Logo
Print this page

Sawit Membantu Mengatasi Deforestasi

Sawit Membantu Mengatasi Deforestasi

Deforestasi atau penebangan hutan acapkali menjadi senjata Uni Eropa untuk terus menekan kelapa sawit (sawit). Padahal, penyebab utama deforestasi adalah usaha peternakan dan budidaya soybean atau kedelai, bukan sawit.

HAL ini terlihat pada data yang dilansir www.ourworldindata.org dalam grafik Global Surface Area Allocation for Food Production, yang di dalamnya memuat rincian alokasi dan penggunaan lahan global berdasarkan luas areal.

Data tersebut mengungkapkan bahwa ternyata luas daratan di dunia ini hanya sekitar 29% atau seluas 149 juta km2. Sementara sisanya sebanyak 71% atau seluas 361 juta km2 berupa lautan yang sangat luas.

Dari daratan yang ada, ternyata tidak semua bisa ditempati atau dimanfaatkan oleh manusia, hanya sekitar 71% saja (104 juta km2) sementara yang lainnya, sekitar 10% (15 juta km2) berupa gletser dan sebanyak 19% (28 juta km2) berupa areal yang berlahan tandus.

Manusia menggunakan areal lahan yang layak ditempati di bumi seluas 50% nya digunakan untuk areal produksi pertanian atau sejumlah 51 juta km2, sementara sisanya masih berupa lahan berhutan sebanyak 37% atau seluas 39 juta km2, dan seluas 12 juta km2, atau sekitar 11% berupa lahan bersemak, serta hanya 1% digunakan sebagai infrastruktur perkotaan.

Dari grafik tersebut nampak sebanyak tiga perempat areal lahan pertanian digunakan untuk pemeliharaan ternak melalui kombinasi lahan untuk penggembalaan ternak dan lahan yang digunakan untuk produksi pakan ternak atau sebanyak 77% dengan luasan mencapai 40 juta km2. Kendati mendominasi areal lahan pertanian, pasokan daging dan produk susu hanya sekitar 17% dan 33% dari pasokan kalori dan protein global.

Sementara penggunaan areal lahan untuk tanaman komoditas hanya sebanyak 23% atau seluas 11 juta km2 dari total areal pertanian tersebut, tidak termasuk areal untuk pakan ternak.

POSISI PERKEBUNAN SAWIT
MENURUT Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Perkebunan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Teguh Patriawan, tanaman sawit masuk pada bagian yang kecil dalam areal penggunaan lahan untuk komoditas.

“Jika merujuk data dari Oil World, lahan kelapa sawit dunia tahun 2017 mencapai seluas 19,67 juta ha atau sekitar 20% dari luas lahan soybean yang mencapai 125,68 juta ha,” kata Teguh di Jakarta, baru-baru ini.

Teguh menambahkan dengan luas hanya 19,67 juta ha, sawit menghasilkan lebih dari 75 juta ton minyak nabati.

“Tingkat produksi sawit sulit untuk ditandingi oleh tanaman sejenis penghasil minyak nabati, soybean, rapeseed, sun flower seed dan yang lainnya termasuk kelapa dalam yang dulu pernah menjadi andalan Indonesia dalam menghasilkan minyak nabati,” jelas Teguh.

Ditambahkan, deforestasi mustahil bisa dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan, tentu jawabannya hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya?

“United Nations Development Programs (UNDP) memproyeksikan populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata konsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton,” jelasnya.

Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan minyak nabati, memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar.

“Dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan. Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 5 ton minyak per hektar,” tegasnya.

Pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).
“Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia daripada ekspansi kebun kedelai. Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global,” kata dia.

Berdasarkan data USDA, selama tahun 2013-2017 tanaman kedelai menggunakan lahan paling luas dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya di dunia. Pada tahun 2017, total luas lahan tanaman minyak nabati dunia mencapai 276,6 juta hektar. Luasan tersebut didominasi oleh tanaman kedelai sebesar 45%, diikuti oleh tanaman minyak lainnya sebesar 25%, rapeseed 13%, bunga matahari 9% dan kelapa sawit 8%.

Jika dilihat dari produksi minyak nabati dunia tahun 2013-2017, dengan luas lahan paling kecil, kelapa sawit menjadi penghasil minyak paling tinggi. Pada tahun 2017, produksi kelapa sawit mencapai 75,142 juta ton (34%), baru kemudian diikuti oleh minyak kedelai 53,86 juta ton (27%).

Pada tahun 2017, pangsa produksi minyak nabati diisi sebanyak 34% oleh minyak sawit, 27% oleh minyak kedelai, 14% oleh minyak rapeseed dan 9% oleh minyak biji bunga matahari. Pangsa minyak kelapa sawit (CPO) meningkat dari sekitar 8% (1980) menjadi sekitar 30% (2015) atau meningkat hampir empat kali lipat.

Perlu diketahui, Dr. Patrick Moore, salah satu pendiri Greenpeace menyatakan, deforestasi dimungkinkan untuk kesejahteraan manusia.

"Bagaimana kita memperbaiki kesejahteraan negara-negara berkembang sambil memulihkan kerusakan hutan dan menjaga margasatwa secara bersamaan? Bagaimana kita dapat mengurangi emisi gas rumah kaca di atmosfer terutama CO2? Jawabannya, dengan menanam lebih banyak pohon dan kemudian menggunakannya," jelas Patrick Moore.

Menurut Patrick Moore, setiap hari 6 milyar orang bangun dari tidurnya dengan kebutuhan riil untuk makanan, energi dan bahan-bahan lainnya. Tantangan untuk kelestarian adalah penyediaan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara-cara yang mengurangi dampak negatif pada lingkungan.

Memotong kayu saja adalah tidak cukup sebagai penyebab kerusakan hutan. Masalah sebenarnya adalah apakah hutan tersebut musnah selamanya atau ditanami lagi dengan pohon-pohon baru.

Apabila anda pergi ke Australia, hampir semua orang berpendapat bahwa kerusakan hutan yang terburuk terjadi di Malaysia dan Indonesia, padahal faktanya 40 % hutan alam Australia dan Amerika telah rusak, dikonversi menjadi ladang pertanian.

SAWIT TANAMAN HUTAN
DALAM setahun, sawit menyerap air sebanyak 1.104 milimeter, lebih sedikit jika dibandingkan tanaman sengon (1.355), jati (1.300), mahoni (1.500), maupun pinus (1.975). Sementara itu dari sisi penyerapan karbondioksida (CO2), sawit justru lebih banyak menyerap CO2 jika dibandingkan dengan empat tanaman hutan tersebut.

Bahkan di tiap hamparan sawit seluas 1 hektar (ha) mampu menyerap CO2 sebanyak 36 ton. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan dengan tanaman sengon yang hanya mampu menyerap CO2 sekitar 18 ton, jati (21 ton), mahoni (25 ton), dan pinus (20 ton).
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Yanto Santoso, ada dorongan yang kuat agar ke depan sawit bisa menjadi tanaman hutan, sehingga dapat ditanam pada kawasan HTI dan HTR.

Usulan ini bertujuan menjaga dan mengawal perkembangan perkebunan sawit sebagai komoditas strategis nasional sekaligus menepis isu sawit sebagai penyebab deforestasi.
Pasalnya, semua jenis tanaman kelapa, kecuali sawit masuk kategori FAO, sebagai tanaman hutan. Sesuai kriteria FAO yakni mempunyai tinggi batang minimal 5 m, memiliki tutupan tajuk/canopi minimal 10%, luasan kawasan minimal 0,5 hektar.

Pemerintah sendiri sebenarnya pernah memasukkan sawit sebagai tanaman hutan melalui Permenhut No. 62 Tahun 2011 tanggal 25 Agustus 2011, yang memungkinkan tanaman sawit ditanam dalam area hutan tanaman industri.

"Namun sayang, adanya tekanan dari luar akhirnya pemerintah kembali mencabut aturan tersebut sebulan kemudian," katanya.

Sikap pemerintah waktu itu sama dengan sikap FAO yang tidak memasukkan sawit sebagai tanaman hutan. Hal ini merupakan hegemoni tafsir dari negara-negara pesaing sawit yang berkepentingan melindungi produknya.

“Butuh kemauan politis yang kuat untuk memasukkan sawit sebagai tanaman hutan sesuai dengan kriteria FAO. Dari banyak kasus, kuatnya diplomasi politik negara-negara penghasil minyak nabati selain sawit,” paparnya.

Indonesia, perlu belajar dari Tiongkok yang mempunyai kemauan politik kuat untuk memasukkan bambu sebagai tanaman hutan. Sehingga, sejak lama, bambu telah termasuk dalam kategori tanaman hutan versi FAO karena perjuangan dan kemauan politik pemerintah Tiongkok untuk mendorong komoditas andalannya. SH

Design by; ajartos@yahoo.com Phone: 0877 8019 6868. All rights reserved.