Menu
SAJIAN ISI

Malaysia Fokus di Sawit China Akan Garap Pupuk Featured

Malaysia Fokus di Sawit China Akan Garap Pupuk

Malaysia akan tetap fokus mengembangkan perkebunan sawitnya di lahan gambut. Sementara China tengah merintis pengembangan industri pupuk yang menggunakan bahan baku gambut. Amar Abdul Hamed bin Haji Sepawi, Chairman Sarawak Oil Palm Plantation Owners Association mengungkapkan, gambut termasuk jenis lahan yang dapat menjadi media tanam. Memang dulu, kegiatan budidaya di lahan gambut sulit dilakukan karena teknologi yang membantunya belum ada. “Tapi sekarang, sudah ada teknologi yang bisa membantu pemanfaatan gambut bagi kegiatan perekonomian,” tegasnya.

Menurut dia, sebelum adanya teknologi, tanaman yang diusahakan di areal gambut akan miring bahkan ambruk pertumbuhannya. Sekarang ini, masalah tersebut sudah teratasi dengan pengairan yang bagus dan teknologi pemadatan gambut, sehingga gambut layak ditanami.

“Pengelolaan gambut sebaiknya di tangan industri. Dengan begitu dapat dijalankan tata kelola penanaman gambut yang baik dan berkelanjutan. Ini juga berlaku kepada komoditas lain,” kata Sepawi.

Dalam presentasi yang berjudul “Menanam Kelapa Sawit di Lahan Gambut: Pengalaman, Tantangan, dan Peluang”, Sepawi menegaskan tidak ada alasan bagi negara lain untuk takut menanam kelapa sawit di lahan gambut.

“Kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling murah jika dibandingkan dengan minyak nabati lainnya,” tandasnya.

Pengembangan perkebunan kelapa sawit, ujar dia, juga berperan besar dalam menyerap gas karbondioksida ke dalam bentuk karbon yang padat yang bisa dimanfaatkan sebagai biomassa. Dan ini akan mendukung keberlanjutan dari minyak nabati yang dihasilkan. “Kami telah menjadi pelopor pengembangan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut.”

Sepawi menjelaskan sejumlah isu dan tantangan yang dihadapi ketika kali pertama mengembangkan kelapa sawit di lahan gambut. Salah satu tantangan itu adalah bahwa kebun kelapa sawit tersebut harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh MSPO (Malaysian Sustainable Palm Oil) dan kriteria keberlanjutan lainnya.

“Tentu saja diperlukan teknik dan inovasi yang ilmiah untuk mengubah kondisi lahan gambut yang tidak kondusif menjadi sebuah areal untuk pengembangan budidaya, dalam hal ini perkebunan kelapa sawit,” paparnya.

Meski pada tahap awal sulit, namun dengan inovasi yang dilakukan, produktivitas tanaman kelapa sawit di lahan gambut Serawak bisa meningkat dari 12 ton tandan buah segar (TBS) per hektar per tahun menjadi 30 ton per hektar per tahun. “Sekarang semua kerja keras yang kami lakukan membuahkan hasil yang sangat baik. Dan Serawak menjadi contoh sukses pengembangan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut,” kata Sepawi yang juga menjadi salah satu pimpinan di Ta Ann Holding Berhad.

Namun, ketika secara teknis ilmiah pengembangan sawit di lahan gambut sukses, tantangan lain datang. “Tantangan baru itu adalah maraknya kritik dan serangan dari sejumlah LSM asing yang mengusung kepentingan minyak nabati dari Eropa yang semakin sulit bersaing dengan minyak sawit,” katanya.

Sepawi mengatakan, serangan dan kampanye negatif terhadap kelapa sawit terutama perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, tak ubah seperti cara-cara negara kolonial Belanda ketika ingin menguasai perdagangan di daerah jajahannya di Maluku. Serangan terhadap kelapa sawit dengan menggunakan LSM tak ubahnya sikap penjajah di zaman kolonial dahulu. “Dalam konteks ini, seharusnya para produsen minyak nabati bersatu untuk memenuhi kebutuhan dunia, bukan malah menyerang kelapa sawit,” tukasnya.

Pemanfaatan Gambut di China
Negara seperti Tiongkok bahkan menyatakan niatan untuk membangun industri gambut terbesar di dunia. Negeri Tirai Bambu ini berkeinginan menggunakan gambut sebagai bahan baku industri pupuk berbasis organik.

Seperti dijelaskan Xiancheng Zeng, perwakilan dari China Humic Acid Industry Association, ada sejumlah pertimbangan dalam pemanfaatan gambut ini. Pertama, aspek konomi. Gambut digunakan oleh Pemerintah China menjadi salah satu basis industri di China.

"Salah satu yang akan dikembangkan yakni pabrik pupuk berbasis organik, termasuk dari gambut," kata Xiancheng dalam presentasi berjudul "Masa Depan Industri Gambut di China".

Aspek kedua adalah sosial karena pemerintah Tiongkok saat ini mengizinkan dua anak per pasangan dari sebelumnya hanya 1 anak. Diperkirakan total populasi China akan bertambah dari 1,2 miliar menjadi 1,6 miliar jiwa dalam beberapa tahun mendatang. Oleh sebab itu, China perlu kebutuhan dasar untuk makanan sehingga mereka harus menggunakan semua sumber daya yang ada, termasuk lahan gambut.

Aspek ketiga, yakni alasan lingkungan. "Dengan mengembangkan industri berbasis gambut, diharapkan akan membangun industri yang lebih ramah lingkungan. Ini penting untuk mengharmonisasi kehidupan di China," ujar Zeng.

Pemerintah China akan mengembangkan industri berbasis gambut salah satunya industri pupuk. Dalam satu tahun, China menargetkan produksi 1,5 juta m3 pupuk berbasis gambut. Sebagian besar atau 90% dialokasikan untuk kebutuhan pertanian.

Dengan kapasitas produksi 1,5 juta ton per tahun, dalam 5 tahun ke depan, China diprediksi mampu meraih pendapatan hingga 230 miliar Yuan.

“Kami percaya, industri pupuk berbasis gambut akan menjadi industri masa depan bagi China. Kegiatan yang melibatkan industri kecil dan menengah itu lebih kompetitif dan ramah lingkungan dibandingkan pupuk kimia karena gambut kaya kandungan bahan organik,” kata Zeng lagi.

Menurut dia, ide pembuatan pupuk gambut terinspirasi dalam pemanfataan gambut di Belanda untuk pemuliaan tanaman dan budidaya pada abad ke 19. “Sebenarnya, kami tertinggal dalam pemanfaatan gambut dibandingkan dengan banyak negara di Eropa. Untuk mengejar ketertinggalan itu, kami akan mengembangkan industri ramah lingkungan yang lebih beradab.”

Zeng menambahkan, “pupuk berbasus gambut tersebut bisa diaplikasikan pada industri perkebunan, padi, perkebunan strawberry serta penanaman pohon untuk kepentingan hutan tanaman industri.” SH, AP

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id