Menu
SAJIAN ISI

Kopi Menjadi Salah Satu Komoditas Primadona Ekspor

Kopi Menjadi Salah Satu Komoditas Primadona Ekspor

Komoditas kopi, teh dan kakao hingga kini masih menjadi komoditas primadona ekspor Indonesia. Peluang ketiganya cukup menjanjikan, mengingat permintaan yang tinggi dari negara-negara di Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa dan Amerika.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah, karena diuntungkan letak geografisnya berada di wilayah tropis yang memiliki potensi besar bagi pengembangan agribisnis. Beberapa di antaranya adalah  kopi, teh dan kakao dan komoditas lainnya.

Meski demikian untuk memenuhi permintaan akan komoditas tersebut,  masih terdapat beberapa hambatan, di antaranya tuntutan pembangunan ekonomi domestik dan perubahan lingkungan ekonomi internasional.

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Irmiyati Rahmi Nurbahar menjelaskan, perubahan pada sisi permintaan saat ini cukup besar. Misalnya, konsumen mulai menuntut kualitas tinggi, kuantitas besar, ukuran seragam, ramah lingkungan, kontinyuitas produk dan penyampaian secara tepat waktu, serta harga yang kompetitif.

"Dari sisi penawaran yang terkait dengan produksi, perlu diperhatikan masalah pengurangan luas lahan produktif, perubahan iklim yang tidak menentu serta pemanasan global, adanya penerapan bioteknologi dalam proses produksi dan pasca panen, dan aspek pemasaran," kata Irmi pada Konvensi Kopi, Teh dan Cokelat (KKTC) Indonesia 2017, baru-baru ini, di Jakarta.

Irmi menambahkan, untuk menjadikan produk kopi dan olahannya mempunyai daya saing kuat, baik di dalam maupun di luar negeri, dibutuhkan pengetahuan secara rinci preferensi konsumen yang berkembang, termasuk meningkatnya tuntutan konsumen akan informasi nutrisi serta jaminan kesehatan dan keamanan produk-produk pertanian.  

Untuk itu, lanjut dia, perwujudan ekonomi dari kepedulian masyarakat akan kelestarian lingkungan dan hak asasi manusia telah memaksa masuknya aspek lingkungan dan hak asasi manusia dalam keputusan ekonomi, baik konsumsi, produksi maupun perdagangan.  

"Munculnya negara-negara pesaing yang menghasilkan produk sejenis semakin mempersulit pengembangan pasar, baik di negara tujuan ekspor tradisional maupun negara-negara tujuan ekspor baru yang merupakan wilayah potensial pengembangan," katanya lagi.  

Menurut Irmi, kopi teh dan kakao di Kementerian Pertanian dikelompokkan sebagai tanaman penyegar yang  ketiganya merupakan primadona komoditas ekspor. Hal ini terlihat pada data Ditjenbun Kementan, ekspor kopi 2016 sebesar 414.651 ton dengan nilai US$ 1,55 juta. Kemudian teh, pada 2016 mengekspor 330.029 ton dengan nilai US$ 113,1 juta. Sedangkan kakao, ekspor pada 2016 lalu sebesar 51.317 ton dengan nilai  US$ 113 juta.
Selain itu, sebagai produsen posisi Indonesia cukup potensial, yakni  untuk kakao Indonesia menduduki poisisi ke 3 dunia. Sementara  untuk kopi adalah produsen ke 4 dunia, sedangkan untuk komoditas teh, Indonesia menempati urutan ke 7.

Yang menarik, ketiga komoditas ini dibudidayakan 90% oleh rakyat, terutama kopi dan kakao, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja karena kegiatan yang di on farm saja adalah padat karya.

Dengan berkembangnya komoditas ini di berbagai sentra di Indonesia telah mendorong  berkembangnya wilayah tersebut dari sisi ekonomi dan juga prospek agrobisnis dan agro industri. “Yang tidak kalah penting kita juga punya misi pembangunan perkebunan berkelanjutan. Dengan begitu ketiga komoditas ini diharapkan juga ikut mendukung konservasi lingkungan,” papar Irmi.

Hingga saat ini, areal kopi di Indonesia tercatat seluas 1,2 juta ha dengan produksi per tahun sekitar 639 ribu ton dan kakao dengan areal seluas 1,7 juta ha menghasilkan produksi 593 ribu ton, dan teh dengan total areal 114 ribu ha dengan produksi 132 ribu ton.

Selain itu dari aspek kualitas, kopi Indonesia mempunyai daya saing yang cukup kuat baik di dalam maupun di luar negeri. Kopi Indonesia memiliki rasa sesuai dengan karakteristik per daerah. "Kita biasa menyebutnya indikasi geografis sudah cukup banyak yang dikenal dunia dan semua stakeholder masih menggali potensi lain untuk komoditas kopi ini," urai Irmi.

Kakao juga punya keistimewaan, salah satunya butter kakao Indonesia mempunyai kekhasan. Sayangnya, karena sebagian besar ini adalah diusahakan oleh rakyat, produksi dan produktivitasnya masih rendah walaupun ada yang sudah cukup baik. Di lapangan, petani memerlukan tenaga pendamping dan saat ini memang masih terbatas tapi sudah banyak yang punya perhatian.

Tantangan lainnya adalah terbatasnya akses pemeliharaan komoditas terutama di budidaya karena banyak tanaman milik rakyat yang sudah tidak produktif dan perlu diremajakan. Sementara akses permodalan menjadi kendala, dan karenanya pemerintah berupaya membuat suatu program atau skema pembiayaan. Selain itu, ujar Irmi, minat pemuda untuk di budidaya/bertanam untuk kopi teh dan kakao harus terus didorong karena umumnya petani yang bekerja di kebun ini relatif sudah berumur.

Ditambahkan Irmi, pemerintah masih mempunyai tugas yang cukup berat jika ingin menjadikan ketiga komoditas tersebut tetap menjadi primadona ekspor. Pertama, areal yang luas dengan produktivitas rendah. Ini menjadi tugas pemerintah untuk memfasilitasi peremajaan ketiga komoditi tersebut dengan menyediakan benih unggul bersertifikat, berikut Good Agricultutre Practice (GAP) untuk mendorong produktivitas.

Kedua, penguatan kelembagaan petani dengan memberikan bimbingan teknis cara berbudidaya. Dan yang ketiga, untuk komoditas  perkebunan, perlu didorong  atau dikaitkan dengan wisata agro yang berbasis komoditi pekebunan.   

"Dengan adanya agrowisata akan  membantu masyarakat lebih mengenal komoditas perkebunan juga untuk sarana edukasi bagi masyarakat juga sebagai bagian dari pelestarian  dan memberikan aspek berkembangnya ekonomi di daerah tersebut. Dalam agrowisata ini dikenalkan sejarah berkembangnya komoditas, diajari mengenai budidayanya, pembibitan, pasca panen," papar Irmi.

Sunny Adrian, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjelaskan, komoditas kopi, teh dan kakao berperan penting bagi perekonomian nasional, khususnya bagi perekonomian daerah. Hl ini dikarenakan budidaya komoditas ini mayoritas dikelola oleh petani kecil.  

Menurut Adrian, kinerja dari ekspor ketiga komoditas ini juga memberikan  kontribusi devisa yang tidak sedikit karena sekitar 1% dari total ekspor non migas itu berasal dari kopi, dan  kakao. Hanya untuk teh agak sedikit kurang karena ekspornya  tidak terlalu banyak.

"Untuk tren ekspor ketiga komoditi dalam periode 5 tahun terakhir, berkurang dikarenakan nilai kopi relatif turun sebesar 1,4% sementara teh turun sebesar2,8%, kakao turun sekitar 7,4%," ucapnya.

Untuk kebijakan ekspor khususnya komoditas kakao dan teh dari Kementerian Perdagangan tidak memiliki kebijakan pengaturan tata niaga ekspor alias bebas untuk diekspor. Sementara untuk kopi pemerintah membuat beberapa Permendag yang mengatur ketentuan ekspor kopi.

Mengapa ini harus diatur?  “Karena kopi ini, kita sebagai anggota dari ICO (International Coffee Organization)) mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan realisasi ekspor dari komoditas ini,” ungkapnya.

Untuk itu, Kemendag  mensyaratkan adanya pencatatan data eksportir dan persyaratan untuk melengkapi setiap ekspor dengan dokumen SKA (Certificate of origin)  sementara itu untuk kebijakan Kemenkeu,  sudah diterapkan bea keluar untuk ekspor biji kakao yang mana tujuannya untuk mendorong hilirisasi.

Edhy Prabowo, Ketua Komisi IV DPR-RI mengapresiasi  acara Konvensi Kopi, Teh dan Cokelat merupakan pekerjaan yang luar biasa. Sebab, memerlukan  kolaborasi kerjasama dari berbagai kementerian. "Kalau dilihat dari idenya munculnya dari Kemenpar kemudian didukung oleh Kementan, Kemendag, Kemenperin dan yang lainnya. Padahal, sebenarnya bukan domain  Kemepar untuk  bicara di situ. Kita acungkan jempol ini terobosan," kata Edhy.

Wakil Rakyat dari Fraksi Partai Gerindra ini meminta semua pihak untuk bersama-sama mendukung program pemerintah dalam mengembangkan komoditas unggulan dalam negeri. Dengan demikian, komoditas hasil pertanian di Indonesia bisa bersaing di pasar internasional dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Edhy melihat  tiga komoditas  tersebut merupakan bagian dari pilar  perekonomian bangsa Indonesia. Hal ini terlihat dari nilai ekspornya. Untuk itu, Edhy merasa optimis dengan masa depan ketiga komoditas tersebut.

Konvensi Kopi, Teh dan Cokelat (KKTC) Indonesia tahun 2017 ini diselenggarakan pada 18-21 Mei 2017 di Main Purpose Hall La Piazza Kelapa Gading, Jakarta Utara. Menurut Ketua Pelaksana KKTC Indonesia 2017, Kuntari Sapta Nirwandar, komoditas kopi, teh dan kakao merupakan produk unggulan Indonesia.

Selain itu, KKTC bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai penghasil kopi, teh dan kakao terbaik di dunia serta mewujudkan Indonesia sebagai destinasi wisata agro dunia. Acara ini juga dirangkai dengan konvensi, yaitu seminar dan talkshow dengan tema "Perkembangan Komoditi Kopi, Teh dan Kakao serta Pengembangan Wisata Agro Indonesia". ***SH, NM, AP

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id