Menu
SAJIAN ISI

Ke Depan Dunia Akan Tergantung pada Sawit

Ke Depan Dunia Akan Tergantung pada Sawit

Deforestasi sulit dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan. Tentu hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainya.

Menurut Teguh Patriawan, Wakil Ketua Komisi Tetap Perkebunan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin), ke depan dunia akan tergantung pada kelapa sawit (sawit) sebab jika tergantung pada komoditas minyak nabati yang lain, maka lahan yang dibutuhkan 10 kali lipat lahan yang dibutuhkan kelapa sawit untuk memenuhi minyak nabati dunia.

"Jika memilih minyak kedelai atau yang lain, kebutuhan akan lahan sangat besar. Deforestasi akan menghabiskan hutan tropis di Amerika Selatan," kata Teguh di kantornya kawasan Kuningan Jakarta, baru baru ini.

Menurut Teguh, United Nations Development Programs (UNDP) memproyeksikan populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata komsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2050 dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton.

"Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya," kata dia.

Peningkatan produksi minyak kedelai khususnya melalui perluasan areal, memang masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Sealatan sebagaimana terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati, dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka akan dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar. Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.

"Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivias 5 ton minyak/hektar," jelas Teguh.

Ditambahkannya, pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).
Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia dari pada ekspansi kebun kedelai. "Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan," tegas Teguh.

Bahkan dia memperkirakan, tahun 2050 dunia akan balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak sawitnya. Hal ini karena sawit mampu memenui kebutuhan untuk pangan dan energi untuk dunia.

"Bisa jadi nanti dunia balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia," jelasnya.

Saat ini saja, share minyak sawit 38 % dari total kebutuhan minyak nabati dunia dan diperkirakan pada 2050 nanati share minyak sawit akan mencapai 55 %.

Teguh berharap, dunia sadar akan potensi besar sawit. Kalau ada yang salah dalam pengelolaannya tinggal diperbaiki, bukan sawitnya yang disalahkan sebagai penyebab deforestasi. Mestinya dunia sadar penyebab deforestasi terbesar di dunia adalah peternakan.

Untuk itu, pemerintah perlu memberi pengertian pada dunia, bahwa Indonesia sudah memiliki perencanaan yang matang untuk memanfaatkan lahan, baik hutan maupun non hutan yang dimilikinya. Negara lain tidak boleh mencampurinya, sebab mereka sudah melakukan terlebih dahulu.

"Kenapa mereka kok ribut. AS menebang ratusan juta hektar untuk peternakan dan kedelai dunia diam saja. Sementara untuk sawit yang hanya kurang dari 20 juta di seluruh dunia ribut, perlu RSPO dan sebagainya," kata dia.

Teguh berpendapat, mestinya dunia tak perlu meributkan pemanfaatan hutan di Indonesia. Semua negara di dunia membutuhkan lahannya untuk kemakmuran. Indonesia memiliki kedaulatan, AS, Eropa dan Australia sudah lebih dulu membuka hutannya, sementara Indonesia baru membuka hutan setelah kemerdekaannya.

Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang menambahkan, dunia mestinya bersyukur dengan adanya tanaman sawit. Karena sawit berkontribusi besar dalam pelestarian dan keseimbangan lingkungan. Betapa tidak, komoditas ini awalnya adalah tumbuhan hutan, perakarannya kokoh mampu menahan tanah dari erosi. Sementara dahan kanopinya mampu melindungi muka bumi dari panasnya sinar matahari, terpaan derasnya air hujan dan hempasan angin.

"Atas dasar itu, maka tidaklah heran jika Malaysia mengategorikan sebagai tanaman hutan. Hebatnya lagi kelapa sawit adalah sumber energi nabati paling efektif dan efisien serta lebih ramah lingkungan bila dibandingkan komoditas sumber energi lainnya,” jelas Bambang.

Untuk itu, Bambang berharap pada ilmuwan, pengusaha, masyarakat luas dan siapapun, untuk memberikan dukungan agar kelapa sawit Indonesia tetap nyiur melambai untuk kejayaan bangsa dan negara serta sumber energi masa depan bagi semua.

Hasil studi oleh Doug Boucher, anggota Union of Concerned Scientists (UCS) dan penasihat Climate and Energy, bahkan mengakui bahwa perkebunan kelapa sawit selama ini menjadi korban salah sasaran oleh masyarakat dunia, terutama Barat, yang dituding sebagai pemicu deforestasi.
“Faktanya, berdasarkan studi yang dilakukan Climate Focus 2016, pemicu terbesar deforestasi adalah industri pengolahan daging. Yang kedua adalah kedelai, sementara produk sawit dan kayu hanya sedikit berperan dalam kondisi hilangnya hutan, atau hanya sekitar sepersepuluh dari industri daging,” tambahnya. ***SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id