Menu
SAJIAN ISI

Items filtered by date: Senin, 01 July 2019

Agrofood Expo 2019; Industri 4.0 untuk Menyongsong Kejayaan Perkebunan Indonesia

Jakarta, - Arif Amin Hakim, Peneliti Manajemen Pengembangan Teknologi PT. RPN (Riset Perkebunan Nusantara), menjelaskan, revolusi Industri 4.0 saat ini telah menjadi keniscayaan mengingat perkembangan teknologi yang sangat pesat terutama internet. Industry perkebunan pun mau tidak mau akan terkena.

Namun sebagai sebuah keniscayaan, revolusi industri 0.4 merupakan peluang bagi perkembangan industry perkebunan di Indonesia. Yaitu dengan memasukkan aspek teknologi internet untuk menyelesaikan masalah terkini di perkebunan.

Kunci implementasi industri 0.4 harus ada peralatan yang memadai, protocol monication, jaringan internet di lokasi, keamaanan, kemampuan sumber daya manusia untuk melakukan pencatatan data yang diperlukan, memastikan semua lini peralatan di perusahaan perkebunan berjalan secara integrasi serta kemampuan analisis database untuk mengevaluasi kinerja perkebunan.

“Langkah awalnya adalah ketahui apa permasalahan di industri perkebunan, bagaimana kita bisa memasukkan aspek teknologi internet untuk menyelesaikan masalah terkini. Lalu mengembangkan teknologi untuk mengatasinya, dengan begitu indusri 4.0 bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di perkebunan,” jelas Arif dalam acara Agro Food Expo 2019, pada hari Sabtu (29/06) di Jakarta Convention Center, Senayan.

Salah satu project yang dilakukan PPKS PT. RPN saat ini, mengembangkan inovasi drone untuk memudahkan proses pemetaan tanaman sawit dengan menghubungkannya ke GPS sehingga langsung didapatkan koordinatnya. Dimana dengan pemanfaatan drone dapat memonitor unsur hara dalam tanaman dengan melihat dari warna daunnya, cahaya, dan lain-lain.

“Jadi dalam industry 4.0 jaringan internet penting. beberapa waktu lalu, ada perusahaan telekomunikasi yang menawarkan jaringan internet berbasis satelit yang memungkinkan koneksi jaringan hingga ke daerah perkebunan yang kebanyakan wilayah terpencil,” ujar Arif.

Sementara itu menurut Iriana,Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia, tak hanya sebagai solusi permasalahan teknis di hulu, teknologi industry 4.0 bisa dimanfaatkan untuk industry hilir perkebunan. Seperti untuk meningkatkan branding produk-produk perkebunan Indonesia. Sebab dengan kemajuan teknologi, setiap produk yang dimiliki petani bisa otomatis terkoneksi dengan konsumen di luar sana.

Hal itu merupakan sebuah peluang besar. Ia pun mengakui bahwa dengan memanfaatkan dukungan teknologi industry 4.0 ini, brand white tea miliknya pun berhasil menjadi salah satu rangkaian produk teh termahal di indonesia. Salah satunya, dengan memanfaatkan platform digital, Instagram.

Menurutnya, dalam membangun platform digital, harus memperhatikan tiga aspek. 1) tetapkan identitas brand /merk. 2) demand yang memenuhi kebutuhan konsumen, dan 3) eksperiensial produk.

“Eksperiensial produk harus digambarkan, seperti dalam instagram story. Kita bisa tunjukkan bagaimana saat menyeduh white tea, kalau sudah siap diminum dia berdiri, ketika batang teh seperti akan tidur berarti sudah selesai. Ini proses seduh teh yang benar,” jelas pemilik brand Sila Tea tersebut.

Ia yakin dengan memberitahukan proses penyeduhan teh lewat digitalisasi bisa meningkatkan branding komoditas, sehingga ketertarikan konsumen akan semakin tinggi. Inilah yang Iriana maksud dengan memanfaatkan teknologi 4.0 sebagai basis media untuk berkomunikasi dengan pasar dan mengetahui yang diinginkan konsumen.

“Seperti teh untuk kesehatan harus dari teh organik maka kebunnya juga harus kita perlihatankan dimana teh itu ditanam, kapan dipetik, jam berapa dihasilkan, bagaimana diproses, maka ketertarikan konsumen akan lebih tinggi,”pungkasnya. (NM)

 

Selengkapnya

Guru Besar IPB Jelaskan Isu Deforestasi di Norwegia

OSLO – Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Yanto Santosa, menjelaskan kelapa sawit bukanlah penyebab langsung deforestasi di Indonesia. Berpedoman pada sejarah degradasi lahan di Indonesia, Yanto mengungkapkan konversi lahan perkebunan kelapa sawit bermula dari penanaman kelapa sawit pada lahan yang terlebih dahulu terdegradasi akibat kegiatan penebangan ataupun kebakaran hutan.

“Kegiatan konversi lahan demi kepentingan ekonomi dan keamanan pangan merupakan hal yang lumrah, terutama pada negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia,” kata Yanto dalam seminar sawit berkelanjutan di Oslo Norwegia, akhir pekan lalu.

 Bermula dari kesuksesan program transmigrasi, kata Yanto, konversi hutan mendorong peralihan fungsi hutan tropis menjadi lahan-lahan untuk tanaman pangan seperti padi.

“Pada tahun 1980an, pemerintah mendorong pelaku usaha kelapa sawit dan industri kayu untuk meningkat produktiftas lahan hutan terdegradasi,” kata Yanto. Dalam seminar di Oslo tersebut, hadir juga Duta Besar RI di Norwegia dan Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesian) Joko Supriyono.

Puncak deforestasi terjadi pada periode 1950-1985 dan 1985-2000 yaitu sebesar 42 juta hektar dan 16 juta hektar, sementara ekspansi lahan untuk kelapa sawit hanya 1 juta hektar dan 3 juta hektar dalam periode yang sama.

Fakta menarik lainnya, konversi lahan perkebunan kelapa sawit hingga tahun 2010 yaitu sekitar 8 juta hektar, 5,5 juta hektar di antaranya berasal dari konversi lahan pertanian dan lahan terlantar. Sementara, 2,6 juta hektar merupakan hasil dari konversi hutan produksi.

“Bukti sejarah lainnya yang menunjukkan bahwa kelapa sawit bukan penyebab langsung deforestasi di Indonesia yaitu awal pendirian perkebunan di Sumatera Utara pada tahun 1863. Komoditas pertama yang ditanam saat itu adalah tembakau bukan kelapa sawit, yang pada saat itu merupakan komoditas perdagangan utama di pasar Eropa” ungkap Yanto.

Perkebunan kelapa sawit bukanlah penyebab langsung deforestasi, bahkan konversi lahan kelapa sawit dapat dikategorikan sebagai “penghijauan kembali” atau “rehabilitasi” lahan yang semula telah terdegradasi.(*)

Selengkapnya
Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id