Menu
SAJIAN ISI

Pemakaian Pestisida Harus Sesuai Dosis

Pemakaian Pestisida Harus Sesuai Dosis

Sebagai asosiasi pangan non profit, Croplife berkomitmen membangun sektor pertanian dengan menaruh perhatian terhadap bioteknologi dan perlindungan tanaman. Salah satunya terkait tata kelola penggunaan pestisida untuk menanggulangi serangan Orgasme Pengganggu Tanaman (OPT).

Direktur Eksekutif Croplife Indonesia, Agung Kurniawan mengatakan, orientasi penanggulangan OPT ini tidak harus dengan pestisida. Tapi bisa dengan pengelolaan hama terpadu. Jika harus menggunakan pestisida pun maka harus diperhatikan tanggung jawab penggunaan wadah, serta pengelolaan pembuangan sisa pakai.

“Saat ini cuaca yang ekstrim menjadi salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya OPT yang menjadi musuh petani. Di sini Croplife telah melakukan Stewardship selama tahun 2017, berupa edukasi mulai dari penelitian sampai pengelolaan sisa pakai pestisida,” kata Agung di sela "Croplife Agriwarta Awards 2018" di Aston hotel, Jakarta, Rabu (6/3).

Kegiatan Stewardship tersebut dilakukan di dua provinsi, yakni Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat terhadap 2.000 petani yang berpartisipasi. Selain mengedukasi petani, Croplife juga melakukan kegiatan training of trainer (ToT) terhadap Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang ada di daerah.

“Kami mengetahui pentingnya peran PPL dalam mengedukasi petani. Jadi sampai saat ini kami telah mengedukasi sekitar 249 tenaga PPL yang memiliki akses kepada petani. Kami berharap mereka bisa menjadi guru bagi petani kita.” ujar Agung.

Dalam memberikan edukasi pertanian sepanjang 2017, Croplife Indonesia yang yang saat ini membawahi delapan perusahaan pestisida multinasionaI yaitu Bayer, Monsanto, BASF, Dow Agroscience, FMC, Dupont, Nufarm dan Syngenta, menggunakan konsep PHPT (Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu) dengan mengajarkan petani terkait 5 cara tepat penggunaan pestisida.

“Sebelum mengaplikasikan pestisida, setidaknya petani diharuskan memahami dengan baik lima aturan utama penggunaan pestisida tersebut. Yaitu memahami label, mengerjakan dengan hati-hati, merawat sprayer dengan baik, menjaga kebersihan diri dan kenakan alat pelindung diri,” jelas Agung.

Hal yang paling mendasar tapi sering kali petani tidak paham adalah tentang dosis penggunaan pestisida. Seringkali petani menggunakan pestisida tanpa dosis yang terkadang sudah tertera di label. “Jadi dalam stewardship, edukasi yang paling sederhana mulai dari mengajarkan petani bagaimana membaca label. Petani memiliki kemampuan membaca label itu hal paling mendasar yang harus diketahui petani,” paparnya.

Selain akan terjadi pemborosan dan kerugian karena hasil yang tidak maksimal, perlu diketahui pengaplikasian pestisida yang tidak sesuai dosis dapat menyebabkan resistensi atau kekebalan terhadap OPT itu sendiri.
“Banyak petani menggunakan pestisida hanya berdasarkan pengalaman dan tidak punya referensi. Ini dikhawatirkan tercipta resistensi atau kekebalan terhadap OPT. Jadi berapa pun pestisida yang digunakan OPT tidak akan berkurang justru akan bertambah karena mungkin sudah tercipta resistensi,” papar Agung lagi.

Tapi kembali lagi, resistensi itu sesuatu hal yang bisa ditanggulangi dengan mengubah kebiasaan petani, yaitu dengan menggunakan sistem pengendalian hama terpadu. Karena terkadang terciptanya resistensi bukan dari orang lain tapi karena kebiasaan yang dimiliki petani itu sendiri. Sehingga semakin petani mengenali apa penyebab reistensi maka terjadinya resistensi bisa diminimalisir di suatu daerah.

Sejalan dengan hal tersebut, Kasubdit Perlindungan Hortikultura, Anik Kustaryati mengatakan bahwa resistensi bisa tercipta karena pemakaian terus menerus yang tidak sesuai sehingga bisa menyebabkan dosis baru untuk hama.

Menurut Anik, seharusnya penggunaan pestisida pertama harus berdasarkan hasil pengamatan. Sebab  ada tingkat ambang ekonomi untuk hama-hama tertentu. Kalau memang sudah mencapai ambang ekonomi baru boleh dikendalikan, salah satunya bisa dengan pestisida. Tapi upayakan pestisida adalah  alternatif terakhir setelah menggunakan sistem pengendalian hama terpadu.

“Jadi pestisida harus digunakan secara bijaksana, karena kebanyakan pestisida itu kimia dan menyebabakan degradasi dalam tanah cukup lama. Makanya harus hati-hati, harus digunakan secara baik dan benar. Harus tepat sasaran, tepat waktu, tepat dosis dan lainnya,” ujar Anik.
Anik juga menyayangkan saat ini masih banyak petani yang menjadwalkan semprot pestisida tanpa melihat ada tidaknya populasi hama dan berapa tinggi intensitas penyakit tanaman.

“Untuk mengawasi penggunaan pestisida di kalangan petani, kita juga ada petugas lapang, ada petugas pengendali OPT di setiap kecamatan dengan wilayah kerja di semua kecamatan di Indonesia, untuk memberikan bimbingan dan informasi bagaimana mengaplikasikan pestisida yang baik dan benar,” tandas Anik.  ***NM

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id