Menu
SAJIAN ISI

Perlu Ada “Redesign” Tata Niaga Jagung

Perlu Ada “Redesign” Tata Niaga Jagung

Peran jagung telah berubah, kini ia lebih sebagai bahan baku industri dibanding sebagai bahan pangan. Jagung merupakan komponen utama dalam ransum pakan terutama dalam industri peternakan ayam. Karena itu, jika terjadi gejolak dalam industri jagung, industri ayam akan terkena imbasnya juga. Hal itu yang dibahas dalam seminar jagung nasional yang dihelat oleh Majalah Agrina di Hotel Santika TMII, Jakarta, pada April 2016.

Imaduddin Abdullah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menilai, rencana pemerintah ingin mewujudkan swasembada jagung dalam waktu empat tahun (hingga 2019) merupakan sesuatu yang ambisius. Apalagi, sejak keran impor jagung ditutup.

Menurut dia, setidaknya terdapat beberapa permasalahan pada komoditas jagung yang harus dibenahi terlebih dahulu. Di antaranya; keterbatasan teknologi, struktur pasar yang bersifat oligopolistik, manajemen pasca panen, efisiensi pemasaran dan penentuan harga, serta minimnya program kemitraan.

Namun, Winarno Tohir, Ketua Umum Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional berpendapat, kebijakan dihentikan dan dibuka keran impor untuk mengatasi gejolak harga jagung, bukan solusi yang lebih baik untuk mengatasi gejolak harga ayam. Karena selama ini sebagian besar industri pakan ternak sudah terbiasa mengimpor jagung untuk bahan baku industrinya, maka tidaklah mudah mengubah dari kebiasaan impor menjadi membeli jagung dari petani.

Tapi jika mengingat hasil prognosa bahwa neraca jagung surplus, menurutnya, kebijakan pengendalian impor ini perlu dilanjutkan. Sebaliknya, solusi jangka pendek perlu dilakukan melalui redesign tata niaga jagung lewat persiapan pasca panen.

Secara nasional, neraca jagung surplus, namun mengingat panen raya dan surplus jagung dalam jumlah besar terjadi hanya tiga bulan yaitu: Februari, Maret dan Juni, maka pemerintah, industri dan pelaku usaha perlu menyiapkan gudang gudang penyimpanan.

“Gudang penyimpanan dilengkapi dengan sarana pengering jagung (dryer), mengingat kadar air yang dibutuhkan oleh pabrik pakan sebesar 15%, sedangkan jagung petani mungkin kadar airnya lebih besar dari 15%. Hasil analisa bila jagung lokal dapat segera dikeringkan, maka jagung lokal lebih baik dari jagung impor karena kadar protein jagung lokal lebih tinggi dan kadar aflatoksinnya lebih rendah,” papar Winarno.

Terbatasnya gudang penyimpanan yang dilengkapi dryer menyebabkan jagung tidak bisa bertahan lama, lantaran pengeringan pasca panen selalu bermasalah dari dulu. Jagung surplus saat panen raya namun Indonesia tidak mempunyai dryer yang cukup besar untuk menyimpan semua jagung tersebut. Jadi pasca panen ini yang harus dibenahi terlebih dahulu.

Sedangkan di sisi lain, Bambang Sugiharto, Kasubdit Jagung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, mengungkapkan, membangun dryer kapastas silo itu tidaklah gampang. Sebenarnya program pasca panen jagung sudah dicanangkan, tapi belum mendapat restu. Sebab, anggaran Bulog untuk membangun silo belum disetujui.

“Tapi untuk solusi jangka pendek terhadap gejolak harga dan carut marut tata niaga jagung, bisa diatasi dengan kerjasama petani, Bulog dan pelaku usaha/pakan ternak. Sedangkan pemerintah berperan intervensi pasar melalui Bulog dengan membeli jagung petani untuk memperpendek rantai niaga. Selanjutnya Bulog dapat menjual jagung langsung ke industri pakan ternak,” pungkasnya. **NM

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id