Menu
SAJIAN ISI

Usulan HPP Gula Sangat Beragam

Usulan HPP Gula Sangat Beragam

Harga Patokan Petani (HPP) gula tahun 2016, yang diusulkan Kementerian Pertanian (Kementan) maupun kalangan petani tebu sangat beragam. Usulan itu berkisar dari Rp9.100 hingga Rp11.000 per kg. Seperti halnya, tahun-tahun sebelumnya, usulan kenaikan HPP gula tahun ini pun sangat beragam nominalnya. Kementan misalnya, mengklaim telah mengirimkan rekomendasi HPP gula kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) pertengahan Mei 2016 lalu, dengan besaran Rp 9.100 per kg. Angka ini naik tipis dibanding HPP gula tahun 2015 yang sebesar Rp 8.900 per kg.

Hanya memang, angka yang diajukan Kementan rupanya masih jauh dari harga gula di pasaran saat ini yang mencapai kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kg. Para spekulan dan mafia gula lebih banyak menikmati keuntungan dibandingkan para petani tebu.

Angka Rp 9.100 per kg ini, menurut Dirjen Perkebunan Kementan, Gamal Nasir, merupakan hasil survei yang dilakukan pihaknya bekerjasama dengan sejumlah universitas terkemuka di Indonesia. “Kami mempertimbangkan sisi petani dan konsumen untuk menentukan rekomendasi HPP gula ini,” ujarnya, di Jakarta, baru-baru ini.

Dengan HPP gula ini, kata dia, petani mempunyai harga acuan untuk lelang gula nantinya dan untuk konsumen kenaikan HPP sebesar Rp 200 per kg tak akan mengerek harga jual gula di pasaran secara signifikan.

Ditambahkannya, HPP gula ini sudah ideal bagi petani sehingga tak ada lagi kekhawatiran petani enggan menanam tebu karena HPP gula yang ditetapkan pemerintah lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Namun ideal menurut Gamal, bukan berarti ideal menurut petani karena terbukti harga gula menjelang bulan puasa di sejumlah tempat sudah terbang meninggalkan HPP yang akan dibuat oleh pemerintah.

Usulan pemerintah tersebut hampir sama dengan rekomendasi dari Panitia Kerja (Panja) Gula DPR yang memberikan rekomendasi agar HPP gula tahun ini bisa menyentuh harga di atas Rp 9.000 per kg. Harga tersebut tidak jauh beda dengan HPP gula tahun 2015 yang mencapai Rp8.900 per kg.

Menurut Abdul Wachid, Wakil Ketua Panja Gula dari Komisi VI DPR, rekomendasi harga ini adalah sebagai upaya untuk tetap menjaga semangat petani tebu untuk terus menanam. HPP gula sebesar Rp 9.000 per kg ideal karena selisihnya tidak terlalu jauh dengan harga gula impor yang mencapai kisaran Rp 7.500-Rp 8.000 per kg.

"Kami harap pemerintah tidak menetapkan HPP gula lebih rendah dari tahun lalu," kata Wachid.

Untuk itu, Wachid menyatakan Panja Gula DPR telah meminta PT Perkebunan Nasional (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk membeli hasil panen petani di harga minimal Rp 9.000 per kg.

Ketua APTRI, Arum Sabil mengatakan, petani tebu sudah setuju dengan HPP gula Rp 9.100 per kg seperti yang direkomendasikan Kementan. Sebab, kebijakan itu diputuskan berdasarkan hasil survei terhadap harga produksi tebu di tingkat petani dan antusias dengan harga baru tersebut. Untuk itu, ia mendesak Kemendag segera menetapkan HPP gula.

Arum menegaskan, para petani tebu sudah lama menunggu keputusan penetapan HPP gula baru. Ia mengancam jika tak segera ditetapkan sesuai rekomendasi, maka petani tebu akan turun ke Jakarta untuk menuntut Kemendag segera menetapkan HPP yang baru ini karena petani tengah masuk musim giling.

Kenaikan usulan HPP gula 2016, kata Arum, didasarkan pada biaya produksi tebu yang terus naik, sehingga HPP harus menyesuaikan kenaikan biaya. “Meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) turun, tapi komponen biaya lain justru naik. Apalagi, saat produktivitas sedang turun seperti sekarang, tanaman membutuhkan biaya perawatan yang lebih besar,” paparnya.

Ia juga memproyeksikan produktivitas tebu petani tahun ini menyusut akibat dampak El Nino tahun lalu. “Produktivitas hanya sekitar 80 ton per hektar. Dengan asumsi lahan tebu seluas 475.000 hektar maka produksi tebu bisa mencapai sebesar 38 juta ton.,” kata pria asal Jember tersebut.

Namun, Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) tak setuju dengan usulan HPP gula yang disampaikan Kementan tersebut. Organisasi yang mewadahi petani tebu ini menilai HPP gula versi Kementan tersebut terlalu murah.

Sekjen DPN APTRI Nur Khabsyin berpendapat, HPP gula yang pantas saat ini adalah sebesar Rp10.600 per kg. “Biaya-biaya sekarang sudah naik, contohnya biaya garap dan transportasi, serta biaya tebang dan angkut,”ujar Nur.

Menurut dia, para petani tebu berharap agar menteri perdagangan bisa menetapkan HPP gula mendasarkan pada biaya pokok produksi (BPP) serta ditambah keuntungan bagi petani. Tidak seperti pada tahun 2014, HPP gula ditetapkan hanya Rp 8.500/kg, sementara BPP pada tahun 2014 sebesar Rp 8.791/kg.

“Jadi tahun lalu, HPP malah di bawah BPP, sungguh ironis. Seharusnya mendag mempertimbangkan HPP berdasarkan BPP, bukan harga gula luar negeri,” kata Nur lagi.

Nur Khabsyin juga mengatakan bahwa saat ini HPP gula tahun 2016 belum ditetapkan, sehingga petani belum ada kepastian dalam menghitung hasil minimal pendapatan pada saat panen.

"Kami juga meminta supaya penjualan gula milik petani tetap dilaksanakan oleh petani sendiri seperti pada tahun-tahun sebelumnya mengingat saat ini harga gula sangat tinggi yang mencapai Rp15 ribu per kilogramnya," pintanya.

Petani tebu di Majalengka minta pemerintah segera menetapkan HPP gula yang hingga saat ini belum juga diterbitkan. Padahal musim giling sudah dimulai bahkan tebu milik perusahaan PG Jatitujuh rencananya mulai giling Jumat 20 Mei 2016.

Kini pihak ketiga dan PG Jatitujuh pun belum berencana menetapkan harga lelang gula milik petani diduga lantaran belum turunnya HPP gula untuk petani dari pemerintah.

Para petani juga berharap, HPP gula tahun ini minimal bisa mencapai Rp 11.000 per kg karena tahun lalu HPP gula sudah mencapai Rp 8.900 per kg. Bila penetapan HPP gula sebesar Rp 11.000 maka petani tidak akan terlalu dirugikan. Selain itu, harga tidak begitu jauh berbeda dengan harga tahun lalu karena kenaikannya hanya Rp 1.100. apalagi, HPP gula kan setiap tahun selalu mengalami kenaikan seiring harga gula impor yang juga tinggi mencapai Rp 7.500 hingga Rp 8.000 per kg.

“Tahun lalu HPP gula yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 8.900. Tahun ini, kami berharap pemerintah tidak menurunkan HPP gula namun justru menaikannya agar petani tebu lebih semangan untuk menanam,” ungkap Rohim, petani tebu di Majalengka, Jawa Barat, yang kini menanam lebih dari 12 ha itu.

Bila HPP rendah atau harga lelang rendah, menurut Hidayat dan Aan petani tebu lainnya, petani akan sangat dirugikan terkait biaya produksi yang sangat mahal. Apalagi, bila rendemen tebu nanti juga rendah, maka petani akan semakin rugi.

"Tahun kemarin, harga lelang gula hanya mencapai Rp 8.500 per kg sedangkan tahun 2014 lebih mahal Rp 500 atau sebesar Rp 9.000 per kg. Kalau harga lelang tinggi namun rendemen rendah juga petani tetap akan rugi.” ungkap Hidayat.

Mereka menjelaskan, saat ini harga sewa lahan untuk perkebunan tebu untuk tanah tegalan sudah mencapai Rp 5.000.000 per ha. Padahal, tahun sebelumnya hanya Rp 3.000.000 per ha. Untuk lahan pengairan teknis, sewa lahan telah mencapai kisaran Rp 10.000.000 hingga Rp12.000.000 per ha, padahal musim tanam sebelumnya hanya Rp 8.000.000 per ha.

Tak heran bila banyak petani yang mengurangi jumlah areal tanam tebunya. Terlebih, musim tanam kemarin pemerintah tidak memberikan bantuan kredit untuk biaya tanam ataupun untuk pemupukan. Padahal, biaya tanam dan pemeliharaan cukup tinggi. Tahun ini jumlah areal tanaman tebu milik petani hanya mencapai 500 hektar turun 300 hektar dibanding tahun 2015 lalu yang mencapai luas 800 hektar.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan mengatakan, petani tebu menunggu terbitnya surat keputusan HPP gula tahun ini. Kenaikan HPP gula dari Rp 8.900 menjadi Rp 9.100 per kg dinilai akan meningkatkan kesejahteraan petani gula.

Kendatipun HPP naik, Agus menilai tidak ada kenaikan harga yang signifikan di tingkat  konsumen. Harga masih akan terjaga dan sesuai harapan pemerintah. "Saya rasa harga tidak akan naik di konsumen. Mudah-mudahan akan Rp 11 ribu per kilogram atau Rp 12 ribu per kilogram," ujar Agus, di Jakarta, belum lama ini.
.
Menurut dia, HPP gula merupakan salah satu cara pemerintah menjaga harga di tingkat petani. Naiknya HPP di tengah kenaikan bahan pangan dinilai mampu membantu petani. "HPP untuk menjaga harga di tingkat petani, makanya petani sangat menunggu surat keputusan pemerintah ini," kata Agus.
Di tempat terpisah, Sekjen Kementerian Perdagangan (Kemendag), Srie Agustina mengatakan, masih belum menanggapi permintaan terkait penetapan HPP gula. Saat ini pemerintah sedang berupaya menstabilkan harga gula sampai di pasar.

"Kami menjaga harga supaya tidak lebih dari Rp 11.500 per kilogram di seluruh Pulau Jawa. Sementara untuk harga gula di luar Pulau Jawa paling banter Rp 12.000 per kilogram," kata Srie.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), M Maulana, kenaikan HPP gula tidak akan berpengaruh kepada harga gula di tingkat konsumen. "Kenaikan di HPP gula, saya rasa sepanjang catatan kami tidak berpengaruh kepada harga di tingkat konsumen," tegasnya.

Kenaikan harga gula, lanjut dia, diakibatkan oleh indikasi adanya penahanan stok oleh distributor di lapangan. Tidak hanya dikarenakan belum tibanya musim panen tebu. Tapi, hal ini juga karena ada indikasi distributor yang menaikkan harga.  

Yang jelas, sampai laporan utama ini diturunkan Sabtu, 28 Mei 2016, besaran HPP gula 2016 belum juga diumumkan atau ditetapkan oleh Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Padahal, HPP gula tahun 2015 ditetapkan mendag pada 12 Mei 2015, bahkan HPP gula tahun 2014 ditetapkan mendag pada 5 Mei 2014. ***AP, SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id