor-faktor itu akan berperan dalam pergerakan permintaan dan pasokan, permintaan atas komoditas perkebunan akan meningkat,” kata Teguh.

Dikatakannya, Indonesia sebagai penghasil sekaligus konsumen dari komoditas perkebunan tersebut harus bisa mengantisipasi keadaan perekonomian yang kurang menggembirakan. Hal ini karena persoalan harga turun, faktor eksternal seperti cuaca, kebakaran, dan sebagainya seringkali tidak bisa dikendalikan.

Di sisi lain, biaya untuk memperoleh input komoditi perkebunan semakin meningkat. Akibatnya, produksi dan produktivitas turun. “Itu himpitan yang dihadapi komoditas perkebunan. Sementara itu, persaingan semakin ketat dan ada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dalam situasi seperti ini diperlukan kreativitas pelaku usaha perkebunan," jelas dia.

Teguh mengakui, prospek bisnis perkebunan sejak tahun 2014 sampai 2015 masih mengalami tekanan berat. Bahkan sejumlah komoditas diprediksi masih mengalami tekanan hingga 2016 mendatang. Menurutnya, harga komoditas kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), karet dan gula sudah berada dalam taraf yang rendah sejak tahun lalu, dan kondisi ini diprediksi masih akan berlangsung sampai tahun depan.

Harga CPO sejak September lalu tersungkur di US$ 526,9 per metrik ton, jauh dari harga ideal US$ 700 per metrik ton. Demikian juga harga karet jauh ke level terendah dalam 10 tahun terakhir di US$ 1,14 per kg dari harga ideal sebesar US$ 2 per kg dan harga gula sempat jatuh di posisi 11,17 sen per pon atau terendah sejak tahun 2009.

Tekanan pada tiga komoditas pertanian di atas juga diprediksi masih berlanjut pada tahun depan karena perekonomian dunia belum benar-benar pulih. Sementara dampak El Nino tahun ini masih terasa pada tahun depan.

"Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan produktivitas pertanian dengan menerapkan inovasi teknologi," ujarnya.

Teguh menjelaskan prospek rata-rata bulanan komoditi perkebunan di pasar internasional tahun 2016 masih mengalami fluktuasi. Ia memprediksi harga karet akan berfluktuasi pada kisaran US$ 1,14 per kg sampai US$1,69 per kg. "Jika kondisi pasar membaik, harga karet bisa mencapai US$ 1,71 per kg dan jika memburuk akan tembus di bawah US$ 1,14 per kg."

Sementara itu, harga CPO juga akan mengalami fluktuasi pada US$ 0,50 per kg sampai US$ 0,69 per kg. Dan jika kondisi pasar membaik akan bertengger ke US$ 0,74 per kg dan jika memburuk akan jatuh di US$ 0,43 per kg.

Demikian juga dengan harga gula atau raw sugar akan berfluktuasi pada kisaran US$ 0,22 per kg sampai US$ 0,27 per kg. Dan jika kondisi pasar membaik maka harga dapat mencapai US$ 0,34 per kg dan jika memburuk menjadi US$ 0,21 per kg. "Untuk komoditi gula ini, Indonesia masih menjadi net importer," tandas Teguh.   

Dalam komoditas kelapa sawit, Teguh menilai riset dan pengembangan dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari kompetitor seperti Malaysia dalam hal teknologi hilirisasi CPO. “Kita harus mengakui Indonesia masih tertinggal dari Malaysia soal hilirisasi industri kelapa sawit. Karena itu, dibutuhkan dana untuk mengejar ketertinggalan tersebut,” ujar mantan Direktur Puslitkoka Jember ini.

Menurut dia, ketertinggalan itu dapat dilihat dari teknologi yang digunakan, jumlah produk hilir, dan variasinya. “Dengan adanya dana CPO supporting fund, kita bisa mendorong pengembangan hilir lebih cepat,” ucapnya.

Untuk itu, Teguh berharap, adanya dukungan dari dana CPO supporting fund untuk riset, Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dari Malaysia dalam 5 tahun ke depan. Teknologi bio-energy, bio-olechemicals, bio-food akan berkembang pesat.

“Hal itu dapat tercapai jika porsi riset dari alokasi dana CPO supporting fund cukup besar. Sekarang kan belum ditentukan porsi masing-masingnya,” kata Teguh.

Dia menambahkan sesuai aturan yang akan berlaku, dana yang berasal dari CPO supporting fund akan digunakan untuk subsidi biodiesel, riset dan pengembangan, penanaman kembali, peningkatan SDM, dan upaya melawan black campaign dari LSM asing. “RPN akan mendukung semua tujuan tersebut,” paparnya.

Senada dengan Teguh, Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB), Achmad Manggabarani menjelaskan CPO supporting fund diberlakukan pada 16 Juli 2015, sebagai tambahan pungutan untuk mengembangkan industri hilir dan industri CPO berkesinambungan.

“Dana besar itu sebaiknya difokuskan untuk riset dan penanaman kembali. Penanaman kembali itu pondasi industri hulu, dan riset merupakan pondasi industri hilir,” ujarnya.

Selain itu, CPO supporting fund juga akan digunakan untuk subsidi biodiesel dan upaya menangkal black campaign dari LSM asing. “Bagaimana cara agar dana besar ini efektif dan tepat sasaran, harus ada pengawasan yang terbuka, baik dari pelaku industri sawit, perwakilan petani, dan independen,” pintanya. ** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id