Menu
SAJIAN ISI

Pabrik Gula Tidak Menerima Tebu Secara Sembarangan

Pabrik Gula Tidak Menerima Tebu Secara Sembarangan

Kalangan CEO pabrik gula (PG) di Jatim sepakat untuk musim giling tebu tahun 2017 ini, pihak PG hanya akan menerima tebu petani yang bersih dan berkualitas tinggi untuk digiling. Hal itu dilakukan agar petani tidak menebang tebu secara sembarangan, masih kotor dan ada yang tingkat kemasakannya belum siap untuk ditebang.

Direktur Utama PTPN XI M Cholid mengemukakan, manajemen PTPN XI bertekad untuk meningkatkan produksi gula menjadi 432.327,7 ton dari 5.490.006 ton tebu yang digiling pada musim giling tebu tahun ini.

“Untuk mencapai target tersebut, tentunya kita secara bersama-sama harus bisa mencapai rendemen tebu pada akhir giling yakni 8% melalui sejumlah upaya,” kata Cholid, belum lama ini di Surabaya.

Untuk mengejar rendemen tinggi, contohnya, kata dia, PTPN XI akan mengubah pola kerja petani terutama bagaimana sistem tebang yang baik, muat dan angkut yang selama ini menjadi momok bagi hasil tebu petani yang seharusnya punya tiga ciri, yakni manis, bersih dan segar.

“Bersama dengan seluruh CEO pabrik gula di Jawa Timur, kami semua sepakat, mulai tahun ini semua PG hanya akan menerima tebu petani yang bersih dan berkualitas tinggi untuk digiling di pabrik kami. Ini semua dilakukan agar para petani tidak menebang tebu dengan cara sembarangan, masih kotor dan ada yang tingkat kemasakannya belum siap untuk ditebang,” paparnya.

Tak hanya itu, manajemen PTPN XI juga menyiapkan strategi untuk mendongkrak produksi gula di Jatim. Salah satunya dengan meningkatkan kinerja pabrik dengan melakukan perbaikan (off farm) secara kontinyu untuk menjami mutu gula, serta demi kelancaran musim giling. Selain itu, juga mempersiapkan proyek revitalisasi di PG Djatiroto dan PG Asembagus.

Ditambahkannya, pada musim giling tebu 2017, PT PN XI optimis Jawa Timur akan menjadi lumbung gula nasional. Untuk mencapai Jatim lumbung gula nasional, PTPN XI telah membuat beberapa terobosan. Berbagai upaya telah dilakukan perseroaan untuk mencapai target sebagai salah satu provinsi kedua terbesar di Jawa karena berkontribusi 14,5% terhadap total produksi nasional.

Pada tahun 2016, PTPN XI telah menggiling tebu petani dan tebu lahan HGU sebanyak 5.106.563 ton tebu. Dan telah menghasilkan produksi gula kristal putih (GKP) mencapai 319.913,1 ton gula. Dan pencapaian ini merupakan yang terbesar karena berkontribusi terhadap total produksi nasional.

Bantu Petani Dapatkan KUR
Untuk meningkatkan produksi gula Jatim,  PTPN XI juga mengupayakan agar petani yang menjadi binaannya bisa meningkatkan produksi tebu, sekaligus juga bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. .

Cara yang ditempuh antara lain, PTPN XI akan membantu para petani untuk mendapatkan pendanaan yang cepat dan tepat bagi petani dengan cara menggunakan skema pinjaman seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit di Bank Jatim, melalui bank BUMN atas jaminan PTPN XI, maupun melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Para petugas PTPN XI juga akan menyediakan layanan mekanisasi untuk para petani tebu sehingga membuat pekerjaan on farm lebih cepat dan efisien. Termasuk dalam penggunaan alat-alat pemupukan, alat-alat membuka lahan.

PTPN XI juga berkoordinasi atau kerja sama dengan perusahaan penyedia pupuk agar pemupukan tanaman tebu petani rakyat dan tebu sendiri bisa tepat waktu dan tidak terlambat sehingga pertumbuhan tebu pun dipastikan bisa seragam. “PTPN XI secara langsung juga mengatur dan menyiapkan program pemantauan tebu yang siap atau matang untuk ditebang dan digiling,” kata Cholid.

PTPN X Operasikan 10 PG
Manajemen PTPN X akan mengoperasikan 10 dari 11 PG miliknya untuk musim giling tebu tahun ini. PG yang tidak dioperasikan itu adalah Pabrik Gula Toelangan. Kabar tentang itu disampaikan oleh Direktur Utama PTPN X, Dwi Satrio Annurogo, di Pasuruan, belum lama berselang.

"Bahan baku untuk Pabrik Gula Toelangan sudah tak mencukupi. Kami sudah menghadap Pak Soekarwo, Gubernur Jatim. Pak Gubernur sudah memaklumi, menyampaikan  bahwa benar Toelangan sudah tidak bisa dioperasikan secara ekonomis," kata Dwi.

Tahun lalu, Pabrik Gula Toelangan hanya beroperasi selama 7 hari. Selama ini PG Toelangan memiliki kapasitas terpasang 1.400 ton tebu per hari. Pasokan tebu  semakin kecil, karena area tebu sudah beralihfungsi. "Tahun ini tidak beroperasi sama sekali."

Dari 10 pabrik gula tersebut, tiga pabrik di antaranya akan memulai proses giling tebu pada akhir Mei atau awal Juni. Sementara 7 pabrik lainnya akan beroperasi setelah Lebaran, yakni  pada Juli 2017.

"Kenapa kami lakukan setelah Lebaran? Ini untuk mendapatkan rendemen tinggi. Tebu walau terlihat besar, sementara musim masih hujan dan tingkat kematangan belum bagus, kalau ditebang, kami hanya akan dapat air saja," papar dia.

PTPN X sudah menganalisis tingkat kemasakan tebu dan ternyata masih belum sesuai harapan. Selain itu, pertimbangan proses penggilingan tebu dimulai setelah Lebaran tak lepas dari hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geosifika. ***AP, SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id