Menu
SAJIAN ISI

Naiknya Harga Bawang Bukan Suplai Kurang Featured

Naiknya Harga Bawang Bukan Suplai Kurang

Produksi bawang merah diprediksi mencapai 89.991 ton. Bila produksi ini dikurangi kebutuhan nasional yang mencapai 80.048 ton, masih menyisakan surplus sebanyak 9.943 ton. Tapi, yang mengherankan tetap saja terjadi fluktuasi harga bawang merah eceran, yang mencapai Rp 35 ribu per kg.

Kementan tetap pada keputusannya tidak akan membuka keran impor. Pertimbangannya, persediaan bawang merah untuk bulan Maret, menurut hasil sidak Direktur Jenderal Hortikultura, Spudnik Sujono,  melimpah di beberapa daerah sentra penghasil bawang merah.

Menurut hasil sidak, kata Spudnik, benih bawang merah yang masa tanamnya dimulai pada Januari lalu di Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali Nusa, Sulawesi Selatan telah memasuki masa panen pada Maret ini.

“Total panen bulan Maret ini mencapai 89.991 ton, sedangkan kebutuhan nasional hanya 80.048 ton. Berarti kita masih ada surplus sebanyak 9.943 ton,” ungkap Spudnik pada acara jumpa pers terkait stabilitas harga bawang merah, yang digelar di Direktorat Jenderal Hortikultura, Jakarta, Selasa (1/3).

Namun meski pemerintah mengklaim bawang merah melimpah, nyatanya beberapa pedagang merasa kesusahan memperoleh pasokan. Ditambah harga bawang merah yang kian melonjak tinggi, desakan agar membuka pintu impor makin kencang.

Pasalnya, pada 18 Februari lalu, harga bawang merah kering eceran masih sekitar Rp 28 ribu per kg tak lama kemudian, pada 27 Februari, melonjak sampai Rp 35 ribu per kg.  Tentang hal ini Spudnik menjelaskan, tidak benar lonjakan harga disebabkan menipisnya pasokan. Sebab, di tingkat petani harga bawang merah rendah dikarenakan pasokan melimpah.

Yasid Taufik, Sekretaris Ditjen Hortikultura menambahkan, meski lahan petani terus memproduksi tapi tetap ada gejolak harga. Harga mulai melonjak di pasar induk dari Rp 22 ribu-30 ribu per kg. Karena di pasar induk naik, terjadi transmisi harga di petani yang tadinya Rp 11 ribu menjadi Rp 20 ribu per kg. Lalu harga makin merangkak naik di tingkat eceran hingga Rp 35ribu per kg.

“Namun secara makro, kinerja produksi petani tahun ini lebih bagus. Pada 2013 tinggi-tingginya harga bawang mencapai Rp70 ribu – 80 ribu per kg. Padahalm saat itu impor bawang kita mencapai 145.000 ton. Impor 2014 berkurang menjadi 85.000 ton. Lalu pada 2015, impor semakin dikurangi hanya 15.000 ton dan harga pun relatif stabil sekitar Rp25 ribu per kg.  Itu artinya produksi kita bagus,” papar Yasid di hadapan awak media.

Kini sejak impor distop, walau harga di tingkat petani hanya turun di semester pertama, namun di pasar grosir dan induk harga mengalami fluktuasi. “Harga stabil di petani, artinya produksi bagus. Hanya di pasar saja yang  tidak stabil,” tegasnya lagi.
Menurutnya, harga di petani rendah berarti produksi cukup banyak, masalahnya adalah di middleman atau para pedagang yang mengendalikan harga. Jadi gejolak harga belum tentu menunjukkan tidak ada produksi atau produksi jelek.

“Yang menentukan harga ini memang grosir dan ritel. Masalah pertanaman memang selalu di midleman. Bayangkan saja harga jual dari petani Garut Rp 10 ribu per kg,  di Pasar Minggu melonjak drastis jadi Rp 30 ribu per kg,” ungkap Yanuardi, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementan.

Lebih lanjut Spudnik menjelaskan, pihaknya tetap akan mencoba mengendalikan harga di pasar induk dengan target mencapai kisaran Rp 22 ribu – 25 ribu per kg dengan mengendalikan pedagang-pedagang middleman tersebut.

 “Situasi fluktuasi bawang merah ini perlu hadirnya sentuhan pemerintah untuk menanganinya. Tidak hanya Direktorat Hortikultura, yang memang tanggung jawabnya hanya tentang produksi. Sedangkan pengawasan harga harus koordinasi lagi dengan Kementerian Perdagangan. Komunikasi harus terjalin jika ingin menghilangkan kartel di bawang merah,” tegasnya.

Sedangkan untuk menjaga suplai bawang merah sepanjang tahun 2016 ini agar aman, pihaknya akan mengatur jadwal tanam. Misalnya, tanam Maret untuk panen Mei. Dan bantuan juga akan diberikan kepada petani yang mau mengikuti rekomendasi pengaturan jadwal tanam pemerintah. “Karena itu, demi untuk mendukung program pemerintah ini, rencananya akan disiapkan dana Rp1,147 triliun. Dari jumlah itu, 70%-nya akan dialokasikan untuk bawang, cabai dan lainnya,” pungkas Spudnik.**NM

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id