Menu
SAJIAN ISI

Beras Bukan Lagi Komoditas

Beras Bukan Lagi Komoditas

Walaupun beras merupakan salah satu bahan pangan yang penting di Indonesia, namun saat ini beras tidak lagi dianggap sebagai suatu komoditas melainkan suatu branded consumer product. Perubahan pandangan konsumen ini terjadi karena beras tidak lagi dipandang sama antara satu jenis atau merek dengan jenis atau merek lainnya.

Padahal, selama ini salah satu ciri dari barang yang dikategorikan sebagai komoditas jika bisa disubstitusi secara sempurna. Artinya, bisa digantikan secara sempurna dimanapun ia berada. Lantaran sekarang hal seperti itu tidak terjadi lagi, kemudian berimplikasi pada harga yang berbeda satu sama lain, lalu juga karakteristik atau kualitas jenis yang berbeda satu sama lain.

Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi usai seminar nasional bertema “Perilaku Konsumen Beras: Implikasi terhadap Kebijakan Beras Nasional” di Balai Kartini, Jakarta, mengatakan, “Dengan melepas atau berubahnya beras dari komoditas menjadi branded consumer product maka kita tidak bisa lagi hanya sekadar berpikir peningkatan produksi. Tapi, kita sudah harus berpikir yang lebih lagi, mulai peningkatan nilai, pendapatan petani dan seterusnya.”

Dari hasil studi Perhepi terhadap perilaku konsumen beras dilakukan di 13 kota di Indonesia,  memang menunjukkan bahwa mengkonsumsi beras atau nasi merupakan hal yang sangat penting bagi para konsumen di kota-kota tersebut. Tiga belas kota tersebut meliputi Bandung, Bogor, Jember, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Denpasar, Bengkulu, Jambi, Medan, Padang dan Makassar.

Patut diketahui bahwa ada beberapa daerah yang lebih menyukai beras lokalnya, sehingga apabila pasokan beras tersebut kurang, tidak bisa digantikan dengan beras dari daerah lain karena permintaan konsumen daerah tersebut. Jadi beras tersebut tidak bisa disubstitusi.

Mengenai perilaku konsumen ini, Bayu pun memberikan suatu gambaran. Jika beras dikatakan sebagai suatu komoditas, maka seharusnya orang dari daerah mana pun misalnya Semarang, Padang atau Makassar atau daerah lain ketika diberikan satu jenis beras, maka akan menerima, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu.

Orang daerah lain misalnya Padang, Jambi dan Bandung justru memilih beras yang berbeda. Jadi karena setiap kota memiliki karakteristik beras yang berbeda maka konsumennya menginginkan karakteristik beras yang berbeda juga.

Dalam implikasi mikronya saat ini, sendainya terjadi kenaikan harga satu jenis beras pada suatu daerah, maka tidak bisa kenaikan harga tersebut diatasi dengan memasok jenis beras yang lain. Lebih lanjut Bayu menjelaskan “Kalau terjadi kenaikan beras di Padang karena Bare Solok itu kurang, tidak bisa kemudian diganti dengan beras Pandan Wangi dari Solo misalnya, meskipun di Solo melimpah jumlahnya.”

Hal ini juga menjadi penting dalam hal pengendalian inflasi. Ia pun mengungkapkan bahwa dalam situasi seperti ini maka pengendaliannya tidak bisa lagi dilakukan secara general, secara makro, jadi harus spesifik kota per kota karena memiliki karakteristik yang berbeda.

Dalam acara – yang juga dihadiri oleh Handewi P Saliem sebagai moderator diskusi dan selaku Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian, Ujang Sumarwan selaku Kepala Departemen Ilmu Konsumen dan Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB), Harianto selaku pakar agribisnis Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) IPB, Denni Puspa Purbasari selaku Deputi Kantor Staf Presiden, dan Prof. Dr. Husein Sawit selaku mantan peneliti utama Balitbangtan, Kementan – terungkap bahwa konsumen beras telah menganggap kualitas dan karakteristik beras juga menjadi satu hal yang penting sehingga konsumen memiliki kesediaan membayar yang lebih tinggi pada beras dengan kualitas dan karakteristik tertentu, baik dari segi bentuk, warna, rasa, dan jenis. ** HB

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id