Menu
SAJIAN ISI

Opini Keliru, Pemanfaatan Gambut Merusak Lingkungan Featured

Opini Keliru, Pemanfaatan Gambut Merusak Lingkungan

Ketua Malaysian Palm Oil Council (MPOC) Kalyana Sundram mengungkapkan, saat ini muncul anggapan keliru di tengah masyarakat bahwa pemanfaatan gambut untuk budidaya adalah sumber kerusakan lingkungan. “Ini harus diluruskan,” tegasnya. Kongres Gambut Internasional atau International Peat Congress ke-15 yang digelar di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 15-19 Agustus 2016, bisa dibilang cukup fenomenal. Pasalnya, baru pertama kali inilah perhelatan akbar yang dihadiri sekitar 800 peserta dari 32 negara tersebut, digelar di Asia.

Sejak diselenggarakan kali pertama tahun 1954, pertemuan para ahli gambut dunia setiap 4 tahun sekali itu selalu diadakan di Eropa atau Amerika. Untuk tahun 2016, kongres tersebut dimotori oleh Malaysian Peat Society (MPS) yang bekerja sama dengan International Peatland Society (IPS).      

Kongres ini mempertemukan para ahli di bidang lahan gambut, akademisi dan pelaku usaha kelapa sawit untuk membahas presentasi dan berbagi pengalaman terkait pemanfaatan dan pengelolaan lahan gambut di daerah tropis.

Harapannya, peserta kongres mendapatkan banyak manfaat dari kongres tersebut. Sebab, kongres ini akan menghubungkan bisnis, praktisi, peneliti dan pembuat kebijakan melalui praktik-praktik kerja yang baik, solusi bisnis, hasil ilmiah dan inisiatif dunia internasional yang meningkatkan pengelolaan gambut dan industri.

Ketua Malaysian Palm Oil Council (MPOC) Kalyana Sundram yang tampil sebagai pembicara pada hari kedua kongres tersebut mengemukakan, ada anggapan keliru di tengah masyarakat bahwa lahan gambut hanya ada di negara tropis. Padahal, negara subtropis juga memiliki lahan gambut yang dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi.

"Kalau pengelolaan lahan gambut untuk budidaya disalahkan, maka negara-negara subtropis seperti Eropa juga harus disalahkan," tukasnya.

Karena itulah, lanjut Sundram, menjadi pekerjaan rumah besar bagi para ilmuwan untuk  mengkomunikasikan dengan benar bahwa pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya memberikan dampak positif bagi ekonomi, ekologi, dan biodiversiti. "Saat ini, kesannya pemanfaatan gambut untuk budidaya adalah sumber kerusakan lingkungan. Ini yang harus segera diluruskan,” tegasnya.

Dikatakannya, lahan gambut adalah salah satu sumber daya alam yang sejak awal sejarah kehidupan manusia sudah dikelola dan dimanfaatkan. Pemanfaatan lahan gambut selain sebagai bahan bakar, juga untuk kegiatan budidaya perkebunan maupun hutan tanaman.

Kehidupan manusia membutuhkan pemanfaatan sumber daya alam, baik yang bisa diperbarui maupun yang tidak bisa diperbarui. Keduanya harus dimanfaatkan dengan optimal dan berkelanjutan.

Lahan gambut juga memiliki peran ekologis vital untuk mendukung biodiversitas dan berfungsi sebagai penyimpan karbon. Namun harus diakui, jika pemanfaatan sumber daya alam seperti gambut tidak dikelola dengan baik, maka akan berpotensi merusak lingkungan.

"Inilah tantangan besar komunikasi terkait lahan gambut. Saat ini, karena komunikasi yang lemah, lahan gambut jadi objek tudingan penyebab deforestasi dan meningkatnya emisi gas rumah kaca," kata Sundram lagi.

Dalam pengamatannya, informasi mengenai lahan gambut yang sampai di ranah publik sejauh ini tidak berimbang. Ironinya, banyak ilmuwan yang juga ikut menyudutkan. "Jadi kesannya, gambut hanya isu negara-negara tropis. Ilmuwan tidak menyampaikan gambaran yang objektif terkait gambut tersebut.”  

Kritik terhadap ilmuwan disampaikan Sundram terutama terkait sikap Eropa yang sesungguhnya juga telah mengeksplotasi lahan gambut untuk kepentingan ekonomi, baik sebagai briket, lahan pertanian, hutan tanaman, dan holtikultur. "Ini adalah sektor-sektor ekonomi penting di Eropa. Mereka melindungi sektor ekonominya, tetapi dengan menyerang sektor ekonomi wilayah lain,” papar dia.

Di Asia Hanya 8% dari Dunia
Padahal, menurut data termutakhir,  luas lahan gambut tropis ternyata hanya 8% dari total lahan gambut di dunia yang diprediksi mencapai area seluas 400 juta hektar. Sebanyak 60% lahan gambut tropis berada di Asia Tenggara. Di Indonesia, terdapat 11,5 juta hektar lahan gambut, sementara di Malaysia sekitar 7 juta hektar.

Lulie Melling, Presiden Direktur International Peatland Society (IPS) yang sekaligus juga Direktur Tropical Peat Reseach Laboratory (TRRL) dalam Kongres Gambut Internasional tersebut, menekankan pentingnya industri dan masyarakat di negara-negara dunia melestarikan lingkungan lahan gambut.

Sebab, lanjut dia, sekalipun ada peningkatan penelitian dan pemahaman terkait lahan gambut tropis, kondisi pengelolaan lahan gambut tropis masih minim dibandingkan lahan gambut iklim sedang dan lahan gambut boreal yang banyak terdapat di Utara Rusia dan Kanada.

"Lahan gambut tropis telah menderita dari 'Cinderella Syndrome', tidak diketahui dan karena itu tidak dicintai. Namun, sekarang salah satu perbatasan terakhir dari lahan yang tersedia untuk pembangunan pertanian," kata Lulie.

Chief Minister of Sarawak Malaysia, Datuk Patinggi Tan Sri Haji Adenan bin Haji Satem yang membuka kongres ini menjelaskan, tujuan dari Kongres Gambut Internasional kali ini adalah memberikan inspirasi, menyediakan landasan untuk jaringan, berbagi ilmu pengetahuan, dan pengalaman yang dibutuhkan guna mempromosikan pembangunan lahan gambut.

Tan Sri Adenan selaku Pelindung Kongres Gambut Internasional ke-15 menambahkan, sangat perlu bagi negara-negara di dunia untuk belajar satu sama lain. “Kalangan akademisi, pelaku industri dan pengambil kebijakan harus mendukung dan berkolaborasi satu sama lain serta tidak beroperasi dalam isolasi,” tegasnya.

Menurut dia, momentum kongres gambut internasional sangat pas diadakan di kawasan Asia untuk pertama kalinya. Hal ini memungkinkan dunia, khususnya di luar Asia Tenggara, untuk mempelajari dan memahami lahan gambut tropis.

“Ini adalah sangat penting, sebagai lahan basah tropis masih kurang diteliti dan didokumentasikan secara optimal, jika dibandingkan dengan lahan gambut beriklim sedang dan gambut boreal yang telah dihitung dengan baik dan diklasifikasikan, " papar dia.

‘Open Access’ Rawan Kebakar  
Dalam kongres ini hadir perwakilan Indonesia seperti Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono bersama kalangan akademisi seperti Prof. Supiandi Sabiham, Ketua Himpunan Gambut Indonesia dan Dr. Basuki Sumawinata, Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Joko Supriyono menolak tuduhan yang mengaitkan kebakaran lahan gambut dengan  perkebunan kelapa sawit. Data menunjukkan sekitar 61% kebakaran lahan di Riau pada tahun lalu, berada di area gambut yang masuk kawasan moratorium. Penyebabnya, lantaran tidak ada pengawasan dan pengelolaan gambut dengan baik.

Lain halnya dengan perkebunan sawit yang berada di lahan gambut mampu menekan terjadinya kebakaran lahan. Menurut Joko, kebakaran lahan tidak akan terjadi apabila menjalankan manajemen benar dan ada pengelolanya.

Prof. Supiandi Sabiham dari Institut Pertanian Bogor, dan pakar gambut Indonesia mengatakan, salah satu solusi untuk mereduksi kebakaran lahan gambut adalah adanya upaya dari pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Dengan begitu, semuanya memikirkan untuk mereduksi masalah kebakaran hutan.

Mungkin juga dibutuhkan subsidi untuk mereduksi kebakaran hutan. Sebab, terkadang juga masyarakat atau perusahaan kekurangan uang untuk memadamkan api atau mengantisipasi kebakaran lahan.

Antisipasi lain yakni dari sisi regulasi. Sebab, masih ada regulasi di daerah yang membolehkan pemilik ladang dengan luas dua hektar untuk membakar ladangnya. "Ini yang harus dikontrol," tukas Supiandi.

Senada dengan Joko, Basuki Sumawinata, pakar gambut dari IPB menjelaskan peluang terjadinya kebakaran lahan gambut di Indonesia lebih besar pada kawasan 'tidak bertuan' (open access). Sering terjadi, kawasan gambut yang tidak dikelola menjadi pemantik kebakaran terutama kawasan yang berbatasan dengan perkebunan

"Kalau lahan gambut yang dimanfaatkan bagi perkebunan dan HTI, tingkat kebakaran dapat ditekan karena di situ ada perusahaan serta masyarakat yang menjaganya," kata Basuki, menekankan.

Untuk itu, Basuki berharap pemerintah Indonesia tidak menutup mata dengan teknologi pemanfaatan dan pengelolaan gambut yang sudah berjalan di negara lain. Tidak semua lahan gambut harus berfungsi konservasi karena ada pula karakter tanah gambut yang cocok untuk kegiatan budidaya. Negara seperti Tiongkok, Malaysia dan Eropa memanfaatkan gambut bagi perekonomian mereka.

Sejauh ini, lanjut dia, kegiatan pertanian serta perkebunan di lahan gambut sudah memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan kepada perekonomian negara dan masyarakat. Itu pula sebabnya, kegiatan budidaya di lahan gambut sebaiknya tidak dihentikan begitu saja.

Dengan luas lahan gambut mencapai 15 juta hektar, sesungguhnya pemanfaatan gambut untuk pertanian tradisional di Sumatera dan Kalimantan telah berjalan turun temurun. Selanjutnya, penggunaan gambut bagi usaha pertanian juga berkembang di sektor usaha perkebunan dan hutan tanaman industri.

“Tidak semua pengelolaan kegiatan di lahan gambut berhasil. Justru, kita harus belajar dari kesuksesan daerah maupun negara lain yang sukses mengelola gambut,” kata Basuki, menandaskan.

Tuduhan yang mengaitkan kebakaran lahan dengan penggunaan lahan gambut tidaklah tepat. Sebab, kata dia, proses kebakaran dapat terjadi karena faktor sumber api, bahan yang mudah terbakar, dan lingkungan.

Di seluruh dunia, luas gambut dunia diperkirakan sekitar 400 juta hektar. Sebaran gambut terbesar di negara Eropa seperti Rusia, Skandinavia (Norwegia, Swedia, Finlandia), Irlandia, Polandia, Jerman utara, Belanda. Selain, berada di Amerika Serikat serta Kanada.

Bagi negara Eropa, gambut digunakan sebagai bahan untuk memasak dan pemanas rumah tangga.  Basuki mengatakan, sekitar 60% lahan basah di dunia adalah gambut dan sekitar 7% dari lahan-lahan gambut itu telah dibuka dan dimanfaatkan untuk bahan bakar, pertanian dan kehutananan.  *** SH, AP

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id