Menu
SAJIAN ISI

Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017 : Produktivitas Sawit Rakyat Perlu Digenjot

Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017 : Produktivitas Sawit Rakyat Perlu Digenjot

Pemenuhan kebutuhan minyak sawit dunia akan meningkat secara signifikan dalam kurun 30 tahun mendatang. Indonesia dapat menyuplai permintaan minyak sawit tersebut, asalkan produktivitas sawit petani yang saat ini masih sangat rendah bisa dilipatkan.

Acara Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017 digelar Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan di Hotel Best Western Premier, Solo Baru, Jawa Tengah, pada 18- 20 Juli 2017. PTKS merupakan kegiatan rutin dua tahunan dan merupakan kegiatan yang dapat digunakan sebagai forum berbagi informasi dan teknologi terkini di bidang perkelapasawitan.

Tampil dalam acara itu, sejumlah pembicara di antaranya mantan Menteri Pertanian Prof Dr Bungaran Saragih, Mukti Sardjono (Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan), Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan-Kelapa Sawit (BPDP-KS) Rusman Heriawan, Bayu Krisnamurthi (Mantan Dirut BPDP-KS).

Bungaran Saragih mengemukakan, ke depan permintaan minyak nabati dunia akan terus bertambah dengan pesat, seiring dengan laju pertambahan penduduk dunia. Diperkirakan pada 2045-2050 dunia membutuhkan tambahan sedikitnya 30 juta ton minyak sawit, dari pasokan saat ini berjumlah sekitar 65 juta ton.

Pada 2050, penduduk dunia diproyeksikan akan mencapai 9,2 miliar jiwa dan konsumsi perkapita minyak nabati akan meningkat menjadi 25 kg/jiwa dari saat ini 19 kg/jiwa. Kebutuhan minyak nabati dunia akan mencapai 277 juta ton, sehingga dibutuhkan tambahan minyak nabati sebesar 109,5 juta ton. Tambahan ini akan diperebutkan oleh minyak sawit dan minyak kedelai.

Peluang ini bisa dimanfaatkan Indonesia, meskipun ada beberapa kendala dalam pengembangan sawit. Salah satunya, sulitnya mendapatkan lahan untuk perluasan kebun kelapa sawit.

Untuk mengatasinya, lanjut Bungaran, Indonesia harus mampu meningkatkan produksinya dengan cara meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini masih belum optimal. Bahkan tingkat produktivitas kebun sawit Indonesia saat ini masih jauh di bawah Malaysia.

Tidak ada pilihan lain kecuali pelaku usaha sektor perkebunan kelapa sawit fokus pada upaya peningkatan produktivitas melalui berbagai program intensifikasi. Bagi pelaku usaha perkebunan besar, baik swasta maupun BUMN, program intensifikasi sudah berjalan dan menjadi fokus utama dalam tata kelola usaha perkebunan mereka saat ini.

"Tantangannya adalah bagaimana upaya peningkatan produktivitas ini juga bisa dilakukan oleh para petani atau perkebunan rakyat," katanya mengingatkan.

Petani Sawit Harus Berperan
Merujuk data dari Kementerian Pertanian tahun 2016, disebutkan bahwa dari 11,5 juta hektar perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini, 42% atau sekitar 4,83 juta hektar dimiliki oleh masyarakat atau petani (smallholders). Karena itu, keberhasilan intensifikasi perkebunan rakyat berarti juga keberhasilan sektor perkebunan kelapa sawit nasional dalam meningkatkan produktivitas.

“Masa depan sawit berada di tangan petani. Itu sebabnya daya saing petani harus ditingkatkan,” kata Bungaran

Meski demikian, mantan Menteri Pertanian 2001-2004, ini menyayangkan betapa kelembagaan/organisasi petani kelapa sawit yang ada saat ini belum bisa bekerja secara optimal. Petani diminta untuk bersatu dalam sebuah wadah yang saling menguntungkan, bisa dalam bentuk koperasi atau bentuk yang lain.

"Petani kita itu belum terorganisir dengan baik. Bagaimana bisa bekerja sama secara sinergis antara hulu dan hilirnya? Karena itu, ciptakan kondusivitas untuk bekerja sama menghadapi persaingan," tegas dia.

Apalagi, hinga saat ini, pertumbuhan produksi CPO Indonesia 89% ditopang dari perluasan area (ekstensifikasi), sementara yang berasal peningkatan produktivitas atau yield (intensifikasi) hanya 11%.

Menurut Bungaran, ke depan, Indonesia akan mengarah kepada peningkatan yield.
Namun, jika dibandingkan dengan komoditas minyak nabati milik negara-negara Amerika dan Eropa yaitu rapeseed dan kedelai, dan bunga matahari, kelapa sawit lebih efisien dalam hal produktivitas.

Dalam satu hektar (ha) kebun sawit, lanjut dia, bisa menghasilkan rata-rata 3 ton minyak sawit. Sementara soybean hanya menghasilkan 0,45 ton minyak dan rapeseed 0,69 ton per hektar. "Dari sisi produktivitas, sawit lebih unggul 4 ton per hektar dibanding soybean," jelasnya.

Kelapa sawit telah menjadi industri perkebunan strategis. Permintaan minyak sawit akan mengikuti pertumbuhan penduduk dunia. Berdasarkan data USDA, minyak sawit merupakan minyak nabati utama dunia. Dari 4 minyak nabati utama dunia, pangsa CPO mencapai 40% sedangkan kedelai 33% artinya minyak sawit berhasil mengeser dominasi minyak kedelai.

Pangsa pasar CPO Indonesia pada 1965 hanya 14 % maka pada 2016 telah mencapai 54%. Sedangkan CPO Malaysia menurun dari 55% pada 1980 menjadi 32% pada 2016. Artinya, sejak1980, CPO mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dimana pada 2016 produksi CPO dunia telah mencapai 65 juta ton atau meningkat lebih 13 kali lipat dalam 35 tahun terakhir.

Walaupun demikian, kenaikan lahan belum berbanding lurus dengan produktivitas. Produksi sawit rakyat baru mencapai 35%, tertinggal jauh bila dibandingkan dengan perusahaan perkebunan sawit swasta yang mencapai 57% dengan luas areal yang hampir sama.

Dalam kesempatan yang sama,  Direktur PPKS, Hasril Hasan Siregar mengatakan, meski saat ini kelapa sawit telah menjadi komoditi andalan dan strategis Indonesia, namun masih menghadapi permasalahan teknis dan klasik, seperti penggunaan bibit illegitim, peremajaan, pemupukan, efektivitas panen, serta permasalahan hama dan penyakit yang masih belum terselesaikan secara efektif.  

"Hal tersebut dipicu masih adanya keterbatasan akses informasi dan inovasi oleh para stakeholder, praktisi, maupun petani kelapa sawit di Indonesia," kata Hasril.  

Selain itu, ungkapnya, kondisi iklim yang tidak menentu, pemanfaatan lahan-lahan marjinal untuk kelapa sawit, serangan penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh ganoderma, permasalahan sosial dan lingkungan juga menjadi tantangan yang harus dihadapi petani.

Untuk itu, pemerintah mendorong petani kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitasnya. Perkebunan rakyat dinilai masih belum optimal dalam menghasilkan kelapa sawit.

Rendahnya produktivitas kebun petani juga diakui Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Bambang secara terpisah. Untuk itu, pihaknya tengah memperjuangkan peningkatan produktivitas kebun sawit milik petani.

"Untuk kelapa sawit, saat ini ini memang tingkat produktivitasnya masih di bawah standar optimum, sedang kami perjuangkan untuk meningkatkan," ujar Bambang di Jakarta, baru-baru ini.

Bambang menambahkan, saat ini angka produktivitas kebun sawit rakyat baru dalam kisaran 2 hingga 3 ton CPO/hektar/tahun, sedangkan perusahaan swasta perkebunan sawit besar sudah mencapai 4 ton per hektar.

"Rata-rata perkebunan rakyat kita utamanya masih berkisar 2 - 3 ton per hektar/tahun, sementara perkebunan besar swasta sudah lebih tinggi sekitar 4 ton per hektar atau bahkan ada yang mencapai 7-8 ton," ungkap Bambang.

Kendati demikian, potensi kebun sawit rakyat maupun swasta masih bisa ditingkatkan hingga mencapai 5-8 ton per hektar jika dikelola secara baik."Potensi komoditas kelapa sawit manakala dikelola dengan baik itu bisa meningkat hingga 8,45 ton per hektarnya," tambahnya.

Dari catatan Kementan, angka produktivitas itu masih kalah dengan negara tetangga yakni Malaysia yang dahulunya belajar menanam sawit ke Indonesia. "Bahkan di Malaysia yang menanam sawitnya belajar dari Indonesia sudah berhasil dengan capaian produktivitas lebih dari 10 ton per hektarnya," papar Bambang.

Melihat kondisi tersebut, saat ini pemerintah tengah berupaya melakukan replanting (peremajaan) perkebunan sawit yang saat ini mayoritas umur tanamannya sudah tua.

Adapun replanting tersebut diupayakan melalui bantuan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS)."Melalui dana BPDP-KS, mulai tahun 2017 ini kami targetkan ada 20.750 hektar untuk replanting. Target ini sebenarnya masih kecil, tetapi setidaknya di tahun 2017 ini kami tunjukkan. Harapan kami tahun 2018 target untuk replanting itu bisa lebih besar dari tahun 2017," kata dia lagi.

Berdasarkan data, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) total produksi minyak sawit dalam negeri mengalami penurunan 3% selama tahun 2016. Adapun total produksi selama 2016 dilaporkan sebesar 34,5 juta ton, turun dibandingkan total produksi 2015 sebanyak 35,5 juta ton. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id