Menu
SAJIAN ISI

Derom Bangun, Ketua Umum DMSI : Tahun ini Industri Sawit Menghadapi Tahun Berat

Derom Bangun Derom Bangun

Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memprediksikan kemorostan harga CPO yang terjadi selama semester I tahun 2014 masih akan berlanjut.  Harga diproyeksikan baru akan naik menjelang akhir tahun.  Tahun ini boleh jadi merupakan tahun berat yang dihadapi pelaku industri kelapa sawit di Indonesia. Pasalnya, tidak saja harga minyak sawit kasar (CPO/crude palm oil) yang sepanjang semester I tahun 2014 ini merosot, dan masih akan berlanjut terus merosot, stok CPO diprediksikan bakal melonjak.  

Dewan Minyak Sawit Indonesia memprediksi kemerosotan harga CPO yang terjadi selama semester I 2014, masih akan berlanjut. DMSI sebagaimana dikemukakan Derom Bangun, ketua umumnya baru akan terkerek pada akhir tahun ini.

Derom juga memprediksi produksi CPO Indonesia sepanjang tahun ini sebanyak 29,5 juta ton.
Sementara, CPO yang terserap di pasar ekspor paling hanya sebanyak 19,5 juta ton. Sisanya, sekira 7 juta ton digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan 3 juta ton lainnya bakal jadi barang tumpukan.

"Kalau pada tahun lalu produksi kita 27,7 juta ton, dan yang diekspor 21,3 juta ton, stok sisa 2,1 juta ton. Pada tahun ini, produksi melimpah tapi kinerja ekspor terutama ke India merosot karena  permintaan juga turun sehingga harga pun ikut menurun. Pada September 2014 belum akan naik harga CPO, paling baru November atau Desember 2014," paparnya, medio Agustus kemarin.  Dia menambahkan, harga terendah CPO bukan tak mungkin akan menyentuh US$730-750 per ton sebelum akhir tahun ini.

Merosotnya harga CPO tersebut, lanjut dia, disebabkan lesunya permintaan dari negara-negara pengimpor CPO seperti India, Amerika dan Uni Eropa. Bahkan pada triwulan I tahun ini saja, total ekspor CPO ke India hanya mencapai 478.000 ton atau turun 58% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,137 juta ton.

Selain itu, ekspor minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) ke India juga menurun dari 68.169 ton pada kuartal I/2013 menjadi hanya 22.000 ton pada kuartal I/2014.

"Penurunan ekspor ke India berpengaruh sangat signifikan. Mereka juga bahkan mengurangi impor asal Malaysia. Sebelumnya mereka mengimpor 85% minyak sawit, dan 15% minyak kedelai dan bunga matahari. Saat ini impor minyak sawit hanya 65-70%," jelas Derom.

Selama ini India menjadi tujuan ekspor utama CPO dan produk turunannya asal Indonesia. Sepanjang kuartal I tahun 2014, DMSI mencatat permintaan dari India lesu. Selain India, tujuan utama ekspor CPO Indonesia yakni Cina dan juga negara-negara Eropa meliputi Belanda, Jerman, dan Italia, serta Amerika Serikat.

Derom menambahkan, peningkatan harga dalam waktu dekat hanya dapat dicapai jika terjadi perubahan regulasi terkait bea keluar di Indonesia atau bea masuk dari India. Selain akibat merosotnya permintaan asal India, belum maksimalnya penyerapan produksi dalam negeri melalui biodiesel juga menjadi penyebab penurunan harga komoditas ini.

Terlebih, lanjut Ketua Umum DMSI periode 2012-2015 ini, kuartal III 2014 merupakan saat panen kedelai dan bunga matahari. Minyak kedelai dan bunga matahari saat ini dilirik menjadi substitusi minyak sawit produksi Indonesia.

Di penghujung 2013 lalu, pria kelahiran Desa Payung, Karo 16 Juni 1940 ini dalam sebuah kesempatan pernah memprediksikan bahwa tahun 2014 merupakan tahun berat buat sawit Indonesia. Sebab, black campaign (kampanye hitam) masih terus "menghantui" sawit Indonesia. Apalagi ada peraturan baru di Uni Eropa tentang provisi informasi makanan kepada konsumen yang disetujui oleh Dewan UE (Council of EU) pada 29 September 2011 lalu.

Peraturan baru yang akan diberlakukan per 13 September 2014 nanti mewajibkan semua jenis minyak nabati (vegetable oil) yang dipergunakan dalam produk makanan dicantumkan secara tersendiri pada labelnya. Selain itu, Inggris juga telah menyatakan bahwa mulai tahun 2015 nanti hanya akan membeli sawit yang bersertifikat dan manifesto sawit di Swedia. Bahkan di Perancis dan Jerman, kampanye hitam sawit masih terus bergulir.

"Hal-hal itu yang akhirnya membuat ekspor sawit terganggu. Karena itu menghadapi 2014 nanti, banyak usaha serta upaya yang harus dilakukan Indonesia, agar ada pengakuan dari dunia. Salah satunya dengan perbaikan praktek kerja untuk menghindari hal-hal yang mengundang kritik sekaligus mematuhi Good Agriculture Practice (GAP) sejalan dengan prinsip ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil)," kata Derom.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id