Menu
SAJIAN ISI

Anggota Peragi Akan Dikirim ke Vietnam untuk Riset Kopi

Anggota Peragi Akan Dikirim ke Vietnam untuk Riset Kopi

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bakal memberangkatkan sejumlah anggota Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) untuk melakukan riset kopi di Vietnam. Mereka berasal dari kalangan peneliti anggota Peragi.

Memasuki usia 40 tahun Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam menyukseskan program pertanian. "Peragi memiliki potensi besar membangun pertanian Indonesia menjadi agronom modern, meningkatkan produktivitas dan berdaya saing," kata Ketua Umum Peragi, Muhammad Syakir, dalam Seminar Nasional Peragi di Bogor, belum lama ini.

Dalam seminar yang dibuka oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tersebut, Syakir menambahkan, Peragi memiliki visi sebagai organisasi profesi ahli agronomi yang bertaraf internasional dalam pengembangan keprofesian, sumberdaya manusia, dan Iptek agronomi yang berkualitas serta berdaya saing tinggi mendukung pembangunan pertanian nasional.

Di sela seminar yang mengambil tema “Peran Teknologi Agronomi dalam  Mempercepat Penciptaan dan Hilirisasi Inovasi Pertanian", serta menampilkan pembicara antara lain Herman Khaeron, Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI itu, Mentan Amran memperoleh informasi bahwa ada di antara peserta seminar yang juga anggota Peragi, yang fokus dalam budidaya kopi.

"Bapak aku minta nanti ke Vietnam yaa. Aku sudah janji sama menterinya (Menteri Pertanian Vietnam, red). Bapak wakili Peragi," ujar Amran dengan dialek Makassar yang kental.

Kementerian Pertanian (Kementan) memang berencana mengirim satu delegasi yang terdiri dari 4-6 orang yang berasal dari para peneliti Peragi dari berbagai kampus. Mereka mengemban misi untuk mempelajari cara Vietnam menggenjot produksi kopi sampai 2,5-2,8 ton/hektar.

Sementara produktivitas tanaman kopi di Indonesia saat ini jauh tertinggal disbanding Vietnam, yakni hanya pada level 600 kg per hektar. Padahal, dari sisi luas area pertanaman kopi di negara ini terbilang cukup luas, mencapai lebih dari 1 juta hektar.  

Amran menyatakan, target Kementan tidak terlalu muluk, hanya ingin meningkatkan produksi menjadi 1 ton/ha, sehingga peringkat Indonesia bisa menyalip dua besar  pada 2-3 tahun ke depan. "Tapi yang benar kerja, bukan seminar," kata peraih gelar Doktor Ilmu Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini seraya berseloroh.

Selain mengirim delegasi ke Vietnam, Kementan juga bakal melakukan upaya lain dalam meningkatkan produksi tanaman kopi di dalam negeri. Yakni, meningkatkan populasi arabika dan menggenjot  anggarannya. Kementan pun telah memetakan tantangan yang ada untuk merealisasikan misinya tersebut. Misalnya soal ketersediaan air di saat kemarau, bibit yang unggul, pendampingan, dan lahan spesifik.

Target Produksi Tahun Ini
Di tempat terpisah, Pranoto Soenarto, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mengaku optimis tahun ini kopi Indonesia mampu mencapai target produksi sebesar 637.000 ton. Pasalnya, tahun ini tingkat produksi diprediksi bakal naik sebesar 10% dibandingkan tahun lalu.

Pranoto mengakui, cuaca yang berubah-ubah menjadi salah satu faktor yang menjadi penentu produktivitas kopi. Menurutnya, produksi kopi di Indonesia rata-rata sebesar 600.000 ton hingga 700.000 ton setiap tahunnya.

Namun, hanya sekitar 450.000 ton yang memiliki kondisi bagus. "Tetapi saat ini, yang kekurangan kopi begitu banyak. Karena itu biasanya seluruh kopi juga terekspor untuk hal-hal tertentu," katanya.

Pranoto juga merasa optimis bahwa kualitas dan kuantitas kopi tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Saat ini, jumlah produktivitas kopi Indonesia sebesar 600 kilogram hingga 800 kilogram per hektar.

Menurut Pranoto, diperlukan sejumlah upaya konkret untuk dapat meningkatkan produktivitas kopi. Dia juga menjelaskan bahwa produktivitas kopi dapat dipengaruhi oleh curah hujan, kontur tanah, iklim, ketinggian tanah, pemupukan, dan banyak faktor lainnya.

Pertumbuhan ekspor, lanjut dia, juga harus dilihat dari pertumbuhan produksi. Dia menambahkan, kenaikan produksi sebesar 10% akan mendorong pertumbuhan ekspor 10% pula. Asal tahu saja, saat ini 60% dari total produksi kopi dalam negeri diekspor ke sejumlah negara.

Diakuinya bahwa kopi jenis Arabika asal Indonesia cukup banyak peminatnya di pasar mancenagara. Terutama Kopi Arabika jenis specialty coffee dari pelbagai daerah di Indonesia untuk tujuan pasar Amerika Serikat.

Kemenperin Genjot Daya Saing
Dalam pada itu, diperoleh kabar bahwa potensi pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) pengolahan kopi di dalam negeri sangat besar. Apalagi, mereka selama ini juga didukung oleh 13 sentra produksi kopi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Sentra kopi tersebut antara lain berlokasi di Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua dengan total sebanyak 476 unit usaha.

Agar potensi komoditas ini bisa terus berkembang, Kementerian Perindustrian berusaha menggenjot daya saing kopi nasional di sektor IKM ini dengan memberikan bantuan peralatan produksi dan pelatihan kompetensi sumber daya pelaku IKM kopi nasional.

Peralatan kopi seperti mesin roaster, thermo digital dan mesin giling biji kopi dari pemerintah tersebut diberikan ke sentra-sentra produksi kopi di daerah. “Alat pengolahan kopi yang diberikan ini agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk IKM guna memajukan industri kopi nasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, di Jakarta, belum lama ini.

Kemenperin juga akan melaksanakan beragam program pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri kopi dan fasilitasi alat pengolahan kopi di berbagai sentra penghasil kopi khas dan IKM pengolahan kopi potensial. “Misalnya, pengembangan SDM mulai dari kegiatan pengolahan green bean, roasting hingga produk kopi murni dan diversifikasi produk kopi,” katanya lagi.

Pada tahun 2017, Ditjen IKM juga akan melakukan serangkaian pembinaan untuk komoditas kopi, mulai dari sertifikasi mutu, bimbingan teknis, dan bantuan alat roasting di beberapa daerah antara lain Kabupaten Timika - Papua, Kab. Tanjung Jabung Barat - Jambi dan Kota Jambi, Kab. Tanggamus - Lampung, Kab. Sumbawa - NTB, Bandung - Jawa Barat, serta DKI Jakarta.

Pada tahun 2018-2019, Kemenperin juga akan terus melanjutkan berbagai program dan kegiatan pengembangan IKM kopi di Indonesia dengan fokus pada penumbuhan wirausaha baru IKM kopi di seluruh sentra potensial yang mempunyai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Kementerian Perindustria mengakui perlunya peningkatan pengembangan industri kopi nasional di tanah air. Menurut Airlangga, saat ini Indonesia baru mampu mengolah kopi dalam bentuk ekstrak, instan, esensi dan konsentrat sebesar 30% dari hasil produksi kopi untuk diekspor. Sedangkan sisanya sebesar 65% masih diekspor dalam bentuk biji.

Guna mendorong produksi kopi nasional dan mengatasi tantangan pengembangan industri pengolahan kopi ke depan, Kementerian Perindustrian telah menyusun kebijakan strategis. Di antaranya, memasukkan industri pengolahan kopi ke dalam industri prioritas pada rentang tahun 2020-2024 sesuai dengan PP No. 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional 2015-2035.

Kemudian, memberikan fasilitas pajak penghasilan (PPh) untuk investasi baru industri pengolahan kopi di beberapa daerah (KBLI 10761) di luar Jawa. Mengharmonisasikan tarif bea masuk (MFN) produk kopi olahan berupa kopi sangrai, kopi bubuk, kopi instan, dan kopi mix dari 5% menjadi 20% melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 132 Tahun 2015.

Harmonisasi tarif ini dimaksudkan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi industri pengolahan kopi di dalam negeri.  Langkah terakhir yang dilakukan oleh Kemenperin adalah memberlakukan standar nasional (SNI) Kopi Instan secara wajib yang mulai efektif pada 17 Januari 2016 sesuai Peraturan Menteri Perindustrian No. 87 tahun 2014.

"Sejauh ini, Indonesia telah mampu mengekspor olahan biji kopi nasional ke berbagai negara tujuan ekspor, antara lain Mesir, Taiwan, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura," kata Airlangga. *** AP, NM

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id