Menu
SAJIAN ISI

Kunjungan Industri dan Rapat Kerja Dosen Instiper

Tantangan dunia pendidikan tinggi saat ini tidak hanya berasal dari input mahasiswa yang merupakan generasi milenial, namun juga adanya revolusi industri generasi 4.0 dan tantangan dari dunia usaha dan industri yang akan memanfaatkan lulusan dari perguruan tinggi.

Memahami kondisi tersebut, INSTIPER mengajak seluruh dosennya untuk melakukan kunjungan industi ke pabrik downstream komoditas perkebunan yang telah memanfaatkan teknologi tinggi seperti artificial intelligence dan robotik untuk pengolahan produk-produknya.

Sebanyak 73 orang dosen INSTIPER Yogyakarta melakukan kunjungan industri dan rapat kerja dosen diSurabaya pada 22-24 Maret 2019. Kunjungan industri di beberapa pabrik yang telah memanfaatkan teknologi tinggi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran nyata industri pengolahan komoditas perkebunan yang akan menyerap lulusan INSTIPER kelak. Dengan pengetahuan perkembangan di bidang industri, para dosen diharapkan mampu menyesuaikan materi kuliah dan cara perkuliahan sehingga lebih sesuai dengan dunia usaha dan industri saat ini. Saat mengajar, para dosen diharapkan mampu menghubungkan antara teori perkuliahan dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini.

Kunjungan industri dosen INSTIPER dilakukan ke PT. Santos Jaya Abadi yang merupakan pabrik dari Kopi Kapal Api, PT. Wilmar Nabati Indonesia di Gresik yang merupakan pabrik pengolahanproduk turunan daricrude palm oil (CPO) kelapa sawit, dan kunjungan industri ke PT. Mega Surya Mas Sidoarjo yang juga pabrik pengolahan produk turunan CPO.

“Kunjungan industri dosen ke PT. Santos Jaya Abadi merupakan bukti nyata keseriusan INSTIPER untuk mengembangkan pendidikan kompetensi kopi di INSTIPER setelah sebelumnya pada (12/3) lalu, INSTIPER telah melakukan soft launcing Institut Sains Kopi Indonesia.

Kunjungan ke Kapal Apisekaligus membuka peluang kerjasama dengan dunia industri kopi. Hal ini sesuai dengan arahan Kemenristekdikti untuk perguruan tinggi bekerja sama dengan dunia industri. Hal ini juga telah dilakukan INSTIPER dalam mengembangkan kompetensi kelapa sawit yang bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan kelapa sawit di Indonesia”, jelas Betti Yuniasih, Humas INSTIPER.

Pada kunjungan dosen ke INSTIPER ke PT. Santos Jaya Abadi, dosen INSTIPER berkesempatan bertemu dan mendapat cerita kisah sukses dari Bapak Soedomo Mergonoto yang merupakan Direktur Utama Kapal Api. Soedomo menyampaikan,”Pada saat ini Kapal Api menjadi leader dalam insutri kopi di Indonesia dan mengolah 350 ton kopi per hari. Posisi ini kami peroleh karena kami memanfaatkan teknologi tinggi dalam pengolahannya. Kami perupakan perusahaan pertama di Indonesia yang membeli alat roasting kopi berteknologi tinggi dari Jerman. Inovasi dan keinginan untuk maju merupakan kunci kesuksesan dalam melakukan usaha”.

Sedangkan pada kunjungan industri ke PT. Wilmar Nabati Indonesia di Gresik dan PT. Mega Surya Mas di Sidoarjo, para dosen memperdalam pengetahuantentang industri pengolahan crude palm oil (CPO) dan turunannya. Pada kunjungan ke kedua lokasi tersebut, dosen mendapatkan informasi tentang perkembangan pengolahan produk turunan CPO yang telah memanfaatkan teknologi tinggi seperti pengolahan CPO untuk bahan bioavtur, biodiesel, dan produk turunan lainnya.

Pengolahan CPO akan meningkatkan nilai tambah dari CPO tersebut, semakin hilir produk yang dihasilkan maka akan semakin tinggi keuntungan yang bisa didapatkan daripada menjual produk tersebut dalam bentuk mentah seperti CPO.

Berdasarkan hasil kunjungan industri tersebut, para dosen melanjutkan rapat kerja dosen yang salah satunya membahas perkembangan INSTIPER saat ini yang telah beradaptasi menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 dimana semua dosen juga harus cepat beradaptasi melalui peningkatan kompetensi dosen maupun maupun penyesuaian model perkuliahan yang ada.

Pada rapat kerja tersebut, Rektor INSTIPER, Dr. Purwadi mengajak semua dosen untuk peka terhadap semua perubahan yang ada. Kemenristekdikti telah memberikan kebijakan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 melalui penyesuaian kurikulum, peningkatan kapasitas dosen, dan peningkatan fasilitas laboratorium.

 

Gulat Manurung, Menjadi Ketua Umum DPP Apkasindo

PARAPAT - Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) memutuskan Ir.Gulat Medali Emas Manurung, MP sebagai Ketua Umum DPP Apkasindo untuk periode 2019-2024 secara aklamasi.

Munaslub ini dihadiri 17 DPW dari 22 DPW Provinsi se-Indonesia yang digelar di Inna Hotel Parapat, Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) Senin (25 Maret 2019).

Gulat Manurung terpilih aklamasi dalam sidang paripurna Pemilihan Ketua Umum yang dipimpin oleh Ketua DPP Bidang Advokasi dan Hubungan Antar Lembaga DPP Apkasindo, Kasriwandi, Rino Afrino sebagai sekretaris dan Paiki Dorteus, Sunyoto dan A. Jaafar sebagai anggota.

Usai pembacaan keputusan sidang paripurna oleh Pimpinan Sidang, mantan Ketua Umum DPP Apkasindo Periode 2014-2019, H. Anizar Simanjuntak, kemudian menyerahkan berkas dan Bendera Pataka Apkasindo kepada Gulat yang disaksikan oleh 78,26 persen atau 17 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dari 22 DPW se-Indonesia dan 12 orang Pengurus DPP Apkasindo Demisioner.

Gulat menyampaikan tiga poin penting saat didapuk menyampaikan visi misi. Pertama, Gulat akan langsung melakukan konsolidasi kepada 22 DPW Apkasindo se Indonesia.

Kedua, menginisiasi peningkatan SDM semua Ketua DPW/DPD dan pengurus Apkasindo untuk mengikuti pelatihan menjadi Auditor Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) karena ini sangat penting untuk mendampingi Petani Sawit menunuju Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan.

Ketiga, segera menyusun langkah-langkah strategis untuk mengadvokasi para petani kelapa sawit terkait harga TBS dan persoalan lahan petani yang terjebak di dalam kawasan hutan.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina DPP Apkasindo, Dr. Bayu Krisnamurthi berpesan kepada semua elemen yang ada di Apkasindo untuk terus memperkuat Apkasindo lewat kekompakan yang selalu terjaga, itu ciri khas dari Apkasindo sejak berdiri tahun 2000.

"Sebab kata kunci dari kemajuan sebuah organisasi adalah kompak. Makanya saya katakan, siapapun nanti yang mendapat mandat untuk memimpin DPP Apkasindo, segera lakukan konsolidasi, rangkul semua," ujar Bayu saat memberikan arahan pada pembukaan Munaslub Apkasindo.

Bayu menjelaskan bahwa tidak mudah menjadi Ketua Umum Apkasindo karena tugas berat sudah di depan mata, satukan kekuatan dan semangat untuk kesejahteraan petani sawit. Apalagi pemerintah Indonesia sangat membutuhkan Apkasindo untuk bersama-sama dengan organisasi kelapa sawit lainnya melawan RED II Eropa yang baru-baru ini sudah diembuskan oleh UE.

Puas Kinerja Petani Kentang, Mentan Tingkatkan Bantuan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi hasil kerja para petani Jawa Barat, dengan melepas ekspor secara langsung 5 ton kentang senilai Rp 340 miliar ke Singapura. Pelepasan ekspor perdana komoditas hasil panen petani asal Kabupaten Garut ini dilakukan di lapangan GOR Ciateul, Garut pada Kamis (21/3/2019).

“Produksi pertanian kita terus membaik. Untuk jagung kita sudah bendung impor 3,5 juta ton, bahkan sudah ekspor di 2018 sebesar 850 ribu ton. Sekarang, kentang konsumsi kita mulai ekspor setelah kita stop impor di 2018,” kata Amran dihadapan 5.000 petani dari 23 Kecamatan di Garut.

Pada saat yang sama, Amran juga melepas dua komoditas lainnya yakni 19 ton manggis senilai Rp 392 juta, dan barecore atau plywood 591,3 M3 dengan nilai Rp 1,4 miliar tujuan Tiongkok. Amran juga mengapresiasi para pelaku usaha di bidang agribisnis yang telah turut mendukung dan memberi nilai tambah bagi petani yang turut hadir, masing-masing PT. Alamanda Sejati Utama, PT. Sumber Jaya Manggis, dan PT. Bineatama Kayone Lestari.

Sebagai komoditas wajib lapor Karantina, sesuai dengan persyaratan mitra dagang, Amran menjamin jajarannya di Badan Karantina Pertanian (Barantan) akan lakukan tugasnya dengan baik. Barantan juga tengah gencar galakkan ekspor dengan memberikan bimbingan teknis pelaku agribisnis masuki pasar ekspor, Agro Gemilang.

"Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan jumlah ekspor komoditas pertanian berbasis wilayah sekaligus menambah jumlah eksportir di sektor pertanian dari kalangan muda. Tidak saja sebagai trade facilitator, memperlancar perdagangan jajaran Barantan juga siap kawal petani,” terang Amran.

Sementara itu, Kepala Barantan Ali Jamil yang ikut hadir mendampingi kunker Mentan bertajuk Apresiasi dan Sinkronisasi Program Kementerian Pertanian 2019 ini menyampaikan, berdasarkan data dari sistem otomasi Barantan 2018 tercatat eksportasi komoditas kentang melalui sertifikasi di Karantina Bandung sebesar 1.000 ton dengan nilai ekonomi Rp 20 miliar.

Sementara itu untuk ekspor manggis, dalam kurun waktu triwulan pertama 2019, terdata total 1.261,2 ton dengan nilai Rp 17,6 miliar tujuan China, dan ekspor barecore total 926 kontainer dengan nilai Rp. 129,6 milyar dengan tujuan China dan Timur Tengah.

Selain itu, Jamil juga menyampaikan selama periode Januari-Maret 2019, ekspor sayuran tercatat sebanyak 293 ton, dengan frekuensi pengiriman sebanyak 372 kali, dan ekspor manggis sebanyak 833 ton dari total 1.586 ton atau sebesar 52.5 persen dari total ekspor manggis asal sertifikasi Karantina Bandung. "Ekspor sayuran dan buah lainnya telah menyumbang devisa sekitar US $ 3 juta, dan melati sekitar US $ 1.5 juta selama kurun waktu 2018-2019," tambahnya.

Dalam sambutannya, Bupati Garut Rudy Gunawan mengapresiasi kinerja ekspor pangan selama Pemerintahan Jokowi-JK. Menurutnya, Rudi menyatakan sebagai bukti dari dampak inovasi pertanian yang dilakukan Kementan. Ia berharap pendampingan khususnya bagi para petani di Garut untuk memasuki pasar ekspor dapat terus digalakkan.

Secara gamblang ia menyatakan bantuan Kementan ke Kabupaten Garut selama 4 tahun sudah mencapai 1,5 triliun lebih. Saat menerima tambahan bantuan Kementan dengan total nilai Rp 53,9 milyar, Rudi berharap perhatian besar pemerintah dalam bentuk alat mesin pertanian (alsintan), benih, domba, ayam, dan lain-lain itu dapat menjadikan pemicu semangat bagi petani di wilayah Garut.

"Berbagai bantuan produktif terutama dari sektor pertanian berkontribusi menurunkan angka kemiskinan di Garut dari 11 persen, 9 persen," kata Rudy.

Selain melepas ekspor, Mentan Amran juga menyerahkan aplikasi i-MACE (Indonesian Maps of Agricultural Commodities Export) yang bertujuan untuk mendata laluluntas ekspor pertanian secara real time di Jawa Barat.

"Harapannya, ini dapat digunakan Pemerintah Daerah sebagai landasan kebijakan pengembangan komoditas unggulan. Ini program nyata untuk mendongkrak ekspor di seluruh Indonesia, termasuk dari kontributor ekspor terbesar, Provinsi Jawa Barat,” tandas Amran.

Kelangkaan Air Dapat Berdampak pada Ekonomi Indonesia

(Jakarta) 21 Maret 2019 – Bersamaan dengan peringatan Hari Air Sedunia tahun ini dengan tema Leaving no one behind, Economist Intelligence Unit (EIU), disponsori oleh Cargill, menerbitkan laporan baru yang berfokus pada air dan bagaimana industri pertanian berkorelasi dengan keadaan masa depan air di Asia.

Laporan tersebut menyatakan bahwa kelangkaan air dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Asia. Sebanyak 90 persen responden dari industri pangan dan pertanian di Asia setuju dengan hal ini. Laporan berjudul Liquidity Premium adalah bagian kedua dari penelitian Fixing Asia’s Food Systems.

Penelitian ini pertama kali dirilis pada September 2018 dan meneliti berbagai isu seputar sistem pangan di Asia. Program penelitian yang terdiri dari lima bagian ini dibuat berdasarkan survei terhadap 820 pemimpin industri di wilayah Asia, termasuk desk research dan wawancara dengan berbagai pakar. Kekhawatiran tentang kelangkaan air paling akut terjadi di Indonesia dan Filipina, sebanyak 67% responden di kedua negara tersebut sangat setuju bahwa kelangkaan air dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dibandingkan dengan 43% di Singapura, 44% di Thailand, dan 60% di India.

Berdasarkan laporan ini, Indonesia termasuk dalam sepuluh negara teratas untuk populasi yang berisiko terhadap kerawanan air karena Indonesia berada di peringkat empat dalam indeks air dan sanitasi (total populasi yang belum memiliki sanitasi) serta peringkat enam dalam indeks banjir (potensi populasi terkena banjir). Indonesia juga disebut sebagai salah satu negara yang relatif kaya air yang kini menghadapi kendala pasokan air karena manajemen pengelolaan air yang kurang baik.

“Kelangkaan air menjadi tantangan besar di Indonesia. Seperti negara lain di Asia, tantangannya adalah mengikuti permintaan akan pasokan air seiring dengan pertumbuhan populasi dan gaya hidup dalam perubahan pola makan,” kata Arief Susanto, Direktur Corporate Affairs Cargill Indonesia.“Belum lagi bencana terkait air yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan partisipasi penuh dari semua pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam mengatasi hal ini.”

Proyeksi menunjukkan bahwa 40% negara-negara berkembang di Asia akan menghadapi masalah kekurangan air yang kritis pada tahun 2030, yang akan mengarah kepada kesenjangan permintaan dan penawaran terhadap air.

Laporan tersebut mengutip beberapa masalah utama di balik hal ini: pembangunan ekonomi mendorong permintaan akan air, meningkatnya persaingan sektoral untuk kebutuhan akan air; pertanian yang menggunakan air yang terkontaminasi menimbulkan risiko kesehatan bagi ternak dan tanaman; eksploitasi berlebihan dan perubahan iklim, pengelolaan air yang kurang baik - harga air tidak mencerminkan kualitasnya, dan tidak ada insentif untuk mencapai efisiensi air; serta teknologi yang mahal.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa untuk mengatasi masalah kelangkaan air, negara-negara di Asia harus merevisi sistem pengelolaan air serta menyadari harga dan nilai air. Selain itu, transparansi dan kolaborasi antar negara diperlukan untuk mengelola potensi ketegangan yang dapat timbul dari kelangkaan air.

Kelangkaan Air Dapat Berdampak pada Ekonomi Indonesia

(Jakarta) 21 Maret 2019 – Bersamaan dengan peringatan Hari Air Sedunia tahun ini dengan tema Leaving no one behind, Economist Intelligence Unit (EIU), disponsori oleh Cargill, menerbitkan laporan baru yang berfokus pada air dan bagaimana industri pertanian berkorelasi dengan keadaan masa depan air di Asia.

Laporan tersebut menyatakan bahwa kelangkaan air dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Asia. Sebanyak 90 persen responden dari industri pangan dan pertanian di Asia setuju dengan hal ini. Laporan berjudul Liquidity Premium adalah bagian kedua dari penelitian Fixing Asia’s Food Systems.

Penelitian ini pertama kali dirilis pada September 2018 dan meneliti berbagai isu seputar sistem pangan di Asia. Program penelitian yang terdiri dari lima bagian ini dibuat berdasarkan survei terhadap 820 pemimpin industri di wilayah Asia, termasuk desk research dan wawancara dengan berbagai pakar. Kekhawatiran tentang kelangkaan air paling akut terjadi di Indonesia dan Filipina, sebanyak 67% responden di kedua negara tersebut sangat setuju bahwa kelangkaan air dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dibandingkan dengan 43% di Singapura, 44% di Thailand, dan 60% di India.

Berdasarkan laporan ini, Indonesia termasuk dalam sepuluh negara teratas untuk populasi yang berisiko terhadap kerawanan air karena Indonesia berada di peringkat empat dalam indeks air dan sanitasi (total populasi yang belum memiliki sanitasi) serta peringkat enam dalam indeks banjir (potensi populasi terkena banjir). Indonesia juga disebut sebagai salah satu negara yang relatif kaya air yang kini menghadapi kendala pasokan air karena manajemen pengelolaan air yang kurang baik.

“Kelangkaan air menjadi tantangan besar di Indonesia. Seperti negara lain di Asia, tantangannya adalah mengikuti permintaan akan pasokan air seiring dengan pertumbuhan populasi dan gaya hidup dalam perubahan pola makan,” kata Arief Susanto, Direktur Corporate Affairs Cargill Indonesia.“Belum lagi bencana terkait air yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan partisipasi penuh dari semua pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam mengatasi hal ini.”

Proyeksi menunjukkan bahwa 40% negara-negara berkembang di Asia akan menghadapi masalah kekurangan air yang kritis pada tahun 2030, yang akan mengarah kepada kesenjangan permintaan dan penawaran terhadap air.

Laporan tersebut mengutip beberapa masalah utama di balik hal ini: pembangunan ekonomi mendorong permintaan akan air, meningkatnya persaingan sektoral untuk kebutuhan akan air; pertanian yang menggunakan air yang terkontaminasi menimbulkan risiko kesehatan bagi ternak dan tanaman; eksploitasi berlebihan dan perubahan iklim, pengelolaan air yang kurang baik - harga air tidak mencerminkan kualitasnya, dan tidak ada insentif untuk mencapai efisiensi air; serta teknologi yang mahal.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa untuk mengatasi masalah kelangkaan air, negara-negara di Asia harus merevisi sistem pengelolaan air serta menyadari harga dan nilai air. Selain itu, transparansi dan kolaborasi antar negara diperlukan untuk mengelola potensi ketegangan yang dapat timbul dari kelangkaan air.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id