Menu
SAJIAN ISI

Bukan Hanya Sawit yang Butuh ‘Replanting’

Bukan Hanya Sawit yang Butuh ‘Replanting’

Rendahnya produktivitas disebabkan tanaman yang sudah tua dan berasal dari bibit asalan perlu segera di-replanting. Untuk itu, pemerintah bertekad mempercepat peremajaan komoditas perkebunan mulai tahun ini untuk menutup kebutuhan bahan baku industri.

Komoditas perkebunan seperti gula, teh, kopi, karet, kakao, kelapa sawit dan rempah sudah menjadi andalan ekspor indonesia. Bahkan, hingga saat ini Indonesia masih dikenal sebagai negara penghasil enam komoditi utama perkebunan.
 
Namun belakangan ini, sektor perkebunan dianggap melesu hampir semua komoditas. Pertumbuhan produksi menurun tajam dalam lima tahun terakhir, pada komoditas karet sebesar 5,6%, kopi 0,1%, bahkan minus pada kakao dan teh masing-masing sebesar 7,8%, dan 4,5%.

Sementara luas areal komoditas umumnya tumbuh stagnan, bahkan negatif, kecuali kelapa sawit dan kakao yang meningkat diatas 5% per tahun.Produktivitasnya pun melemah. Untuk itu pemerintah fokus membenahi sektor ini dengan mendorong adanya replanting (peremajaan tanaman).

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian, Muzdalifah mengatakan, bukan hanya kelapa sawit yang menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga berbagai komoditas perkebunan lainnya seperti kakao, kelapa, karet, teh, kopi dan rempah.

Komoditas tersebut harus diperbaiki saat ini juga. "Karet kita dan kelapa, juga kakao butuh replanting," ujar Musdalifah, baru-baru ini, di Jakarta.

Apalagi saat ini industri kakao di Indonesia tengah berkembang dengan kapasitas 600 ribu ton. Untuk itu, replanting harus dipercepat agar produktivitas kakao meningkat. "Karena jika tidak, industri bisa mati karena kekurangan bahan baku," ujar dia lagi.

Menurutnya, mendorong perkebunan sejalan dengan program Nawacita Presiden Joko Widodo untuk membangun perekonomian di pinggiran Indonesia. Sebab, melalui perkebunan inilah masyarakat bisa secara maksimal memanfaatkan lahan yang ada dan mudah. Sebaliknya, melakukan pertanaman pada sektor pertanian seperti sawah memerlukan perawatan khusus.

Pemanfaatan lahan pun telah didukung pemerintah melalui Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) agar petani bisa secara legal mengelola tanahnya. Hal itu akan mendorong mereka menjaga lahan tersebut karena adanya rasa tanggung jawab. Apalagi kini pemerintah terus memacu pembangunan infrastruktur dalam konteks mendorong industri hasil perkebunan agar lebih maju.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan,  pemerintah akan memberikan bibit gratis 9 komoditi kepada petani di seluruh Indonesia. Darmin merinci ke 35 juta bibit tersebut mencakup 4,8 juta batang bibit kopi; 2,7 juta bibit pala; 2 juta bibit lada; dan 5,7 juta bibit karet.   

Dirjen Perkebunan Kementan, Bambang menambahkan, penyediaan benih itu telah melibatkan banyak pihak mulai dari pusat-pusat penelitian hingga perguran tinggi. Pembagian benih gratis ini, lanjunya, sebagai tanda keseriusan pemerintah untuk membangun kembali dunia perkebunan di Indonesia.

"Benih, menjadi salah satu persoalan yang membuat perkebunan di Indonesia kurang produktif," jelas Bambang di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut dia, banyak petani rakyat yang masih memakai benih yang asal-asalan dan kurang berkualitas, sehingga hasil yang diperoleh pun kurang memuaskan, baik dari segi kualitas, maupun kuantitas.

Bambang memberi contoh perkebunan sawit Indonesia yang luasnya hampir 11,9 juta hektar. Sekitar 48 persen atau 4,7 hektar adalah perkebunan rakyat. Dari kebun rakyat itu, setiap tahunnya sawit yang bisa dipanen hanya sekitar dua ton CPO saja per hektar. Padahal korporasi sawit bisa memanen sekitar 5 ton per hektar per tahun.

"Sebagian sawit kebun rakyat dikembangkan dengan tradisional. Benihnya tidak berasal dari sumber yang baik. Benih kelapa sawit harus diolah dengan baik, bukan distek biasa," tukas Bambang.

Padahal, apabila digarap dengan baik dan serius, sehingga perkebunan rakyat bisa memanen tujuh sampai delapan ton per hektar per tahun, negara bisa memperoleh nilai tambah sebesar Rp 125 triliun.

Begitu pula dengan kopi, 1,3 juta hektar kebun di Indonesia baru bisa menghasilkan 600 sampai 700 kg per hektar per tahun. "Padahal Vietnam yang belajar dari Indonesia saja bisa menghasilkan tiga sampai empat ton per hektar per tahun," kata dia.

Bila bisa dinaikkan hingga mencapai produksi 3 ton per hektar per tahun, dia memperhitungkan raupan Indonesia dari kopi bisa naik lima kali lipat. Demikian pula dengan kakao yang hasilnya hanya 700 hingga 800 kg per hektar per tahun.

Pemerintah sempat menyuntik bantuan melalui Gerakan Nasional Kakao. Namun, gerakan itu baru sebesar 26 persen saja. Padahal, penurunan yang terjadi akibat usia maupun faktor lainnya juga cukup besar.

Contoh terakhir adalah tanaman tebu di Indonesia yang produktivitas dan rendemennya masih rendah. "Sekarang tebu rakyat masih kecil-produktivitasnya, hanya berkisar 40 ton per hektar per tahun, padahal zaman Belanda dulu mencapai 150 ton per hektar per tahun," paparnya.

Adapun Bambang menyebutkan progres pembagian bibit itu telah lebih dari 25 persen dan dibiayai oleh dana APBN-P. Namun dia tidak menyebutkan besarannya.

Baik benih kakao, benih kopi, benih karet maupun benih komoditas perkebunan lainnya sudah banyak di masyarakat. "Mereka sudah siap sebelumnya. Dari tahun lalu sudah dipersiapkan," tambahnya.

Tidak hanya berhenti hingga Desember tahun ini, ia melanjutkan, pihaknya akan melanjutkan pengadaan benih pada tahun depan. Bukan hanya fokus pada benih, ia berharap tahun 2018 ada tambahan alokasi yang signifikan untuk intensifikasi berbagai tanaman perkebunan rakyat. "Tolong menjadi catatan penting, digarisbawahi itu," kata dia.

Intensifikasi yakni pemeliharaan secara intensif terhadap komoditas perkebunan rakyat sangat perlu dilakukan pada tanaman usia produktif. Intensifikasi ini berupa pemeliharaan sejak pemupukan hingga pengendalian hama penyakit. Sehingga, nantinya produktivitas tanaman perkebunan rakyat akan meningkat dan berdampak pada kesejahteraan petani rakyat.

Di tempat berbeda, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan bantuan bibit cengkeh kepada petani di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Tujuannya, agar wilayah perbatasan tersebut dapat mengekspor rempah-rempah.

Amran mengatakan, di sisa kerjanya yang tinggal dua tahun, dirinya akan fokus untuk mengembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia.

"Mulai sekarang kembali ke perkebunan dan rempah-rempah. Dulu, 500 tahun lalu, Spanyol, Belanda, dan Inggris ke Indonesia karena rempah-rempah, bukan karena tambang. Saya kasih bibit cengkeh dan lada. Tolong tanam, karena Malaysia butuh," kata Amran di Nunukan, baru-baru ini.

Dikatakannya, saat ini Indonesia sudah bisa mandiri pangan, bahkan mengekspor beras, jagung, dan bawang merah dari berbagai daerah perbatasan, seperti Entikong, Belu, Malaka, dan Merauke. Dan kini fokus mendorong komoditas rempah-rempah seperti cengkeh, lada, dan biji pala.

Disebutkannya, Kementerian Pertanian memberikan bibit cengkeh sebanyak 30 juta batang untuk seluruh Indonesia secara gratis.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara, AM Santiaji mengungkapkan, bantuan bibit cengkeh yang diberikan untuk Kabupaten Nunukan sebanya 13.000 batang.

Dia menambahkan, cengkeh merupakan komoditas rempah-rempah yang membutuhkan perhatian khusus karena proses tanamnya yang memakan waktu lama.

"Cengkeh proses tanamnya tiga tahun sudah bisa berbuah. Perkebunan cengkeh memang rawan karena saat ditanam, kalau tercabut langsung mati. Jadi harus dijaga agar tidak mudah mati," ujarnya.

Kata Santiaji, potensi pendapatan yang didapat dari cengkeh sebesar yaitu Rp 120.000 sampai Rp 130.000 per kg jika berkaca pada penjualan cengkeh di Sulawesi Selatan tahun ini.

Adapun berdasarkan data BPS periode Januari hingga November 2016, kondisi rempah Indonesia saat ini memang menunjukkan tren penurunan ekspor. Nilai total ekspor rempah Indonesia sebesar US$ 653,3 juta, turun dibandingkan nilai ekspor tahun 2015 pada periode yang sama sebesar US$ 770,42 juta, kecuali komoditas vanili yang naik dari US$ 14,41 juta tahun 2015 menjadi US$ 62,08 juta pada periode yang sama tahun 2016.  ***SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id