Menu
SAJIAN ISI

Prediksi Pergerakan Harga Sejumlah Komoditas Strategis

Prediksi Pergerakan Harga Sejumlah Komoditas Strategis

Harga sejumlah komoditas strategis perkebunan, seperti sawit, kakao, karet dan tebu (gula) di pasar internasional diproyeksikan bakal membaik pada tahun 2017. Namun, dari keempat komoditas itu, hanya sawit yang punya kans besar mengalami kenaikan harga yang relatif bagus. Para pakar minyak nabati dunia seolah sepakat bahwa harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) memasuki tahun 2017 ini, akan mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun 2016 lalu.  

Dalam analisa Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Fadhil Hasan, banyak faktor yang akan berpengaruh terhadap kenaikan harga CPO tersebut terutama pada awal tahun 2017. Harga CPO tahun 2016 ini sebenarnya relatif stabil, setelah pada 2015 lalu harga CPO pernah mengalami masa suram.

Tapi, untuk tahun 2017, diperkirakan harga CPO akan sedikit perkasa.  "Harga akan relatif stabil pada akhir tahun 2016, dan akan meningkat pada semester pertama 2017," kata dia.

Fadhil menjelaskan, pada 2015 harga CPO menyentuh angka terendah dari sebelumnya US$831 per metrik ton menjadi US$629 per ton. Pada 2016, akibat berkurangnya pasokan CPO karena El Nino diperkirakan harga rata-rata berkisar US$670 per ton.

Meskipun harga CPO diproyeksikan mengalami kenaikan pada semester I-2017, namun, akan ada tekanan terhadap harga pada semester II. Tekanan tersebut disebabkan adanya kenaikan jumlah produksi CPO yang diperkirakan mencapai 33-35 juta ton sepanjang tahun tersebut.

Tekanan terhadap harga CPO pada semester II 2017 tersebut, masih akan ditopang adanya program mandatori biodiesel B20. Pada 2016 ditargetkan penyerapan biodiesel sebesar 3 juta kiloliter, sementara tercatat hingga Oktober, serapan mencapai 2,14 juta kiloliter.

 “Pemerintah Indonesia akan mengenakan program B20 untuk non-PSO, jadi konsumsi dalam negeri akan meningkat. Sementara itu, Malaysia akan menerapkan B10,” katanya lagi.

Gapki memprediksikan bahwa harga CPO pada tahun 2017 dalam kisaran  US$ 680-690 per ton (CIF Rotterdam). Harga tersebut meningkat dibandingkan bulan Januari-Oktober 2016 yang hanya sebesar US$ 660 per ton.

Kenaikan tersebut terjadi pada semester pertama tahun 2017 karena produksi TBS (Tandan Buah Segar) masih belum kembali normal sebagai dampak dari El Nino. Namun, usai puncak produksi diprediksi harga CPO akan turun.

"Menurut saya harga akan relatif stabil dan meningkat pada semeter I tahun depan, tapi setelah puncak produksi tiba, harga akan turun, estimasinya rata-rata 2017 dalam kisaran US$680-690 per ton CIF roterdeam," kata Fadhil.
Soal kenaikan harga CPO tahun 2017, Market Analyst and Co Editor dari ISTA MIELKE GmbH, Siegfried Falk justru lebih optimistis. Menurutnya, pada bulan Januari-Maret 2017 rata-rata harga akan meningkat hingga US$ 800 per ton. Namun, angka tersebut adalah angka tertinggi sebelum turun jauh meninggalkan US$ 800 per ton.

"Harga CPO di Rotterdam akan naik rata-rata sekitar US$ 800 per ton, kemungkinan besar di kuartal Januari-Maret 2017, ini rata-rata harga sementara sebelum harga CPO turun jauh meninggalkan US$ 800/ton," ungkap Falk.  

Ia mengatakan hal tersebut karena efek dari El Nino yang terjadi pada 2015 masih terdampak hingga awal 2017. Namun, produksi CPO akan kembali normal beberapa bulan kemudian usai masa puncak, di mana masa recovery-nya lebih lambat di Malaysia daripada di Indonesia.

"Alasan utama dari analisis saya karena produksinya akan pulih kembali secara melambat, terutama di Malaysia daripada di Indonesia," kata dia.

Dalam pada itu, Ahmad Mikail, Ekonom Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), belum lama ini, mengatakan, harga sejumlah komoditas, khususnya crude palm oil (CPO) secara year to date meningkat sebesar 37,7%.

Sektor industri perkebunan kelapa sawit pada tahun depan diperkirakan terus tumbuh seiring dengan kenaikan permintaan produk CPO dan turunannya untuk barang konsumsi maupun sektor industri. “Perusahaan-perusahaan di sektor perkebunan kelapa sawit harus mengelola biaya dengan efisien untuk menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi harga komoditas global dan nilai tukar rupiah,” kata Ahmad.

Komoditas Kakao

kakao 17Prediksi terhadap pergerakan harga kakao di pasar internasional untuk tahun 2017 kuat mengesankan belum ada kepastian.  Sebagai ilustrasi, harga kakao berjangka ICE Futures New York, AS, pada akhir perdagangan pecan ketiga Desember 2016, ditutup merosot. Pelemahan harga kakao terpicu prospek positif panen raya di Afrika Barat.

Dua panen kakao yang lebih besar di Afrika Barat, wilayah terbesar tanaman kakao di dunia, pulih lebih baik daripada beberapa perkiraan pedagang menyusul musim kering yang merusak tanaman awal tahun ini.

Beberapa investor mengatakan, mereka sedang menunggu untuk melihat apakah kakao telah menyentuh bawah sebelum menempatkan posisi panjang di pasar.

Selama seminggu pada pekan ketiga Desember 2016, Pantai Gading dan Ghana terlihat diguyur hujan ringan. Di akhir perdagangan, harga kakao berjangka kontrak Maret 2017 yang merupakan kontrak paling aktif terpantau ditutup turun. Harga komoditas tersebut ditutup turun sebesar -47 dollar atau -2,04% pada posisi 2.256 dolar per ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa harga kakao berjangka untuk perdagangan selanjutnya akan bergerak dalam kecenderungan menguat terbatas dengan pelemahan dollar AS.

Untuk perdagangan selanjutnya harga kakao berjangka di ICE Futures New York berpotensi untuk menembus level resistance pada posisi 2.300 dolar per ton. Jika level resistance tersebut berhasil ditembus level selanjutnya adalah 2.350 dolar per ton. Sedangkan level support yang akan ditembus jika terjadi penurunan ada pada 2.200 dolar dan 2.150 dolar per ton.

Harga kakao diperkirakan bakal tertekan akibat membaiknya suplai setelah membaiknya cuaca. Pada perdagangan medio Oktober 2016, harga cokelat dalam kontrak Desember 2016 di ICE Futures naik 9 poin atau 0,34% menjadi US$2.666 per ton. Angka ini menunjukkan harga yang terkoreksi 16,16%. Dalam perdagangan sebelumnya, harga mencapai level terendah dalam sejak Januari 2015.

Boyd Cruel, senior market analyst High Ridge Futures mengatakan, harga kakao yang mengalami peningkatan pada paruh pertama 2016 kini sudah merosot. Pasalnya, produksi mulai pulih setelah masa cuaca kering terlewati. Menurutnya, pasar masih dalam kecenderungan untuk menurun. Alasannya, proyeksi produksi dalam sisa tahun ini akan pulih setelah menghadapi cuaca kering.

Meskipun demikian, Pantai Gading sebagai produsen kakao terbesar di dunia sedang mengalami curah hujan yang tinggi, sehingga menganggu hasil panen. "Pasar masih dalam kecenderungan untuk menurun, dan jangka panjang masih spekulatif," ujarnya.

Laporan Bank Dunia menyebutkan, harga kakao meningkat 4% di kuartal II/2016 (qoq) menjadi US$3,1 per kg dari sebelumnya US$2,98 per kg. Tren kenaikan terjadi karena melebarnya defisit pada musim 2015-2016.

Penurunan produksi di wilayah Amerika Selatan, terutama Brasil, dan Pantai Gading sebagai produsen terbesar menjadi pemicu utama. Namun, efek Brexit dan pound sterling masih membatasi reli harga.

Sampai akhir tahun, Bank Dunia memprediksi harga kakao di posisi US$3,1 per kg, turun 1,27% dari 2015 senilai US$3,14 per kg.

Prediksi hampir sama juga dikeluarkan The International Cocoa Organization (ICCO).   Organisasi kakao internasional ini, memproyeksikan harga biji kakao di pasar dunia cenderung meningkat hingga tahun 2017. Salah satu penyebabnya melesatnya permintaan biji cokelat namun tidak dibarengi peningkatkan supply.

Jika harga di pasar dunia di atas US$ 3.000 dengan kurs yang kurang lebih sama dengan saat ini, bukan tidak mungkin petani akan menikmati harga di atas Rp30.000 per kg biji kakao untuk pembelian biji asalan.

Namun kondisi tersebut bisa saja mendorong industri pengolahan cokelat bereaksi, terjun langsung ke sektor hulu dan mendorong peningkatan produksi. Jika itu terjadi secara masif, maka harga akan terkoreksi karena supply biji kakao dunia akan membaik.

Komoditas Karet

karet 17Kesepakatan antara International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni kelompok negara penghasil karet yang terdiri dari pemerintah Thailand, Malaysia, dan Indonesia memangkas kapasitas ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) mulai Maret -- Desember 2016 juga memberikan dampak positif terhadap harga.

Di bawah perjanjian AETS, tiga negara yang memasok 60% kebutuhan karet global akan memotong total ekspornya sebanyak 615.000 ton. Rincian adalah, Thailand sekitar 324.005 ton, Indonesia sebesar 238.736 ton, dan Malaysia sejumlah 52.259 ton. Dengan langkah tersebut, ITRC berharap harga komoditas karet menuju normal, sekitar US$2-US$3 per kg.

Berdasarkan data Bank Dunia, lima peringkat teratas produsen karet terbesar pada tahun lalu ialah Thailand sebanyak 4,47 juta ton, Indonesia 3,17 juta ton, Vietnam 1,02 juta ton, China 794.000 ton, dan Malaysia 722.000 ton.

Dalam sebulan terakhir ini, harga karet mencatat kenaikan fantastis hingga 30%. Saat ini, harga karet di pasar global telah melampaui US$ 2 per kg, di atas harga karet sebelumnya sekitar US$ 1,3 per kg.

Kenaikan harga karet global diikuti peningkatan harga di tingkat petani yang mencapai Rp8.000-Rp 10.000 per kg. Namun, kenaikan harga karet ini diprediksi tidak berlangsung lama, karena situasi perekonomian global mengalami ketidakpastian setelah Donal Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Trump dalam kampanye pemilihan presiden AS sebelumnya mengancam akan melakukan proteksi terhadap pasar AS dan akan menyetop impor dari China. Padahal, China merupakan salah satu negara yang menyerap karet dalam volume besar. Jika itu terjadi, maka otomatis negara Tirai Bambu tersebut akan mengurangi produksi dan penyerapan karet di pasar global.

"Jadi kenaikan ini kami perkirakan bertahan sampai kuartal pertama tahun depan," kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Aziz Pane, belum lama ini, di Jakarta.  

Menurut Aziz, kenaikan harga karet saat ini tidak didasarkan pada fundamental karet yang menguat, tapi lebih banyak karena spekulasi pasar. Kendati begitu pembatasan ekspor karet yang dilakukan tiga negara anggota ITRC, yakni Thailand, Indonesia, Malaysia dan plus Vietnam turut mendorong peningkatan harga karet.

Apalagi pembatasan ekspor karet itu terjadi di tengah menipisnya stok karet di China, sehingga Negeri Panda itu meningkatkan penyerapan karet.

Selain karena ancaman ketidakpastian kebijakan ekonomi AS, ujar Azis, ketidakpastian ekonomi Uni Eropa juga berpotensi membuat harga karet akan anjlok lagi. Sebab saat ini Uni Eropa tengah direcoki proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan pemilihan Kanselir Jerman yang menimbulkan ketidakpastian baru.

Belum lagi AS berencana menaikkan suku bunga pada bulan Desember yang berpotensi memicu nilai tukar rupiah loyo.

Bagaimana dengan harga karet 2017? Pergerakan harga karet kembali ke level tertingginya pada perdagangan pertengahan Desember 2016 kemarin, setelah sempat melemah beberapa waktu sebelumnya.

Harga karet untuk pengiriman Mei 2017, kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange (Tokom), berbalik menguat 0,20% atau 0,50 poin ke 256,50 yen per kilogram (kg) atau sekitar US$2,23 per kg

Sebelumnya, harga karet kontrak Mei dibuka dengan pelemahan 0,43% atau 1,10 poin di posisi 254,90 yen per kg. Pada perdagangan Senin (12/12), harga karet ditutup melonjak 4,32% atau 10,60 poin ke posisi 256, level tertinggi sepanjang masa kontrak aktif berjalan, dipicu oleh kenaikan harga energi yang mendorong biaya produksi untuk karet sintetis.

Komoditas Gula

gula 17Menurut data Badan Pusat Statistik, harga eceran gula pasir pada Juli 2016 adalah Rp15,745 per kg. Dibandingkan Juli tahun sebelumnya Rp 13.065 per kg, berarti terjadi kenaikan sebesar 20,5%.

Walaupun harga gula di pasar internasional pada Juli 2016 naik tajam (53,6%) dibandingkan bulan yang sama tahun 2015, harga eceran gula di Indonesia tetap saja jauh lebih mahal, yakni 2,8 kali lipat dibandingkan dengan harga gula internasional.

Harga gula pasir di pasar internasional pada Juli 2016 adalah 0,43 dolar AS per kg atau Rp 5.676 per kg dengan kurs Rp 13.200 per dolar AS. Pada Juli 2015, harga gula di pasar internasional adalah 0,28 dollar AS.

Harga gula di pasar internasional masih akan bergerak di bawah US$ 450 per ton FOB (harga di lokasi penjual). Padahal, pasar gula dunia tahun 2016 akan mengalami defisit antara 3,3-5,2% dari total konsumsi. Produksi gula dunia pada tahun perdagangan 2015/2016 turun 0,5% menjadi 173,4 juta ton dibandingkan 2014/2015 yang masih sebanyak 174,3 juta ton.

Mengutip data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi gula dunia pada tahun perdagangan 2015/2016 turun 0,5% menjadi 173,4 juta ton. Sedangkan konsumsi dunia naik 1,6% menjadi 174,2 juta ton dari sebelumnya 171,5 juta ton. Volume impor di pasar dunia naik 2,6% menjadi 52,9 juta ton dari sebelumnya 51,6 juta ton. Sedangkan, arus ekspor meningkat 3,1% menjadi 55,8 juta ton dari sebelumnya 54,2 juta ton.

Pengamat pergulaan Wayan R Susila mengatakan, stok akhir gula dunia pada 2015/2016 anjlok 8,5% menjadi 40,5 juta ton dari 2014/2015 yang mencapai 44,3 juta ton. Tapi, harga gula dunia tahun ini diperkirakan hanya naik tipis, tetapi tetap di bawah US$ 450 per ton FOB.

“Jika harga minyak bumi di pasar dunia terus tertekan, sangat mungkin sejumlah negara produsen utama gula dunia, khususnya Brasil, akan menaikkan produksi. Ini akan diikuti kecenderungan pengurangan produksi bioetanol sehingga harapan harga gula akan naik semakin tipis,” papar dia.

Harga gula di Indonesia relatif sangat mahal karena pemerintah tak kunjung menyelesaikan akar masalahnya. Pemerintah hanya mengutak-atik persoalan di hilir dengan menaikkan harga pokok penjualan (HPP) di tingkat pabrik gula. Seolah dengan begitu pemerintah membantu petani tebu.

Apalagi, produksi gula nasional pada tahun 2016 ini diprediksi meleset dari target sebesar 2,5 juta ton. Ini merupakan dampak perubahan iklim global yang belakangan ini tidak menentu, terutama badai La Nina di sejumlah wilayah Indonesia yang menyebabkan musim hujan berkepanjangan.

La Nina menyebabkan tanaman tebu tidak mendapatkan matahari yang cukup untuk bisa menghasilkan gula maksimal. Selain itu, banyaknya Pabrik Gula (PG) yang sudah uzur juga turut membuat rendemen turun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan mengatakan, berdasarkan data AGI, realisasi giling tebu per 31 Agustus 2016 turun drastis. Di sejumlah PG, rendemen gula turun sebesar 2%. Akibatnya,  produksi gula hingga tutup tahun ini diperkirakan berkisar 2,2 juta ton hingga 2,3 juta ton.

"Salah satu solusi menghadapi kondisi ini, kita memerlukan varietas tebu yang tahan terhadap segala cuaca," ujar Agus, Rabu (14/9).

Ditambahkan Agus, saat ini rata-rata rendemen gula turun  di bawah 7% dari posisi saat ini di atas 7%.  Dengan rendemen yang rendah, produksi gula petani pun menurun. Berdasarkan catatan AGI, pada musim giling sekarang, rendemen tebu terendah di PG Gondang Baru yaitu 4,92%, sedangkan rendemen tertinggi di PG Assem Bagoes, yaitu 7,56%.

Itu pula sebabnya, Dirjen Perkebunan era Pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu  mendesak pemerintah melakukan evaluasi terhadap kondisi pertanian tebu di tingkat petani dan kondisi PG di sejumlah PTPN milik negara. Sebab kebijakan pemerintah yang menetapkan harga gula di kisaran Rp 12.500 per kg menyebabkan petani enggan menanam tebu.

Harus dipahami bahwa lahan tebu itu sama dengan lahan padi. Jadi, saat harga beras bagus, petani memilih menanam padi daripada tebu. Agar minat terhadap penanaman tebu meningkat, maka harga tebu harus rata-rata mencapai Rp 12.000 kg sampai Rp 15.000 per kg di tingkat petani. ***SH, AP, NM, HB

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id