Menu
SAJIAN ISI

Perlunya Ekspansi Lahan untuk Ketahanan Pangan

Presiden Joko Widodo menuju tempat penumpukkan tual (batang) sagu panenan warga Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, Riau, Kamis (27/11). Desa Sungai Tohor adalah salah satu desa penghasil sagu yang merupakan bagian dari Kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan Nasional, dalam sebulan, setidaknya 600 ton sagu dapat dihasilkan dari kebun milik warga. ANTARA FOTO/Joko Sulistyo/ss/mes/14 Presiden Joko Widodo menuju tempat penumpukkan tual (batang) sagu panenan warga Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, Riau, Kamis (27/11). Desa Sungai Tohor adalah salah satu desa penghasil sagu yang merupakan bagian dari Kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan Nasional, dalam sebulan, setidaknya 600 ton sagu dapat dihasilkan dari kebun milik warga. ANTARA FOTO/Joko Sulistyo/ss/mes/14

Beberapa negara maju yang memiliki pertumbuhan penduduk relatif lambat (0,5-1%), memiliki persentase luas lahan pertanian terhadap luas daratan jauh lebih besar dibanding Indonesia. Dengan pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi, Indonesia perlu meningkatkan persentase lahan pertaniannya demi memperkuat ketahanan pangan nasional.

Wakil Ketua Komite Tetap Perkebunan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Teguh Patriawan menjelaskan, perkembangan penduduk di negeri ini yang diperkirakan mencapai 1,75% per tahun ternyata tak diimbangi dengan luasan lahan untuk pertanian, sehingga Indonesia harus mengimpor berbagai komoditas pangan seperti, beras, gula, kedelai, terigu, buah-buahan dan hortikultura. “Padahal jika dilihat dari luas daratan Indonesia, areal yang dibuka untuk lahan pertanian dan perkebunan baru mencapai 30%,” kata Teguh di Jakarta baru-baru ini.

Menurutnya, jika tak mau terus tergantung pada produk impor, Indonesia harus pintar-pintar memanfaatkan lahan yang dimilikinya. Apalagi selama tiga tahun terakhir, peningkatan volume dan nilai impor pangan Indonesia untuk beberapa komoditi terutama gula, gandum, jagung, beras, kedelai dan tepung terigu, terus meningkat signifikan.

Untuk komoditas gula misalnya, Teguh menceritakan, dahulu Indonesia pernah berjaya bahkan menjadi ekportir terbesar kedua setelah Kuba. Namun karena berkurangnya lahan perkebunan tebu, terutama dikonversi menjadi perumahan industri dan jalan raya, kini industri tebu nasional mengalami kemerosotan. Bahkan, sejak satu dasawarsa terakhir indonesia menjadi salah satu importir gula terbesar di dunia setelah China, India dan Rusia.

Untuk mengatasinya, tak ada solusi yang tepat selain penambahan areal untuk tanaman tebu seluas 400 ribu hektar dan pembangunan pabrik gula minimal 10 buah dengan kapasitas minimal 12.000 TCD. “Sulit mengatasi impor gula tanpa adanya penambahan lahan perkebunan gula dan pembangunan pabrik baru. Apalagi, gula termasuk salah satu bahan pangan penting bagi Indonesia, sebab hampir semua makanan mengunakan gula,” jelas Teguh.

Kekurangan komoditi pangan tadi seringkali menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan ekonomi bahkan politik lantaran komoditi tersebut menjadi bahan baku utama makanan masyarakat Indonesia. “Sepanjang 2011-2013, duit yang mesti dikeluarkan untuk impor pangan diperkirakan mencapai Rp 150 triliun,” ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perkembangan penduduk Indonesia tumbuh 99% dari 1971-2010. Pada 1971, jumlah penduduk Indonesia baru mencapai 119,2 juta jiwa lalu tahun 2010 angka populasi naik signifikan menjadi 237,6 juta jiwa. Bappenas bahkan memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta jiwa pada 2015, dan diperkirakan kebutuhan berasnya akan mencapai 33,78 juta ton.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id