Menu
SAJIAN ISI

Cipta Lesmana: Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Paling Berani

Cipta Lesmana: Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Paling Berani

JAKARTA: Pakar komunikasi politik Tjipta Lesmana menilai Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian paling berani yang pernah dimiliki Indonesia. Menurutnya, meski diserang dari berbagai penjuru tetap tenang dan bisa bekerja dengan baik.

"Capaiannya dalam 4 tahun terakhir luar biasa. Dia banyak diam walau diserang sana-sini. Dia menutupinya dengan kerja dengan hasil menurut saya sangat luar biasa. Hanya orang munafik yang menyebut Amran gagal," ujar Tjipta dalam diskusi bulanan Forwatan, Selasa (4/12/2018), di Gedung PIA Kementan Jakarta.

Tjipta menambahkan, berdasarkan data BPS selama 4 tahun perjalanan Pemerintahan Jokowi-JK banyak capain yang ditempuh Kementan guna memberikan andil pada pertumbuhan ekonomi nasional.
"Pertama, inflasi pangan 2014 sebesar 10,57 persen, turun menjadi 1,26 persen di tahun 2017. Ini sangat menggembirakan, pasalnya di satu sisi pendapatan petani yang terlihat dari NTUP dan NTUP juga naik," tuturnya.

Amran juga dinilai sangat berani memerangi mafia pangan, satu hal yang belum pernah dilakukan menteri-menteri sebelumnya.
"Atas keberaniannnya ini, Amran diganjar penghargaan oleh i.News TV. Juga atas pemikiran revolusioner Amran yang membawa sejumlah capaian signifikan di sektor pertanian," katanya.

Tjipta menilai "dosa" satu-satunya yang melekat pada sosok Amran Sulaiman hanyalah keberaniannya melawan mafia pangan yang selalu ingin impor bahan pangan.
"Amran menggantikan kebiasaan impor pangan dengan ekspor pangan. Ini luar biasa!" katanya.

Pada bagian lain Kasdi Subagyono menambahkan, capaian Kementan dalam 4 tahun terakhir sangat luar biasa. Data BPS mengungkapkan nflasi pangan turun di angka 1,26 persen di tahun 2017 dari 10,57 persen di tahun 2014

"Ada yang mengkhawatirkan jika inflasi pangan turun bisa jadi pendapatan petani ikut turun. Nyatanya tidak. NTUP dan NTP kita naik. Penduduk miskin di desa turun dari 17 juta jiwa menjadi 15 juta jiwa selama 4 tahun," tuturnya.

Ekspor pertanian dari 2016 ke 2017 naik 24 persen dan di tahun 2018 diprediksi naik lagi. Berdasarkan data BPS, di tahun 2016 nilai ekspor hasil pertanian USD 26,73 miliar sementara di tahun 2017 naik menjadi USD 33,05 miliar.

Volume dan nilai neraca perdagangan sektor pertanian tahun 2016-2017 juga surplus. Yakni masing-masing 97,06 persen dan 45,85 persen.

Pembangunan pertanian era Perintahan Jokowi-JK telah meningkatkan investasi di sektor pertanian. Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi sektor pertanian di Indonesia baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) selama 2018 mencapai Rp 61,58 triliun. Jumlah tersebut melebihi rerata realisasi investasi pertanian dalam 5 tahun terakhir, yakni di 2017 sebesar Rp 45,9 triliun, 2016 sebesar Rp 45,42 triliun, 2015 sebesar 43,07 triliun, 2014 sebesar Rp 44,78 triliun, dan 2013 sebesar Rp 29,3 triliun.

"Investasi dari 2013 ke 2014 naik 50 persen, tapi jika dibandingkan dari 2013 ke 2018 naik 110 persen," ujarnya.

Capaian ini diperoleh karena ada perubahan di Kementan yakni telah menerapkan sistem Single Submission Online (SSO), pengurusan izin dokumem ekspor yang sebelunnya butuh waktu 3 bulan, tapi sekarang ini hanya butuh waktu 3 jam.

Amran mengatakan dalam mempercepat perwujudan swasembada pangan, Kementan telah merevisi beberapa kebijakan. Salah satunya dengan merevisi sebanyak 291 Permentan yang menghambat terwujudnya swasembada pangan. Misalnya, merevisi Perpres tentang pengadaan melalui tender menjadi penunjukan langsung.

Kebijakan pertanian selama 4 tahun Jokowi-JK pun berhasil membangun pertanian modern. Ini terlihat dari bantuan mekanisasi pertanian hingga saat ini mencapai 370.378 unit. Modernisasi pertanian saat ini untuk mendukung Revolusi Industri 4.0.

Sementara itu, Hari Priono mengingatkan perlunya petani memperhatikan perubahan iklim yang tidak bisa dihindarkan.

Perubahan iklim itu bisa dilihat sebagai sebuah ancaman, tantangan, masalah atau peluang. Bagi kalangan yang menguatirkan akan melihat sebagai sebuah ancaman dan sebuah masalah. Namun ada juga yang menganggap sebuah tantangan dan kemudian menjadi peluang. “Kalau kita mau berpikir positif, tantangan itu bisa menjadi peluang,” ujarnya Hari.

Menurut Hari, persoalan utama menghadapi perubahan iklim adalah ketersediaan air. Jadi yang perlu dipersiapkan adalah mengelola air dengan baik.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id