Menu
SAJIAN ISI

RPN Selenggarakan WPLACE 2017 di Bali Featured

RPN Selenggarakan WPLACE 2017 di Bali

Sektor perkebunan memiliki potensi dan kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian negara. Hanya, harga komoditas andalan perkebunan tidak stabil dan bahkan cenderung mengalami penurunan selama 5 tahun terakhir. Untungnya pada pertengahan sampai dengan akhir tahun 2016 mulai menunjukkan perbaikan. 

Di sisi lain, harga input (cost) produksi meningkat. Kondisi tersebut sering kali dipersulit oleh kondisi iklim yang tidak bersahabat seperti terjadinya El-Nino dan La-Nina sehingga berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas tanaman perkebunan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, apabila situasi tersebut tidak segera diatasi dan direspons, diperkirakan kondisi bisnis perkebunan nasional akan semakin berat. "Akibat dari situasi sulit ini, maka tingkat keuntungan usaha perkebunan baik perkebunan negara maupun swasta akan cenderung turun," ungkapnya saat membuka Seminar dan Launching Penyelenggaraan World Plantation Conferences and Exhibition (WPLACE) 2017 di Jakarta, baru-baru ini.

Hadir di antaranya anggota Dewan Pertimbangan Presiden Sri Adiningsih, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang, Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara Teguh Wahyudi, perwakilan kementerian/lembaga terkait serta direksi perusahaan dan anggota asosiasi komoditas perkebunan.

Mengatasi penurunan harga komoditas perkebunan, Menko Perekonomiaan menyatakan, pemerintah akan meningkatkan faktor-faktor internal usaha perkebunan seperti meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah. Dia menilai, selain masalah tanaman, aspek pengelolaan sumber daya manusia, tata nilai, budaya, dan manajemen harus diperbaiki.

"Bukan hanya masalah tanaman, melainkan juga aspek pengelolaan SDM beserta tata nilai dan budayanya, serta aspek manajemen dengan beragam sistem di dalamnya harus ditingkatkan," kata Darmin.

Selain itu, menurut dia, ilmu pengetahuan dan inovasi menjadi faktor penyelamat untuk mempertahankan bisnis dan usaha perkebunan. Dengan kata lain, kemajuan industri perkebunan dapat dicapai secara berkelanjutan apabila ditunjang oleh lembaga riset yang kuat untuk menghasilkan teknologi dan inovasi yang mendukung.

Selama ini, Darmin mengakui, adanya ketimpangan pada pelaku industri perkebunan, khususnya antara korporasi dan pelaku usaha kecil dan menengah. Hal itu terjadi karena akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, sarana/prasarana dan kemampuan yang terbatas, bahkan terjadi diskriminasi.

"Ketimpangan yang terjadi membuat ketidakadilan dalam hal aksesibilitas, penguasaan dan pemilikan lahan, lemahnya rantai nilai di antara sektor usaha, bahkan tidak meratanya kesempatan usaha termasuk kemudahan akses terhadap kredit pengembangan perkebunan," kata Darmin.

Oleh karena itu, Darmin menekankan, pengembangan usaha kecil dan menengah melalui sinergi dengan perusahaan besar di subsektor perkebunan diharapkan terjadi dalam aktivitas investasi industri hilir perkebunan, off-take produk hasil perkebunan, penjamin untuk kredit peremajaan perkebunan, fasilitasi penyediaan benih unggul, dan kemitraan sarana produksi, serta kerja sama penguatan riset dan peningkatan kapasitas SDM.

Darmin juga berharap penyelenggaraan World Plantation Conferences and Exhibition (WPLACE) 2017 yang akan diadakan pada tanggal 18-20 Oktober 2017 di Bali nantinya dapat menghasilkan langkah terobosan pengembangan komoditas perkebunan unggulan di negeri ini.

"Kegiatan World Plantation Conferences and Exhibition 2017 diharapkan dapat menghasilkan rumusan kebijakan yang dapat diimplementasikan bagi peningkatan pengembangan industri perkebunan domestik, khususnya untuk menciptakan sinergi pengembangan usaha kecil, menengah, dan korporasi," tutur Darmin.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud menambahkan, WPLACE 2017 ini merupakan momentum penting untuk menghasilkan langkah terobosan bagi pengembangan komoditas utama perkebunan di negeri ini.

“Kontribusi lintas kementerian/lembaga dan stakeholder terkait dibutuhkan unuk menciptakan, tidak hanya langkah nyata pengembangan sektor perkebunan, tetapi juga akselerasi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara Teguh Wahyudi menyatakan, kondisi saat ini merupakan tantangan berat yang harus dihadapai pelaku industri perkebunan. Sementara itu, persaingan global semakin ketat adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). "Dalam situasi seperti ini diperlukan kreatifitas pelaku usaha perkebunan," jelas Teguh.

Teguh menambahkan, teknologi dan inovasi yang dibutuhkan untuk memajukan industri hulu dan hilir perkebunan sebenarnya sudah ada di RPN beserta dengan pusat-pusat penelitian perkebunan yang ada dibawahnya.
"Dengan penerapan teknologi dan inovasi, kinerja industri perkebunan akan dapat ditingkatkan," pungkas Teguh. SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id