Menu
SAJIAN ISI

Petani Swadaya Riau Peroleh Sertifikat ISPO

Petani Swadaya Riau Peroleh Sertifikat ISPO

Setelah 6 tahun Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) diberlakukan, kini untuk pertama kalinya petani swadaya yang tergabung dalam Asosiasi Kelompok Tani Swadaya Amanah yang berpusat di Riau, akhirnya memperoleh sertifikat ISPO.

Sertifikat ini pun diserahkan langsung oleh Dirjen Perkebunan (Dirjenbun) Kementerian Pertanian, Bambang kepada Sunarno yang merupakan Ketua Asosiasi Kelompok Tani Swadaya Amanah dalam acara International Conference on Indonesian Sustainable Palm Oil (IC-ISPO) 2017, Selasa (11/4), di Jakarta Convention Center (JCC).

Selain petani swadaya, sertifikat ISPO juga diberikan kepada petani plasma yang tergabung dalam Koperasi Unit Desa (KUD) Karya Mukti dan 38 perusahaan perkebunan kelapa sawit lainnya. Sehingga sampai bulan April 2017 ini, Komisi ISPO telah menerbitkan 266 sertifikat ISPO.

Berbeda dengan perusahaan yang memang diwajibkan memiliki sertifikat ISPO, penerimaan sertifikat bagi petani swadaya ini memang layak untuk diapresiasi. Pasalnya, kendati bersifat voluntary (sukarela), dengan adanya sertfikat ini maka petani swadaya dapat menunjukkan bahwa mereka juga dapat menerapkan sustainability dan mendukung sepenuhnya keberlanjutan kelapa sawit di Indonesia.

Walau masih terbilang rendah, Bambang berharap dukungan dari seluruh stakeholder kelapa sawit agar seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia dapat sustainable melalui ISPO. “ISPO sedang dalam perjuangan. ISPO kita perkuat terus, saat ini baru 12%. Tugas bagi para lembaga sertifikasi, sekretariat ISPO dan kawan-kawan semua untuk memberikan dukungan. Target kita 100% sawit Indonesia ISPO.”

Sebagai informasi, saat ini luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 11,9 juta hektar dengan produksi CPO pada tahun 2016 sebanyak 31 juta ton. Namun berdasarkan realisasi sertifikasi ISPO, Aziz Hidayat selaku Kepala Sekretariat ISPO mengatakan, “Realisasi
kebun sawit sampai saat ini yang sudah sertifikasi ISPO baru mencapai 1,67 juta hektar dengan produksi CPO sebesar 7,6 juta ton.”

Mengenai kinerja sertifikasi ISPO per 10 April 2017, Aziz mengatakan,  sejak berdirinya ISPO pada tahun 2011, sampai saat ini sudah terdapat 527 pelaku usaha yang berpartisipasi terhadap ISPO, antara lain terdiri atas 523 perusahaan, 3 KUD dan 1 asosiasi kebun swadaya. Sejumlah 226 di antaranya sudah diterbitkan pengakuan sertifikat ISPO-nya, 11 masih terkendala masalah HGU, masalah lingkungan, masalah AMDAL, dll, kemudian 30 laporan sudah diverifikasi namun belum dikembalikan lagi oleh Lembaga Sertifikasi kepada Sekretariat ISPO, dan terakhir 69 di antaranya masih belum dilakukan verifikasi.

Diakui Bambang memang masih terdapat berbagai kendala dalam pelaksanaan ISPO. Namun, ia menegaskan pihaknya akan terus melakukan pembinaan kepada petani-petani terutama untuk petani perkebunan rakyat. Harapannya, nanti para petani bisa melaksanakan sertifikasi ISPO.

“Kalau ISPO sudah bisa diterapkan 100% di negeri ini maka pada saat itulah, tidak ada satu pun orang di seluruh dunia yang tidak mengakui ISPO kita, manakala ISPO betul-betul kita laksanakan dengan cara-cara yang sustainability,”  pungkas Bambang. ***HB

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id