Menu
SAJIAN ISI

FFA Telah Tangani Kebakaran Hutan dan Kabut Asap di 200 Desa

FFA Telah Tangani Kebakaran Hutan dan Kabut Asap di 200 Desa

Fire Free Alliance (FFA) merupakan relawan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang bertekad dan telah berbuat mendukung pemerintah dalam melindungi lingkungan dengan mencegah kebakaran hutan. Hingga kini, lebih 200 desa, mencakup luas setidaknya 1,5 juta hektare di sejumlah daerah di Indonesia, turut serta dalam inisiatif berbasis kemasyarakatan terkait pencegahan kebakaran hutan.

Hal ini merupakan hasil dari kerja sama FFA pada tahun pertamanya, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan dan perkebunan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan mitra terkait lainnya yang berkomitmen untuk turut memecahkan permasalahan kebakaran dan kabut asap yang berkepanjangan di Indonesia.
FFA didirikan pada Februari 2016, dengan anggota yang terdiri APRIL, Asian Agri, IDH, Musim Mas, PM. Haze, dan Wilmar. Aliansi ini juga menyambut Sime Darby dan IOI Group sebagai anggota baru, yang diumumkan pada acara alang tahun pertama FFA, Rabu (15/3/2017), di sela-sela rangkaian acara Responsible Business Forum di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Berdasarkan laporan yang dipaparkan di Responsible Business Forum Jakarta, para anggota FFA telah secara cepat memperluas jangkauan upaya pencegahan kebakaran ke 218 desa di sejumlah daerah di Indonesia. Termasuk 77 desa yang telah mendaftarkan diri ke perusahaan-perusahaan anggota FFA untuk terlibat dalam program bebas api yang intensif pada tahun 2016.

Terjadi peningkatan hingga 756% dalam jumlah desa yang berpatisipasi jika dibanding sejak Program Desa Bebas Api (Fire Free Village Programme/FFVP) pertama kali diluncurkan oleh APRIL yang hanya melibatkan sembilan desa pada pertengahan tahun 2015. Pada beberapa kasus, para anggota FFA telah melaporkan penurunan insiden kebakaran antara 50% dan 90% dari tahun 2015 hingga 2016.

Dorjee Sun, Direktur Carbon Conservation sekaligus menjabat sebagai Sekretariat FFA, mengatakan, pendirian FFA bertujuan untuk membantu para anggotanya dalam berbagi pengetahuan dan sumber daya.
''Hal ini menjadikan FFA sebagai sebuah wadah bagi para anggotanya untuk saling bahu-membahu mengembangkan strategi-strategi yang paling efektif untuk mencegah dan mengelola risiko-risiko kebakaran melalui kemitraan jangka panjang dengan masyarakat di seluruh Indonesia dan Malaysia,'' ungkap Dorjee Sun.

Sementara Craig Tribolet, Manajer Perlindungan Hutan, APRIL, mengatakan, APRIL mengakui kepemimpinan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan juga Pemerintah Daerah dalam hal pencegahan kebakaran dan pengelolaan kebakaran di Indonesia.

''Kami mendukung pendirian Fire Free Alliance karena kami percaya bahwa sektor kehutanan dan perkebunan memiliki tanggung jawab baik di dalam maupun di luar konsesinya dan bekerja bersama masyarakat untuk mengurangi dampak kebakaran dan kabut asap. FFA memberikan sebuah wadah untuk membantu meningkatkan FFVP dan memungkinkan perusahaan-perusahaan lainnya dan LSM-LSM untuk berkolaborasi dan berbagi praktik-praktik terbaiknya,” jelas Craig Tribolet.

Gurcharan Singh, Kepala Perkebunan Wilmar – Indonesia, mengatakan, permasalahan kebakaran dan kabut asap lebih besar dibandingkan industri itu sendiri. Kekuatan FFA hadir dari beragamnya keahlian dan pengalaman kolektif para anggotanya di berbagai sektor yang berbeda bersama masyarakat lokal di sekitar wilayah operasi mereka.
''Sikap saling berbagi antar anggota FFA akan membantu pengidentifikasi dan pengembangan solusi yang inovatif yang dapat diadopsi oleh setiap anggota di masing-masing wilayah operasionalnya,'' ujar Gurcharan Singh.

Tony Wood dari IDH mengungkapkan, Fire Free Alliance memberikan sebuah komitmen yang kuat dan jelas oleh para perusahaan anggotanya dalam mencegah kebakaran hutan kini dan nanti. Pertukaran pengetahuan dan pengaturan protokol di tingkat senior menunjukkan sebuah gebrakan baru bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang kini memperlihatkan bahwa dengan bekerja sama, semua pihak dapat menang.

''Bahkan hal yang lebih penting adalah semangat dan kesuksesan operasional dari pihak-pihak yang mengidentifikasi desa secara langsung dan mengimplementasikan program-program bebas api. Inilah yang mendorong kesuksesan program ini pada tingkat desa. Oleh sebab itu, IDH secara aktif mengembangkan dan membuat toolkit yang dapat digunakan oleh semua pihak, untuk menyebarluaskan secara aktif keuntungan-keuntungan kepada mitra potensial, dan bahkan mereka yang akan terlibat dalam mendanai langsung desa-desa,” ujarnya.

Anggota Baru
Sime Darby dan IOI Group telah bergabung sebagai anggota baru FFA, yang lebih lanjut memperluas jangkauan dari program komunitas FFA terkait pencegahan dan pengelolaan kebakaran di seluruh Indoensia dan Malaysia yang kini memasuki tahun kedua.

Kedua perusahaan tertarik dengan wadah berbagi informasi yang kolaboratif serta budaya non-kompetisi dari FFA di mana setiap anggotanya memiliki tujuan yang sama atas kawasan yang berkelanjutan dan bebas api.

Benjamin Tay, Presiden PM Haze, mengucapkan selamat kepada FFA atas berkembangnya jangkauan upaya pencegahan kebakaran yang dilakukannya. Penyertaan anggota baru seperti Sime Darby memvalidasi pentingnya pendekatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi permasalahan kabut asap dari sumbernya.

''Kami berharap bahwa PM Haze dapat terus mendukung upaya-upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di perkebunan dan menggalakkan penggunaan produk-produk yang bebas asap,” ungkap Benjamin Tay.
PM Haze merupakan organisasi riset, kemasyarakatan, dan advokasi yang percaya bahwa setiap individu dapat dibekali dengan pengetahuan, kemampuan, dan sarana untuk menghentikan kabut asap.

Pencapaian Anggota FFA
- APRIL: 18 desa berpartisipasi dalam program FFVP pada tahun 2016 dengan penambahan 50 desa di program Fire Awareness Communities sebagai pendahulunya. Program ini akan berlanjut di tahun 2017 dengan 9 desa baru telah terdaftar, dan 9 desa lainnya yang memasuki tahun ketiga akan menjadi ‘Masyarakat Tangguh Api’.

Program ini sudah mencakup kawasan seluas 600,000 hektar, dengan area yang mengalami kebakaran di tahun 2016 hanya seluas 0.07%.

- Asian Agri: 7 desa di Riau ditambah 2 desa di Jambi berpartisipasi dalam program evaluasi sejak Oktober 2016, dan akan diperluas di 6 desa lainnya pada tahun 2017. Dari 306.664 hektar wilayah cakupan program, hanya 6.78 ha yang terbakar. Hal ini berarti terdapat penurunan luas wilayah yang terbakar lebih dari 50% dibandingkan dengan 13.75 hektar pada tahun 2015. Proyek percontohan peternakan lebah madu di Desa Segati bertujuan untuk melakukan uji pasar dalam pengembangan produk-produk berlabel bebas api.

- IDH: Terus mendukung Dana CPO untuk mengembangkan 5 desa dan juga secara langsung mengembangkan 1 desa bebas api di area yang memiliki risiko tinggi, serta melibatkan ke-6 desa tersebut dalam elemen program peningkatan kesadaran. Salah satu tujuan IDH di tahun 2017 juga termasuk pengidentifikasian 109 desa untuk diikutsertakan dalam Program Bebas Api (Fire Free Programme).

- IOI Group: Mengimplementasikan penilaian area cadangan bernilai konservasi tinggi, pemetaan dan tahap awal restorasi lahan gambut pada tahun 2016. IOI Group juga telah merekrut 50 orang untuk mengikuti Pelatihan Sadar Api (Fire Awareness Training/FAT) melalui Manggala Agni Pontianak untuk ''Mencegah dan Mengawasi'' area konsesi dan konservasi hingga tahun 2020. Pada tahun 2017, 60 orang lainnya akan menerima pelatihan FAT. IOI juga berencana untuk mengembangkan program pertanian tanpa api dengan masyarakat di 4 desa dengan 32 peserta.

- Musim Mas: 71 desa ikut serta dalam kampanye Kesadaran Bebas Api (Fire Free Awareness) pada tahun 2016, yang mencakup wilayah 500.000 hektar. Sebuah bantuan infrastruktur senilai 25 juta rupiah (hampir USD 2,000) telah diberikan kepada desa-desa yang terbukti bebas dari api dalam jangka waktu satu tahun program. Pada tahun 2017, 5 desa akan diikutsertakan dalam sebuah program masyarakat bebas api yang menyeluruh.

- PM.Haze: Meluncurkan proyek penyekatan kanal dan kampanye minyak bersertifikasi RSPO untuk restoran-restoran di Singapura. Pada tahun 2017, PM.Haze merencanakan sebuah kunjungan ke desa Sungai Tohor di Pulau Tebing Tinggi, Indonesia untuk mendukung Program Restorasi Hidrologi dengan Badan Restorasi Gambut (BRG).

- Sime Darby: Menerapkan program ‘Pencegahan Kebakaran melalui Praktik Pertanian yang Berkelanjutan’ di 4 desa pada tahun 2016, mencakup area seluas 17.158 hektar dan bekerja sama dengan Universitas Riau (UNRI), di mana survei terhadap 280 petani setempat menunjukkan bahwa 76.63% melakukan praktik tebang dan bakar (slash and burn). Insiden kebakaran terbukti berkurang dari 40 titik api pada tahun 2013-2014 menjadi 1 titik api saja di tahun 2015-2016. Pada tahun 2017, program direncanakan akan melibatkan 4 desa tambahan di Riau bekerja sama dengan UNRI dan 7 desa di Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam).

- Wilmar: Mensosialisasikan program ‘Masyarakat Bebas Api (Fire-Free Community)’ di 61 desa di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah pada tahun 2016. 1.39 hektar area perkebunan dan 67.15 hektar area perkebunan terbakar yang belum ditanami pada tahun 2016, memperlihatkan peningkatan hingga 90% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tujuan Wilmar pada tahun 2017 yaitu untuk mengurangi jumlah rata-rata insiden kebakaran di perkebunan di Indonesia dari tahun 2011-2015 hingga 50% dan mengurangi kebakaran di wilayah penyangga yang berada 5 kilometer di luar batas perkebunan. NM

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id