Menu
SAJIAN ISI

Seharusnya Harga Cabai Saat Ini Tidak Meroket

Seharusnya Harga Cabai Saat Ini Tidak Meroket

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono mengakui bahwa produksi cabai pada bulan November-Desember memang sedikit terganggu akibat La Nina sehingga proses panen cabai tidak dapat dilakukan tepat waktu.

 “Pada situasi November-Desember 2016 itu memang agak terganggu panennya. Sekali lagi yang saya ingin pertegas bahwa La Nina memang berpengaruh. Pengaruhnya adalah proses pematangan fotosintesisnya tidak bisa optimal sehingga dia menjadi tertunda waktu panen,” ungkap Spudnik, saat menggelar konferensi pers di Gedung Ditjen Tanaman Hortikultura, Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjut dia, para tenaga kerja pemanen juga tidak mungkin melakukan pemanenan pada saat musim hujan. Perlu diketahui bahwa cabai merupakan produk hortikultura yang mudah mengalami kerusakan. Karena itu, waktu panen cabai menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Cabai tidak bisa dipanen saat sedang hujan. Hal ini dikarenakan akan meningkatkan kadar air pada cabai sehingga dapat mempercepat proses pembusukan. Tentunya hal ini akan sangat merugikan petani hingga akhirnya banyak petani yang lebih memilih untuk menunda memanen cabainya.

Meski begitu, sebenarnya hal ini tidak bisa dijadikan alasan terkait ketersediaan pasokan cabai yang menyebabkan harga melejit sampai angka Rp 90.000 per kilogram. Pihak Kementan menyebutkan bahwa untuk bulan Desember 2016 telah diperkirakan cabai mengalami surplus sehingga mestinya harga cabai tetap dalam kisaran sewajarnya yakni antara Rp 20.000-Rp 30.000 per kilogram.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kebutuhan cabai besar pada bulan Desember diprediksi sebanyak 76.472 ton akan terpenuhi dengan ketersediaan sebanyak 84.684 ton bahkan surplus 8.121 ton. Begitu juga dengan cabai rawit yang diperkirakan juga mengalami surplus sebanyak 4.164 ton karena kebutuhan hanya sebanyak 54.346 ton sedangkan ketersediaan mencapai 58.510 ton.

Merujuk data pasokan dan harga di Pasar Induk Cibitung dan Pasar Induk Kramat Jati, seharusnya berdasarkan teori supply and demand tidak akan terjadi kenaikan harga yang signifikan karena pasokan di kedua tempat tersebut terbilang cukup. Second hand pun ditengarai sebagai penyebab fluktuasi harga cabai ini.

“Teori supply and demand tidak terjawab di sini, di posisi Pasar Cibitung maupun pasar Induk Kramat Jati. Berarti ada second hand yang bisa menentukan harga di situ. Tidak cukup teori supply and demand, tetap ada second hand yang menentukan harga,” tegasnya lagi.

Kata Spudnik, ketika sudah memasuki tingkat eceran, hukum pasar free market lah yang justru berlaku. Pada free market ini tidak ada yang bisa mengontrol harga. Meskipun telah di terbitkannya aturan Permendag No.63/M-DAG/PER/09/2016. Dalam peraturan ini, pemerintah secara resmi telah menetapkan harga acuan pembelian cabai di tingkat petani (harga batas bawah) dan harga acuan penjualan cabai di tingkat konsumen (harga batas atas).

Meski harga referensi ini nantinya juga akan dievaluasi selama jangka waktu tertentu dengan memperhatikan tren permintaan dan penawaran bahan pangan di pasar, namun untuk menjaga kestabilan tidak cukup hanya dengan membuat harga acuan saja.

Menurut Spudnik, peraturan tersebut tidak akan dipatuhi para pedagang di tingkat ritel. Pasalnya, tidak ada sanksi hukum apabila pedagang menjual di atas harga referensi tersebut. Ia pun mencontohkan negara Malaysia yang memiliki otoritas khusus untuk mengawasi dan mengontrol harga di pasar yang telah menerapkan sanksi kepada para pedagang yang menjual di atas harga yang telah ditetapkan pemerintah Malaysia. ***HB

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id