Menu
SAJIAN ISI

Harga Tender Biodiesel Mendesak Dikaji Ulang

Harga Tender Biodiesel Mendesak Dikaji Ulang

Kalangan produsen biodiesel mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang harga tender biodiesel. Sebab, biodiesel yang dibeli Pertamina ditujukan kepada sektor subsidi dan non subsidi. Mestinya, ada perbedaan perlakuan dalam pembelian harga biodiesel. Sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia sebesar 31,5 juta ton, sudah waktunya Indonesia fokus pada penggunaan dalam negeri.

Sebab dari produksi sebesar itu, 66% atau 22 juta ton CPO produksi Indonesia diekaspor keluar negeri. Dan kurang dari 10 juta ton yang terserap untuk konsumsi lokal, yaitu 6 juta ton untuk pangan dan sisanya 2-3 juta ton untuk kebutuhan energi.

Dengan hanya menyerap 30% untuk kebutuhan dalam negeri, pasar CPO tergantung akan pasar luar negeri. Mestinya, kebutuhan dalam negeri lebih besar sehingga ekspor Indonesia lebih banyak produk jadi atau setengah jadi dibandingkan dengan bahan baku yang masih berupa CPO. Padahal dengan produksi sebesar itu, Indonesia membutuhkan pasar yang lebih pasti. Sebab dalam melakukan penjualan ke luar negeri, sawit Indonesia selalu menghadapi berbagai tantangan.

Direktur Wilmar Internasional, Darwin Indigo menjelaskan, mestinya konsumsi dalam negeri diperkuat sehingga tak terpengaruh oleh isu-isu negatif yang disebarkan kompetitor kelapa sawit. “Dari total produksi kita, hanya 30% yang bisa kita serap di dalam negeri. Sisanya masih harus kita jual ke negara-negara lain. Artinya kita harus mampu bagaimana menjual sawit kita saat image luar negeri terhadap sawit kita sudah negatif, bahkan tanpa tariff barrier pun kita sudah tidak bisa jualan,” tutur Darwin.

Menuerut Darwin, India, Uni Eropa, dan China adalah pasar utama ekspor CPO Indonesia. Sayangnya ekspor ke China sebagai salah satu pasar CPO yang vital terus menurun. Darwin menyebut ini karena Indonesia harus bersaing dengan minyak kedelai yang saat ini jumlahnya terus meningkat sebagai efek dari meningkatnya kebutuhan pakan ternak berbahan dasar kedelai karena meningkatnya kebutuhan daging di China.

”Ditambah lagi dengan masalah non tariff barrier seperti anti dumping, safeguard duty di India untuk alkohol. Dan saya dengar di China akan menerapkan hal yang sama. Jadi menurut saya kita tidak confident dengan pasar ekspor, mungkin ekspor tidak akan berkembang terlalu banyak, dan kita sudah sangat gembira apabila ekspor kita bisa tetap di level yang sama.” ucapnya.

Ditambahkanya, Indonesia harus hati-hati sekali untuk menghadapi pasar Tiongkok sendiri. Penurunan untuk bulan ini tidak begitu signifikan, sekitar 10 %. Tapi ke depan, mungkin bisa lebih signifikan. Bisa jadi tahun depan bisa turun hingga 1 juta ton. Walaupun ada kekhawatiran, Darwin sangat yakin sawit Indonesia bisa mendapat pangsa pasar yang bahkan lebih besar dari India. Sebagai catatan, ekspor ke India sekitar 20% dari total ekspor, Uni Eropa sekitar 19%, dan China 15%.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id