Menu
SAJIAN ISI

Riset Jadi Ujung Tombak Kemajuan Industri Sawit

Riset Jadi Ujung Tombak Kemajuan Industri Sawit

Hingga saat ini riset mengenai industri kelapa sawit dinilai masih kurang banyak. Walhasil, jurnal penelitian tentang industri sawit yang ada juga masih lemah mutunya dan sedikit jumlahnya. Kondisi inilah yang membuat industri kelapa sawit di Indonesia mudah diserang dengan berbagai isu negatif.

Kehadiran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) diharapkan dapat meningkatkan jumlah dan mutu riset yang ada saat ini. Dengan terbitnya jurnal yang lebih banyak diharapkan dapat meng-counter isu negatif yang hingga kini masih terus menerpa industri kelapa sawit. Hal tersebut terungkap dalam 'Roundtable Meeting on Oil Palm Research: Membangun Kekuatan Riset Sawit Indonesia', yang digelar di Grand Tjokro Hotel Yogyakarta, baru-baru ini.

Edi Wibowo, Direktur Penyaluran Dana BPDP-KS dalam paparannya yang berjudul 'Roadmap Riset Kelapa Sawit Indonesia dan Pendanaan Riset Sawit BPDP-KS' menjelaskan, riset merupakan ujung tombak kemajuan industri kelapa sawit di Indonesia. Untuk itu, perlu ditingkatkan secara optimal.

"Dengan hasil riset yang baik akan dapat dihasilkan berbagai jurnal yang dapat untuk meng-counter isu negatif yang beredar seputar efektivitas, efisiensi, keberlanjutan, produk hilir sawit, dan lain-lain. Untuk itu, BPDP-KS mengapresiasi terhadap inisiatif pelaksanaan acara ini, karena riset adalah ujung tombak kemajuan industri di Indonesia," kata Edi.

Agar riset lebih efektif, menurut Edi, ke depan, BPDP-KS kemungkinan akan mengubah skema penerimaan proposal riset. Dalam artian, setelah menerima masukan dari para stakeholders untuk riset-riset prioritas dalam roadmap, maka riset-riset tersebut akan di-“beauty contest” kan terlebih dahulu sehingga akan ada kompetisi terkait dengan isi substansi riset, dan proposal yang terbaik akan didanai.

Dalam monev (monitoring dan evaluation) yang dilakukan BPDP-KS dan Komite Riset, Edi menjelaskan, ada beberapa riset yang melenceng tidak sesuai dengan proposal awalnya. Namun, diakuinya pula banyak yang hasilnya memuaskan, bahkan melebihi target yang dijanjikan.

Untuk itu, Edi mengusulkan, selain dana dari BPDP-KS, pendanaan riset dapat dikumpulkan dari university, stakeholders, dan hasil riset menjadi milik bersama. "Sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan oleh semua pihak dalam meng-counter isu-isu negatif dari luar," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Pengawas BPDP-KS, Rusman Heriawan. Bahkan,  dalam kesempatan itu, Rusman mengajak semua instansi yang terkait dengan kelapa sawit agar mau secara bersama sama merumuskan model sinergi riset untuk kelapa sawit. Dengan sinergi ini diharapkan dapat meminimalkan kemubaziran dan memaksimalkan hasilnya.

"Mari kita bersama sama merumuskan model sinergi riset untuk kelapa sawit. Untuk mengikatkan diri pada suatu sinergi yang meminimalkan kemubaziran dan memaksimalkan hasilnya," pinta Rusman.

Sebagai negara dengan produksi sawit terbesar, lanjut dia, sangat aneh bila terdengar kabar bahwa dana risetnya sangat kecil dibandingkan negara penghasil sawit lainnya. Untuk itu, dia mengusulkan agar berani menetapkan riset-riset prioritas dalam roadmap tersebut. Sebab, riset itu baru dikatakan berhasil kalau hasilnya bisa digunakan oleh industri

Rusman menambahkan, jadi riset bagus di skala invention itu belum cukup, tapi harus sampai ke skala inovation, yaitu hasilnya bisa digunakan oleh industri.

"Sebetulnya yang diinginkan oleh Komite Pengarah untuk riset ini paling tidak ada hubungannya langsung dengan kepentingan smallholder atau petani kecil/swadaya, pengembangan produk yang bisa dimanfaatkan oleh industri," papar Rusman.

Dalam diskusi panel 'Membangun Kekuatan Riset Sawit Indonesia' tersebut, Dr Arief RM Akbar dari Universitas Lambung Mangkurat menngungkapkan, saat ini kondisi industri kelapa sawit Indonesia terus-terusan menjadi sasaran kampanye negatif karena masih kurang data-data untuk melawan isu-isu tersebut.

Untuk itu, Arief berpendapat, pertama, Indonesia harus membuat sebuah pusat database riset agar tidak terjadi tumpang tindih/pengulangan riset. Kedua, dalam melakukan riset sangat diperlukan adanya efisiensi dan efektivitas untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal, serta . memudahkan dalam menemukan research gap.

Ketiga, menyangkut connectivity. Dengan adanya database yang akurat dan dapat di-update setiap waktu, secara tidak langsung akan membangun koneksi periset sedunia untuk saling diskusi, mengembangkan sistem informasi sumberdaya, seperti peralatan, fasilitas laboratorium, mitra petani dan lain-lain.

"Ketiga hal tersebut diharapkan mempu meningkatkan riset tentang kelapa sawit di Indonesia," kata Arief menegaskan.

Dr. Witjaksana Darmosarkoro yang tampil berbicara pada panel diskusi itu menyoroti beberapa kendala dalam riset dan pengembangan sawit. Pertama, perhatian pada penelitian hanya pada masing-masing dan dirinya sendiri. Kedua, kebersatuannya ada tapi kecil sekali. Dan ketiga; Batas kerelaan untuk share data, keempat tidak ada penggerak dan dana awal, serta kelima tidak ada sistem.

Untuk itu, Witjak berharap Indonesian Journal of Oil Palm (IJOP) bisa diterbitkan 3 kali dalam setahun, dan sekali terbit diharapkan akan ada 10 paper. Sifat riset tentu saja yang mendukung program pembangunan kelapa sawit Indonesia.

Mengenai pentingnya database penelitian dan peneliti sawit, Witjak mengusulkan di Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) bisa dibentuk tim yang bertujuan untuk mengatasi kendala-kendala di atas, yang kedua konektivitas dengan SDG (Sumber Daya Genetik). Dan ketiga ini seyogianya menjadi salah satu program prioritas yang dibiayai oleh BPDP-KS.
"Dana yang dikumpulkan dari BPDP-KS untuk dimanfaatkan bagi seluruh lapisan masyarakat sawit yang di dalamnya termasuk petani, karena ini merupakan program yang bermanfaat bagi semua orang. Seyogianya program ini akan menjadi prioritas bagi BPDP-KS," usul Witjak.

Sementara Dr. Ir. Harsawardana, M. Eng dari INSTIPER Yogyakarta menekankan riset sawit di bidang pangan dan kesehatan yang dilakukan perlu terus dilakukan. Alasannya, pertama untuk meningkatkan pemanfaatan produk sawit pada industri pangan dan fitonutrisi yang memiliki pangsa pasar potensial dan nilai tambah tinggi.

Kedua, menjawab kebutuhan industri pengguna produk sawit dalam pemecahan masalah, peningkatan mutu produk, dan peningkatan efisiensi proses produksi. Dan ketiga, mengubah citra dan meningkatkan penerimaan masyarakat dunia terhadap produk pangan berbasis minyak sawit. Keempat, menjaga keberlangsungan penggunaan minyak sawit pada produk pangan dari serangan isu kesehatan, keamanan, dan keramahan lingkungan.

Menurut Harsa, industri pangan berbasis minyak sawit di Indonesia membutuhkan hasil riset untuk diversifikasi dan diferensiasi produk, serta efisiensi dalam proses produksi. "Namun saat ini masih belum banyak jenis produk pangan dan fitonutrisi berbasis minyak sawit yang memiliki nilai tambah tinggi di Indonesia," ungkapnya.

Dalam pada itu, lanjut Harsa, tuntutan pasar juga semakin meningkat khususnya terhadap produk pangan yang sehat, aman, dan ‘green’ atau ramah lingkungan. "Ketersediaan teknologi baru seperti bioteknologi dan teknologi nano bisa diaplikasikan pada riset pengembangan produk pangan berbasis sawit. Apalagi, ke depan pasar diprediksi juga semakin luas, baik domestik maupun ekspor," pungkas Harsa..

Pendapat lain yang juga mengemuka dalam diskusi tersebut, di antaranya dikemukakan Arief Udin dari Universitas Riau (Unri). Menurut Arief, isu yang sangat keras belakangan ini adalah isu lingkungan, terutama mengenai lahan gambut, deforestasi, kebakaran hutan.

Dia menambahkan, sebetulnya sudah banyak penelitian tentang sawit dari Universitas Riau, tapi ia tidak melihat ada perwakilan MAKSI ataupun peneliti sawit dari Universitas Riau disini. Namun dikarenakan berbagai hal, sehingga hasil penelitian tersebut kurang terdengar.

Delima Azahari, Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia menjelaskan, ide penyusunan database ini sangat bagus sekali. Tetapi, menurutnya, jangan sampai tumpang tindih dengan instansi-instansi terkait riset yang sudah ada, seperti database milik Kemenristekdikti dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Untuk itu perlu dilakukan koordinasi yang harmonis antar kementerian terkait dengan riset sawit yang akan dilakukan. “Mungkin perlu ada revolusi mental juga agar upaya ini bisa berhasil,” pintanya.

Khusus untuk penerbitan IJOP, lanjut dia, perlu ada orang yang memang mendedikasikan kerjanya untuk membesarkan IJOP supaya menjadi besar. Jangan lupa dilibatkan pula  peneliti-peneliti dari luar Indonesia untuk melakukan riset mengenai sawit ini, karena kolaborasi riset dinilai cukup penting. Untuk itu, diperlukan pula dewan redaksi yang sudah well-known pada level internasional. ***ADV

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id