Menu
SAJIAN ISI

Items filtered by date: Rabu, 03 July 2019

Sektor Oleokimia Kian menarik

Jakarta, - Industri oleokimia berkontribusi bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Sebagai produk turunan sawit, industri oleokimia mampu menciptakan lapangan kerja, investasi, penerimaan pajak, pembangunan infrastruktur dan stimulus ekonomi daerah.

Hal ini terungkap dalam Seminar Oleokimia yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) dan Majalah Sawit Indonesia bertemakan  “Ragam Industri Pengguna Produk Oleokimia Indonesia” di Jakarta, Rabu (3 Juli 2019). Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

Pembicara yang hadir antara lain Aziz Pane (Ketua Umum APBI), Dr.Liandhjani (Ketua Bidang Industri Perkosmi), Lila Harsya (Kemenperin RI), dan Dr.Ir. Tatang Hernas Soerawidjaja (Ketua Ikatan Ahli Bioenergi).

Rapolo Hutabarat Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) menjelaskan bahwa jumlah perusahaan oleokimia terus meningkat sepanjang tiga tahun terakhir. Jumlah perusahaan oleochemical di Indonesia tahun 2016 sebanyak 17 perusahaan kapasitas produksi 10.970.700 ton/tahun dengan nilai investasi mencapai Rp 4,7 triliun.

Selanjutnya dari  2017-2018 terdapat 19 perusahaan dan tahun 2019 naik menjadi 20 perusahaan dengan total kapasitas produk oleokimia nasional sebanyak 11,326 juta ton/tahun. Penambahan investasi industri oleokimia di awal tahun 2019 mencapai Rp 4,84 triliun.

Pada 2019, dari total kapasitas produksi oleokimia 11,326 juta ton terdiri dari fatty acid 4,55 juta ton, fatty alcohol 2,12 juta ton, gliserin 883.700 ton, metil ester 1,93 juta ton dan soop nodle berjumlah 1,83 juta ton.

“Kenaikan produksi tahun ini ditopang investasi baru dua perusahaan oleokimia yang berlokasi di Dumai (Riau). Selain itu, dua perusahaan tadi sudah menjadi anggota Apolin,” ujar Rapolo.

Sementara itu, investasi oleokimia tahun 2017 sebesar Rp 4,7 triliun di Dumai. Selanjutnya tahun 2019, ada investasi senilai Rp 1,1 triliun di Propinsi Riau.

Adapun volume ekspor produk oleokimia dengan 15 HS code tahun 2017 sebesar 1,9 juta ton, tahun 2018 meningkat menjadi 2 juta ton. Nilai ekspor tahun 2017 sebesar USD 1,5 miliar dan USD 2,3 miliar di tahun 2018.

Oleokimia digunakan pada industri deterjen, farmasi, ban, kosmetik dan industri lainnya. “Pengembangan produk oleokimia juga menjadi tantangan ke depan. Riset menjadi tulang punggung industri ini dalam mengembangkan produk oleokimia,” katanya.

Abdul Rochim Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian menambahkan, peran industri oleokimia sangat strategis karena mampu mengolah sumber daya minyak kelapa sawit yang melimpah dan menjadi building block bagi pertumbuhan industri hilir terkait.

Pada 2019 bertambah menjadi 20 perusahaan dengan total kapasitas produksi oleokimia sebanyak 11.326.300 ton/tahun. Penambahan investasi industri oleokimia di awal tahun 2019 mencapai Rp 4,84 triliun.

“Salah satu faktornya karena peringkat EODB (Ease of Doing Business) melalui berbagai fasilitas dan kemuahan investasi dari pemerintah Indonesia. Pemerintah berkomitmen mendorong dan memberikan dukungan bagi pertumbuhan industri oeokimia nasional,” tuturnya saat membuka acara.

Sektor oleokimia, dikatakan Abdul Rochim, termasuk sektor industri yang mendapatkan fasilitas perpajakan tax allowance dan tax holiday berkaitan investasi baru dan perluasan industri. Lebih dari 10  proyek perusahaan oleokimia dan/telah mendapatkan tax incentive.

"Berdasarkan pengamatan kami, kebijakan insentif tax allowance dan tax holiday yang dikombinasikan pungutan sawit sangat efektif dan mampu mendorong Industri oleokimia,"paparnya.

Dikatakan Abdul Rochim, ada dua tantangan utama industri oleokimia yaitu pengamanan bahan baku industri dan inovasi menambah ragam jenis produk hilir. "Sudah ada usulan dari APOLIN untuk menyempurnakan tarif pungutan untuk menjamin pasokan bahan baku industri. Saat ini, sudah ada tim antar kementerian yang membahas persoalan ini," paparnya.

Industri oleokimia sebagai building block aneka produk hilir, maka aktivitas riset untuk menghasilkan inovasi terkini menjadi ujung tombak dalam penguasaan pasar global. Diantaranya biolubricant, biosurfaktan, bioplastik, biopolymer hingga biomaterial canggih.

“Kekuatan industri oleokimia berbasis minyak sawit ini terletak pada kemamapuan substitusi produk minyak bumi, sehingga lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable),” pungkasnya.

Selengkapnya

Ganoderma Ancaman Nyata Bagi Sawit

Bogor, - Serangan ganoderma mengancam keberadaan kelapa sawit Indonesia. Sebab, serangan jamur patogen ini  akan menimbulkan kerusakan besar pada perkebunan kelapa sawit. Tanaman yang terserang mengalami pembusukan dan akhirnya mati.

Hal tersebut disampaikan Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) saat acara Roundtable Ganoderma Management (RGM), yang bertemakan “Pemanfaatan Biopestisida Dalam Pengendalian Ganoderma”   di IPB International Convention Center, Bogor, Selasa (2 Juli 2019).

Menurut Darmono, saat ini serangan ganoderma tidak pandang bulu terhadap sasaran yang diserang. Apakah perkebunan negara, swasta atau rakyat. Akibat serangan ganoderma ini, kerugiannya sangat besar. Sayangnya banyak perusahaan yang baru sadar karena sebelumnya tidak pernah memperhitungkan penanganan serangan jamur tersebut dalam biaya produksi.

“Saat ini, ganoderma sudah menyerang 30% kawasan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Selain itu juga sudah menyerang Lampung. Adanya ancaman serius ganoderma terhadap industri sawit sindonesia kini telah menjadi perhatian serius pemerintah,” jelasnya.
Perkebunan kelapa sawit menghadapi ancaman ganoderma yang berpotensi menekan produktivitas sawit nasional.  

Untuk itu, Darmono berpendapat,  pengendalian ganoderma itu perlu dilakukan secara komprehensif dan tidak bisa secara parsial. Dengan demikian, kehadiran benih sawit unggul dan moderat toleran terhadap danoderma bukanlah jaminan akan terbebas dari ancaman ganoderma. Menurutnya, penyebutan benih moderat toleran karena memang tidak ada yang absolut tahan terhadap Ganoderma.

Darmono menjelaskan, ada sejumlah pertimbangan kenapa tanaman sawit tidak bebas sepenuhnya dari ganoderma di antaranya tekanan faktor lingkungan abiotik yang bervariasi. Kejadian penyakit di satu daerah bisa berbeda di daerah lain dengan latar belakang genetik tananaman yang sama.

"Ganoderma mampu beradaptasi melalui rekombinasi seksual membentuk galur-galur baru, menyebabkan patahnya ketahanan tanaman," ujarnya.

Oleh karena itu, Darmono menyarakan agar perusahaan kebun tidak boleh melupakan komponen pengendalian terpadu lainnya seperti penghancuran sumber inokulum, pemupukan yang berimbang antara pupuk kimia dan organik, penggunaan musuh alami, dan pembuatan parit isolasi, tidak dilakukan atau dilupakan.

Apabila cendawan Ganoderma di lingkungan sawit sulit berkembang, maka pembentukan galur baru juga bisa dicegah.

"Itu sebabnya eksplorasi materi genetik yang membawa ketahanan dan produktivitas tinggi tetap diperlukan,"ungkapnya.

Darmono menambahkan, perlu memberikan apresiasi kepada perekayasa dan pemulia tanaman sawit. Konsorsium riset Ganoderma yang pernah dideklarasikan perlu segera dijalankan karena untuk menanggulangi penyakit busuk pangkal batang yang saat ini menggerogoti perkebunan kelapa sawit.

Darmono menjelaskan bahwa ganoderma menjadi ancaman baru bagi perkebunan sawit yang akan diremajakan. Penggunaan pupuk akan sia-sia dalam rangka peningkatan produktivitas, apabila tanaman terserang ganoderma. Diperkirakan tanaman dapat bertahan dalam kurun waktu 10-12 tahun tanpa dibarengi revitalisasi lahan secara terintegrasi.

Dudi Gunadi Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian menambahkan, ganoderma merupakan ancaman bagi industri sawit, terutama sawit rakyat. Untuk itu pemerintah beserta jajarannya telah mempersiapkan berbagai cara untuk menanggulanginya.
"Kami sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Mulai dari penyiapan bibit unggul yang tahan ganoderma sampai dengan sosialisasi ke petani sawit akan bahayanya ganoderma," jelasnya.

Dudi menambahkan, serangan ganoderma mencapai ratusan ribu hektar dan tersebar di hampir semua sentra-sentra sawit. Untuk itu harus segera ditemukan solusinya.
"Serangan ganoderma telah meluas, ya ratusan ribu hektar. Dan itu tersebar di sentra-sentra sawit," lanjutnya.

Hadir sebagai pembicara di Roundtable Ganoderma Management (RGM) antara lain; Dr.Gurmit Singh, Dr.Abdul Gafur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, MPOB, dan perusahaan Biopestisida.

Jumlah peserta yang hadir diperkirakan 200 orang dari kalangan pelaku usaha perkebunan, HTI, akademisi, pemerintah, peneliti, dan mahasiswa.

Selengkapnya

Pelantikan Rektor INSTIPER Periode 2019-2023

Yogyakarta, - Suksesi tampuk kepemimpinan tertinggi Institut Pertanian Stiper Yogyakarta telah berakhir dengan terpilih dan dilantiknya Rektor baru INSTIPER untuk periode 2019-2024. Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. terpilih sebagai Rektor baru INSTIPER setelah melalui serangkaian proses seleksi yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY).

Rektor terpilih dilantik oleh Ir. Sri Hartadi selaku Ketua Pengurus YPKPY pada 28 Juni 2019 disaksikan oleh sivitas akademika INSTIPER. Pelantikan dilakukan tersebut dilakukan di ruang Auditheater INSTIPER. Setelah acara pelantikan, serah terima jabatan dari rektor lama ke rektor baru diselenggarakan pada Senin (1/7). Serah terima jabatan dari Dr. Ir. Purwadi. MS kepada Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng.

Dalam acara serah terima jabatan tersebut Dr. Ir. Purwadi, MS. selaku rektor periode sebelumnya menyampaikan, “Saya memohon pamit kepada Bapak dan Ibu Dosen maupun Karyawan INSTIPER yang telah membantu saya membangun INSTIPER sampai pada posisi INSTIPER saat ini. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada mitra kerja INSTIPER yang telah bekerjasama dengan INSTIPER. Pada hari ini telah selesai tugas dan amanah yang diberikan kepada saya untuk menjadi Rektor INSTIPER. Saya mengucapkan terima kasih atas kerjasama, dukungan, dan bantuannya yang telah diberikan kepada saya untuk mengemban amanah selama 10,5 tahun. Saya mohon maaf apabila ada salah khilaf yang terjadi . Dan saya ucapkan selamat kepada Rektor INSTIPER 2019-2023 Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. Selamat bertugas, semoga INSTIPER semakin maju dan kemitraan strategis bersama stakeholder terus dapat ditingkatkan”.

Rektor terpilih Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. dalam sambutannya menanggapi sambutan yang disampaikan oleh Dr. Ir. Purwadi, MS. Dr. Ir. Harsawardana,M.Eng. menyampaikan, “Hari ini merupakan hal yang sangat penting bagi INSTIPER, karena pada hari ini merupakan satu tahapan pergantian kepemimpinan di INSTIPER. Hal ini merupakan hal yang wajar bahwa setiap masa jabatan pemimpin pasti ada masanya. Jika selama ini pergantian kepemimpinan di INSTIPER mendapatkan perhatian dari pihak eksternal terutama dari stakeholder mitra kerja INSTIPER yang menayakan jika rektor INSTIPER ganti nanti bagaimana, kedepannya INSTIPER akan seperti apa, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Menurut saya pribadi, siapapun Rektornya yang menggantikan Rektor terdahulu harus tetap berada di jalur yang sama dengan yang telah digariskan oleh rektor-rektor terdahulu dan meneruskan program yang sudah berjalan”.

Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng menambahkan, “Begitu juga dengan saya, saya akan meneruskan hal-hal yang baik yang telah dilakukan oleh Dr, Ir. Purwadi, MS. Kedepan pembangunan INSTIPER akan lebih mengedepankan pada pembangunan SDM di INSTIPER sesuai dengan arahan dari YPKPY. Pada akhirnya saya memohon kepada Bapak/Ibu sekalian yang merupakan sivitas akademika baik itu Dosen, Karyawan, Mahasiswa dan komponen lainnya untuk meneruskan karya–karya besar INSTIPER”.

Selengkapnya

Anak Usaha Grup Astra Agro Konversi 2.500 Ha Kebun Sawit Tapin Menjadi Kebun Plasma

Kalimantan, - Anak usaha Grup Astra Agro terus kembangkan kemitraan, seperti yang dilakukan PT Tri Buana Mas (TBM) salah satu anak Perusahaan PT Astra Agro Lestari (AAL) yang berlokasi di kawasan Candi Laras Utara Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit ini menjalin kemitraan dengan masyarakat dalam pengelolaan perkebunan sawit dengan pola inti plasma. Sekitar 2.500 hektar kebun kelapa sawit siap dikonversikan menjadi kebun plasma dengan menggandeng Koperasi Serba Usaha (KSU) Bangun Banua.

Program ini didukung penuh oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan (Kalsel). Untuk merealisasikannya kegiatan ini diawali dengan uji kelayakan konversi kebun plasma di PT TBM.

“Secara umum, perkebunan plasma yang dikembangkan PT TBM sudah sesuai standar teknis dan layak untuk dikonversi. Apalagi, perusahaan ini juga menjalin kerjasama yang baik dengan KSU Bangun Banua yang menghimpun para petani lokal,” ucap Suparmi, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel pada saat uji kelayakan, Sabtu, (29/6)

Ketua KSU Bangun Banua, Muhammad Noor mengatakan bahwa perkebunan inti plasma akan diterima 1.984 kepala keluarga (KK), keseluruhannya berada di 5 Desa wilayah Margasari yaitu Desa Suwaja, Buas-Buas, Buas-Buas Hilir, Teluk Haur, dan Batalas.

“Konversi kebun plasma yang dilakukan PT TBM membuktikan kepekaan perusahaan terhadap masyarakat sekitar,” ucap Muhammad Noor.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Camat Candi Laras Utara, H. Parianta, bahkan menurutnya program perkebunan inti plasma yang diterapkan oleh PT TBM bisa menjadi contoh perusahaan sawit lainnya.

“Saat ini, perusahaan telah menjadi rumah bagi ribuan pekerja kebun yang sebagian besar adalah masyarakat sekitar. Ia juga berpesan terkait program konversi dan pengalihan kebun ke petani plasma, hendaknya masyarakat bisa menjaga amanah ini dengan baik dan jangan sampai lahan tergadai apalagi terjual,”.

Sementara itu, CDAM PT AAL Area Borneo 4, Jaenudin, menyampaikan bahwa program kemitraan ini merupakan perwujudan dari visi besar PT AAL dalam mendorong kesejahteraan bersama bangsa. Diharapkan dengan program kemitraan tersebut dapat membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.*

Selengkapnya
Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id