Menu
SAJIAN ISI

Agar Petani Tebu Bisa Lebih Sejahtera

Agar Petani Tebu Bisa Lebih Sejahtera

Kementerian Pertanian minta kalangan petani tebu di Jawa yang luas area pertanamannya kurang dari 5 hektar agar bersedia melakukan regrouping sehingga memudahkan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tebu dan kesejahteraan mereka.

Dalam diskusi panel yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Rakernas APTRI di Jakarta, Dirjen Perkebunan Bambang menjelaskan mengenai rencana Kementerian Pertanian yang akan mewujudkan swasembada gula untuk konsumsi pada 2019, serta tahun 2025 untuk gula konsumsi dan industri makanan dan minuman.

“Karena itulah, kita coba bedah bersama bagaimana caranya untuk menyukseskan swasembada gula dan petani bisa betul-betul menikmati kesejahteraannya. Setuju semuanya teman-teman?” kata Bambang yang spontan disambut dengan teriakan “setujuuuu!” dari audiens.

Dikatakannya, berbagai regulasi baik itu dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dari Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, dan lainnya, punya tujuan yang sama, yakni supaya pada saatnya nanti Indonesia bisa swasembada gula, dan yang paling diuntungkan adalah petani tebu.

Kalau pun kemudian belakangan ini, pabrik gula milik PTPN  sebagian besar sudah tidak lagi feasible, tidak lagi efisien dalam mengoperasikan industrinya, kebijakan Kementerian BUMN sebagian akan ada yang ditutup. Dan itu pertimbangannya, lantaran tidak layak lagi di tengah-tengah lahan yang sudah semakin terbatas

“Misalnya satu kawasan hanya tersedia area sekitar 5.000 hektar, di sana ada 3 pabrik gula. Nggak usah saya sebutkan. Mungkin dihidupkan satu saja supaya benar-benar bisa efisien pabrik tersebut,” kata Bambang.

Kalau efisien pabriknya, keuntungan pabriknya bisa terbagi kepada petani. Kan begitu. Petaninya untung, pabriknya untung, Indonesia sejahtera. Nah di sisi lain, lokasi-lokasi yang masih memungkinkan untuk dibangun industri gula, pemerintah mendorong swasta untuk ikut ambil bagian. Kalau di Jawa masih memungkinkan, silahkan. Mau memperbesar memperluas, misalnya kalau Kebon Agung mau memperluas silahkan, KTM mau memperluas kalau masih ada lahan, silahkan.

Selain itu, pemerintah juga terus mengupayakan lahan-lahan yang masih tersedia di luar jawa. Dan investor pabrik gula tersebut diberikan insentif untuk bisa mengimpor raw sugar selama beberapa tahun hingga bisa memenuhi kebutuhan gula dari para petani tebu  Insentif diberikan pada saat mereka belum siap. Tapi yang ditunggu-tunggu adalah petani tebu. Segera manfaatkan ini. Segera tanam tebu, sehingga kalau kapasitasnya sudah terpenuhi, tidak perlu lagi impor raw sugar.

“Untuk apa beli mahal-mahal dari luar negeri. Kalau memang petani kita sudah melaksanakan usaha tani tebunya dengan efisien,” kata dirjen menekankan.

Kenapa Thailand dan Australia bisa memproduksi gula dengan harga murah? Petani tebu Indonesia berada di tengah bangsa-bangsa yang lain. Itu sebenarnya sudah kemahalan. Karena itu saat ini menjadi tantangan bagi petani tebu di negara ini, bagaimana mampu meningkatkan efisiensi dalam mengupayakan tanaman tebunya.

Bagaimana mekanisasi bisa berjalan, kalau luasan area tebunya cuma setengah hektar, 1 hektar, 0,75 hektar, 0,6 hektar. Karennya harus ada kebesaran hati di antara petani minimal bagaimana regrouping bisa dilaksanakan, minimal 5 hektar. Kalau 5 hektar, Kementerian Pertanian akan membantu menyediakan traktor.

“Sekarang mau dibantu traktor, traktor nya disimpan di belakang rumah. Nah ini tadi keterpaduan yang perlu kita bangun. Nggak bisa semangat ini hanya datang dari pemerintah, sebaliknya juga nggak bisa semangat hanya dari petani. Kita harus ada sambung rasa supaya sejumlah bantuan dari pemerintah bisa dimanfaatkan oleh petani,” paparnya.

Seiring dengan perlunya dibangun kekompakan di antara petani tebu, masing-masing industri gula juga harus bertanggung jawab membina petani tebu di wilayahnya supaya jelas wilayah binaannya. Jangan dekat Kebon Agung, jualnya ke KTM, dan sebaliknya.

“Itu yang saya katakan jangan ada dusta di antara kita. Sekarang sama-sama bertanggung jawab, bangun kejujuran, bangun komitmen, supaya untung di petani, untung di industri, bahagia petani. Nah masing-masing industri, nanti akan kita petakan,” urai dia.

Misalnya KTM wilayahnya mana saja, kemudian Kebon Agung wilayahnya mana, harus tanggung jawab dalam hal pembinaan. Begitu juga PTPN, juga harus bertanggung jawab membina petaninya. Nggak bisa berjalan hanya mengurusi industrinya. Satu paket dengan petaninya. Termasuk bagaimana meyakinkan pemda.

Jangan sampai nanti, lanjut Bambang,  ada lahan yang berada di sekitar pabrik ditanami ketela misalnya. Bakal merugilah semuanya. Kalau luasan areal kebutuhan bahan baku pabrik tidak terpenuhi, rugi pabrik dan rugi petani. Kerugian pabrik dibebankan kepada petani. “Kalau selama ini PTPN rugi, ini tanda petik juga karena petani kita belum kompak. Kalau petani kompak kemudian PTPN memperbaiki pabriknya, pabrik-pabrik PTPN untung, petani juga untung. Berbagai aturan tadi bisa diterapkan dengan baik kalau sistem ini berjalan pula dengan baik.”

Nah, kalau kelembagaan petani tadi kuat, tambahnya, walaupun KUR (Kredit Usaha Rakyat) sekarang ini bunganya 9% per tahun, tapi jika kelak disetujui ada masa tenggang pengembalian kredit untuk perkebunan – saat ini sedang didiskusikan dikonsultasikan dengan kementerian dan lembaga terkait, supaya untuk perkebunan ada dispensasi misalnya ada masa tenggang –
maka tentu akan sangat membantu meringankan petani.

Hanya memang, menurut dirjen, agar diminati oleh bank, petani harus kompak. Kalau petani kompak, ada semangat meningkatan produktivitas dan bisa mewujudkannya, nggak usah diminta pun, bank pasti akan hadir di tengah-tengah mereka. Karena bagaimanapun juga petani sangat dibutuhkan oleh bank sebagai nasabahnya.

Perlu pula diketahui bahwa untuk tahun 2017 melalui APBN-P, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan bantuan bibit buat petani untuk bongkar ratoon persiapan tahun 2018. Permintaannya banyak, tetapi kesiapan benih di lapangan masih terbatas. Hanya sekitar 825 hektar untuk area tanaman tebu seluas 5000 hetar pola 1 pada tahun 2018.

“Mudah-mudahan ini sebagai bahan menggerakkan hati kita semua, kita akan bangun infrastruktur perbenihan sehingga pada saat tahun 2018 nanti, kita bisa mempersiapkan kegiatan bongkar ratoon dengan persiapan benih untuk ditanam pada tahun 2019 itu bisa lebih besar lagi,” katanya.

Itu pula sebabnya, melalui forum ini Kementerian Pertanian minta dukungan APTRI untuk mengajak petani anggotanya agar sadar melakukan bongkar ratoon. Kalau nanti pemerintah menganggarkan bongkar ratoon maka produktivitas tebu yang saat ini hanya 40 ton diharapkan bisa ditingkatkan 100 ton, atau minimal 80 ton per ha. “Tapi, kalau petani juga tidak mau melakukan itu, ya sulit mengangkat produktivitas mereka. Dengan bongkar ratoon berarti kita bersiap-siap untuk meningatkan produktivitas minimal 6-7 tahun ke depan.”  ***AP, HB

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id