Menu
SAJIAN ISI

Perlu Sinergi “Stakeholders” Wujudkan Swasembada Gula

Perlu Sinergi “Stakeholders” Wujudkan Swasembada Gula

Kementerian Pertanian menargetkan tahun 2019 Indonesia bisa mencapai swasembada konsumsi gula. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan sinergi yang optimal antar pemangku kepentingan (stakeholders) di industri gula nasional.

Tekad pemerintah cq Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mewujudkan swasembada gula, khususnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, pada tahun 2019, memang besar.  Itu pula sebabnya, bisa dipahami bila sejak satu dua tahun terakhir ini berbagai langkah disiapkan oleh kementerian yang dipimpin oleh Andi Amran Sulaiman tersebut.

Maklum, untuk mewujudkan swasembada gula konsumsi tersebut bukanlah pekerjaan yang gampang. Pangkal soalnya, banyak kendala di lapangan yang mesti dicarikan jalan keluarnya terkait dengan pengelolaan kebun tebu milik petani berikut pemrosesannya di pabrik gula (PG) yang ada di negeri ini.   

Petani tebu di Jawa, terutama yang ada sekitar PG umumnya kepemilikan lahannya sangat sempit, berkisar 0,5 hingga 0,75 hektar. Ada satu dua petani yang memiliki lahan 1 hektar hingga 2 hektar.  Banyaknya areal pertanaman tebu yang sempit ini menjadikan petani tidak efisien dalam mengelola usahatani tebunya.  

Dengan kondisi lahan yang relatif sempit itu, sangat sulit bagi pemerintah untuk membantu peralatan mekanisasi dalam rangka menekan biaya pengolahan lahan maupun pemanenan. Karena itu, kata Dirjen Perkebunan, Bambang, dari sisi lahan, harus ada kebesaran hati dari petani tebu yang ada saat ini untuk melaksanakan regrouping supaya mekanisasi bisa operasional, dan pemerintah bisa membantu.

“Pemerintah saat ini, mulai dari presiden hingga menteri sudah menginstruksikan kepada kita untuk membantu alat mesin. Tetapi para penyelenggara di lapangan yang mengurusi petani semuanya ketakutan, kalau ternyata alat-alat mekanisasi tidak bisa operasional di lapangan karena lahannya sempit-sempit,” papar Bambang ketika tampil sebagai pembicara pada seminar bertajuk “Peluang & Tantangan Industri Gula Nasional Menuju Swasembada 2019” di Kemayoran, Jakarta, belum lama ini.

Tak hanya masalah sempitnya lahan tebu yang dimiliki petani di Jawa.  Sebagian di antara petani tebu juga mulai kurang tertarik menanam tebu. Itu pula sebabnya, dirjen perkebunan dalam kesempatan itu mengimbau pengurus organisasi yang mewadahi petani tebu di Indonesia ini, baik yang asosiasi maupun andalan petani tebu memotivasi petani di wilayah binaannya masing-masing agar tertarik untuk menanam tebu.

Tapi, di sisi lain, lanjut dirjen,  patut pula disyukuri masih ada kalangan petani tebu di lapangan yang memiliki kepedulian tinggi untuk mewujudkan swasembada gula, dengan menyewa lahan ini, mulai dari 25 hekter hingga 100 hektar. Jadi bisa dibilang beruntung pula masih ada teman-teman yang punya duit dan punya kepedulian untuk memberikan dukungan kepada suksesnya swasembada gula di negara ini.


“Pemerintah akan berupaya untuk membantu petani tebu agar mendapatkan penghasilan yang memadai dari usahatani tebunya. Swasembada gula yang akan kita raih bersama kelak bukan sekadar untuk mencukupi kebutuhan gula kita secara nasional, tapi bagaimana swasembada yang bisa menjadikan industri gula nasional juga berdaya saing di pasar global. Dan yang lebih penting adalah swasembada gula yang bisa mensejahterakan petani tebu di Indonesia,” papar Bambang.

Peran industri gula dalam membina sekaligus petani tebu yang ada di sekitar pabriknya juga dinilai punya peranan yang cukup penting dalam mengantarkan Indonesia meraih swasembada gula konsumsi tahun 2019 tersebut. Sebab, sangat mustahil bila industri gula bisa kuat di negara ini tanpa ditopang oleh petani tebu yang ada di sentra-sentra penghasil tebu.

Karena itu, kerjasama yang saling menguntungkan antara petani tebu dengan industri gula yang ada di sekitarnya perlu terus makin ditingkatkan dari waktu ke waktu.  “Apapun kebijakan itu, kalau industri gula tidak mampu membuat petani tebu untung, saya kira nggak  akan pernah bisa kita capai swasembada gula di negara kita tercinta ini.”

Kerjasama itu bisa pula diwujudkan dalam bentuk memberikan pembinaan kepada petani tebu di sekitar industri, terutama menyangkut bagaimana upaya konkret meningkatkan produktivitas tebu di lahan petani.  

Persoalan kelangkaan air di lahan kering misalnya. “Kita bisa menggunakan cara-cara cerdas, di lokasi yang dekat dengan sumber-sumber air kita bisa beli pompa air dengan harga murah. Tidak harus membangun irigasi yang harganya triliunan. Yang penting kita bimbing ke sana, bagaimana menanam tebu memenuhi kaidah-kaidah budidaya yang benar dan baik sehingga produksinya bisa meningkat, “ katanya.   

Menurut Bambang, dalam rangka mewujudkan swasembada gula konsumsi tahun 2019 nanti, peran dan kontribusi penguasa daerah, entah itu bupati/walikota maupun gubernur berikut satuan perangkatnya di daerah dalam mendukung suksesnya swasembada gula juga sangat diharapkan.  

“Jadi, tolong disampaikan kepada pak bupati atau pak gubernur, istilahnya kita perlu ada pengamanan lahan. Sebab, yang terjadi saat ini di sekitar pabrik gula masih banyak yang ditanami singkong misalnya.  Harus ada pengamanan pemda, perlu ada kesadaran kolektif, mengingat industri gula tidak sedikit investasi untuk membangun pabrik hingga triliunan rupiah. Kalau tidak ada proteksi dari pemerintah daerah untuk mengamankan wilayah dalam kaitan mencukupi kebutuhan bahan baku industri gula maka saya kira akhirnya industri juga menjadi tidak untung,” papar dia lagi.

Minimal Produksi 3 Juta Ton
Untuk mewujudkan swasembada gula konsumsi tahun 2019 maka tingkat produksi gula nasional yang tahun lalu hanya mencapai kisaran 2,2-2,3 juta ton, harus bisa ditingkatkan menjadi 2,5 juta ton pada tahun 2017 ini. Tahun 2018 diharapkan bisa meningkat lagi produksi gula kristal putih (GKP) menjadi di kisaran 2,7 juta ton sehingga tahun 2019 setidaknya produksi gula nasional mencapai minimal 3 juta ton, atau kurang lebih sesuai dengan kebutuhan gula untuk konsumsi di dalam negeri.

Untuk menghasilkan produksi gula minimal 3 juta ton tersebut, lanjut Bambang, lahan untuk pertanaman tebu yang tersedia saat ini secara keseluruhan hanya sekitar 450.000 hektar. Karena itulah, ungkap Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Ditjen Perkebunan, Agus Wahyudi menambahkan, pihaknya akan mengupayakan areal pertanaman tebu, yang sekarang baru tersedia 450 ribu hektar akan ditingkatkan menjadi sekitar 500 ribu hektar.

Jadi, lanjut Agus yang juga tampil sebagai pembicara dalam seminar tersebut, harus ada tambahan untuk dua tahun ke depan sekitar 50 ribu hektar lagi.

“Pada tahun ini mudah-mudahan perluasan bisa kita capai antara 15-20 ribu hektar. Dari mana perluasan itu? Itu dari lahan-lahan yang dulunya kita pernah tanami tebu, dulu lahan gula pernah mencapai luasan tertinggi yaitu 477 ribu hektar tahun 2015, jadi kita ingin kembalikan dari 450 ribu hektar naik menjadi 470 ribu hektar,” katanya.

Sebetulnya, menurut Dirjen Perkebunan Bambang, kebutuhan lahan untuk tanaman tebu bila Indonesia ingin mencapai swasembada gula nasional untuk mencukupi kebutuhan konsumsi maupun industri makanan dan minuman mencapai seluas 750 ribu hektar. Perluasan areal tebu ini akan diarahkan ke luar Jawa, sedangkan di Jawa akan dilakukan peningkatan produktivitas tebu milik petani.

“Rata-rata tebu kita produktivitasnya baru berada pada kisaran 4 ton per hektar. Para pakar varietas pengembangan benih sudah ada yang merekomendasikan produksi gulanya di atas 12 ton per hektar. Tidak usah 12 ton, kalau bisa 10 ton saja berarti sudah setidaknya 2-3 kali lipat,” jelas Bambang.

Menurut Agus Wahyudi, pemerintah juga mendorong pengembangan pabrik tebu di luar Jawa dalam kerangka untuk mewujudkan swasembada gula tahun 2019 nanti. “Beberapa waktu lalu, kita pernah meninjau panen tebu di lahan rawa di Sumsel. Kita optimis kalau lahan tebu di atas rawa ini berhasil maka lahan rawa yang berikutnya itu memiliki potensi yang tinggi untuk melakukan perluasan.

Dan kita melihat di lahan rawa transportasi di kebun itu menggunakan saluran-saluran air sehingga sangat efisien. Kemudian dengan sistem drainase tertentu, produktivitas juga sangat baik dari percobaan-percobaan yang pernah kita lakukan.” ***HB,NM,AP

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id