Menu
SAJIAN ISI

Awal 2018, Harga CPO Diprediksi Naik

Awal 2018, Harga CPO Diprediksi Naik

Awal November lalu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) punya hajatan besar, bertajuk 13th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2018 Price Outlook: Toward The Future Potensial of Indonesia Palm Oil Conference digelar di Nusa Dua Bali. Seperti biasa, semua peserta dengan antusias mendengarkan prediksi harga CPO untuk tahun depan. Yang menggembirakan, harga diprediksi naik.

'Dukun sawit' pertama yang meramal harga sawit akan naik pada tahun depan adalah, Dorab Mistry. Analis minyak nabati Godrej International Ltd. ini memperkirakan harga minyak sawit mentah (CPO)akan melompat dari US$735 per ton tahun ini ke posisi US$800 per ton pada Januari 2018.

Hal ini disebbabkan penurunan stok CPO, meskipun produksi meningkat. "Harga CPO di bursa CIF Rotterdam akan meningkat dari US$735 per ton menjadi US$800 per ton pada Januari 2018," ujarnya.

Perkiraan Dorab ini didasarkan pada beberapa asumsi, yakni harga minyak mentah Brent naik dari US$45 menjadi US$65 per barel dan pengetatan bertahap suku bunga the Fed yang diikuti kenaikan suku bunga pinjaman.

Di samping itu, kurs dolar Amerika Serikat diasumsikan menguat terhadap mata uang Brasil, Argentina, dan India, serta kebijakan perdagangan Negeri Adikuasa itu. "Mulai Januari 2018, stok akan turun setiap bulan dan kita akan melihat stok paling ketat yang pernah terjadi," papar Dorab.

Bahkan, menurut Dorab, harga CPO bisa menanjak ke posisi US$850 per ton jika panen kedelai di Amerika Latin, rapeseed di Eropa, dan biji bunga matahari di Ukraina, tidak menggembirakan.

Selain itu, dia menambahkan harga RBD olein bisa menyentuh US$750 per ton menggunakan basis free on board (FOB). "Jika panen kedelai di Amerika Selatan terpengaruh, harga bisa naik US$50 per ton," ujarnya.

Dia mempertahankan proyeksi produksi sawit Indonesia yang naik dari 36,5-37 juta ton tahun depan, sedangkan Malaysia hampir 20 juta ton.

Secara jangka panjang, Dorab meramal harga minyak sawit akan menanjak lebih tinggi pada 2021-2022 menyusul keterbatasan areal untuk ekspansi. Pasalnya, Malaysia telah jenuh. Pada saat yang sama, Indonesia menerapkan moratorium sehingga ekspansi melambat dari 500.000 hektar (ha) menjadi 150.000 ha per tahun.
Hal ini diperkirakannya akan kembali mengerek harga CPO tahun depan, meski ia tak memberi prediksi angka pasti.

Prediksi soal harga CPO naik pun disampaikan James Fry, Chairman LMC International Ltd. Menurutnya, harga minyak sawit mentah (CPO) bisa naik hingga level RM2.950 (U$697) per ton pada Januari sebelum kemudian jatuh ke RM2.600 jika harga minyak mentah naik hingga kuartal kedua 2018.

Meski demikian, Fry memperingatkan, harga minyak sawit akan jatuh ke bawah level RM2.400 per ton , seiring permintaan terhadap komoditas ini melemah selama musim dingin.

"Brent gonjang ganjing menyusul keinginan Arab Saudi menggalang dana segar dari pencatatan saham perdana (IPO) Aramco dan minyak acuan AS merespons naiknnya harga minyak dunia," kata Fry mengacu pada rencana IPO Saudi Aramco, yang merupakan perusahaan minyak milik pemerintah Saudi.

"Jika Anda pikir rencana Saudi itu masih belum terlaksana, setidaknya hingga kuartal kedua tahun depan, harga CPO akan menyentuh level tertinggi di 2.950 ringgit pada Januari dan kemudian turun lagi menuju 2.600 ringgit," paparnya.

Dengan harga minyak Brent, yang merupakan minyak acuan Eropa, berada di level $60 per barel, Fry mengestimasi harga minyak sawit akan menguat melampaui level RM2.800 per ton pada Januari, sebelum melorot di bawah RM2.500.

Harga minyak sawit dapat merosot menuju RM2.300 per ton jika harga minyak dunia berada di level $55 per barel, tambahnya.

Untuk diketahui, harga minyak sawit menanjak ke level tertingginya sejak 15 September pada awal pekan ini, tapi kemudian turun sekitar 9 persen selama tahun ini.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi proyeksi harga tersebut. Pertama, pengaruh melambatnya pertumbuhan produksi dari negara produsen utama CPO, yaitu Indonesia dan Malaysia.

"Secara keseluruhan, kami mengestimasi bahwa produksi di Indonesia akan melambat hanya sekitar 3 persen per tahun untuk kurun waktu 2015-2020," ujar Fadhil.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago edisi Desember 2017. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id