Menu
SAJIAN ISI

Items filtered by date: Senin, 08 July 2019

9.940 Ha Sawah Gagal Panen, Kementan Bahas Mitigasi dan Optimalisasi Lahan Rawa

Jakarta, - Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy, Kementerian Pertanian mengungkapkan akan terjadi kemarau ekstrim sampai dengan bulan September. Berdasarkan Informasi peringatan dini BMKG, puncaknya akan terjadi pada bulan Agustus. Wilayah yang terancam terdampak kekeringan terutama di Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT.

Dari tiga pulau tersebut, lanjut dia, terdapat 100 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan dengan luas lahan 102.654 hektar (ha). Kemudian, juga terdapat 9.940 hektare sawah yang puso atau gagal panen di Pulau Jawa. "Terdapat lebih kurang 100 kabupaten/kota dengan total luasan 102.654 hektare dan puso 9.940 hektare," ungkapnya di kementerian pertanian, Jakarta, Senin (8/7).

Menurut petugas Pengamat OPT di lapangan, secara umum penyebab kekeringan selain karena curah hujan yang sedikit juga penggunaan varietas yang didominasi varietas tidak toleran kekeringan seperti Ciherang, IR 64 dan Mekongga. Untuk varietas seperti Situbagendit relatif aman dari dampak kekeringan.  Minimnya penampung air di sekitar lahan pertanaman juga menyebabkan air tidak tertampung optimal pada saat curah hujan tinggi sehingga tidak dapat dimanfaatkan saat musim kemarau.

Merespon hal tersebut, Kementerian Pertanian pada hari Senin 8 Juli 2019 melaksanakan rapat koordinasi lintas sektoral dengan Dinas Pertanian Kabupaten, Dinas PU Kabupaten serta Kodim di wilayah terdampak kekeringan guna melakukan mitigasi dan adaptasi kekeringan. Kegiatan ini bertujuan menentukan Rencana aksi setiap kabupaten/kecamatan sehingga semua unsur terkait bisa langsung action operasional di lapangan untuk penanganan pertanaman terdampak kekeringan baik yang sudah puso dan yang belum puso maupun pengamanan standing crop.

Untuk membantu wilayah yang puso perlu menginventarisir keikutsertaan asuransi petani, apabila belum ada Kementan akan menyiapkan bantuan benih. Begitu pula untuk wilayah yang terancam kekeringan dan belum puso, perlu pengakitfan pompa, mengoptimalkan sumber air terdekat (sungai, danau, embung), normalisasi saluran, serta penyediaan sumur pantek.

Untuk itu, imbuhnya, Kementerian Pertanian juga telah membangun 11.645 embung dan 4.042 irigasi perpompaan sebagai alteratif sumber air untuk irigasi lahan pertanian. Embung dan irigasi pompa ini dialokasikan untuk wilayah-wilayah yang berpotensi tinggi terjadi kekeringan.

Sementara Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, ada dua kata kunci dalam menghadapi kemarau ekstrim tersebut. Pertama, mitigasi. Kedua, optimalisasi lahan rawa.

"Ada dua kunci yang kita perkenalkan yang namanya mitigasi, artinya mengurangi risiko daerah yang terdampak kekeringan terutama yang curah hujannya kurang, ada juga adaptasi kekeringan jadi di daerah rawa yang airnya justru surut ini untuk membuat surplusnya makin besar," jelasnya.

Menurutnya, musim kemarau seperti ini sebenarnya bisa menjadi kesempatan mengembangkan lahan rawa. Optimalisasi lahan rawa akan lebih bagus di musim seperti ini. Oleh karena itu kami juga mengundang wilayah rawa agar mengupayakan penambahan Luas Tambah Tanam melalui optimalisasi Potensi Lahan Rawa. rencana aksi bisa dengan bantuan benih padi, jagung, kedelai, tumpangsari, optimalisasi lahan, serta bantuan alsintan.

Untuk di wilayah Jawa Barat,  Jawa Tengah, Jawa Timur, diharapkan Perum Jasa Tirta (PJT-I dan PJT-II )  dengan sumber air yang ada dapat mengamankan standing crop pertanaman, sekaligus meningkatkan Luas Tanam/LTT. Untuk wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, diharapkan dapat meningkatkan LTT melalui optimalisasi penanaman pada lahan kering serta rawa yang masih ada airnya.

Selengkapnya

Lebih dari 100 siswa mendapatkan beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food 2019

Jakarta, – Sebanyak 113 siswa mendapatkan beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food 2019 sebagai bagian dari investasi jangka panjang perusahaan untuk masa depan sektor bisnis agri yang berkelanjutan.  
“Beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food dirancang untuk mendorong terlahirnya tenaga-tenaga terampil Indonesia yang dapat diserap oleh pasar industri. Kami menyadari bahwa perkembangan teknologi akan ikut mengubah cara kami beroperasi. Dan diperlukan tenaga-tenaga muda terampil dan melek teknologi yang bisa mengikuti perubahan tersebut,” jelas Dion Leswara, Head of HR Indonesia Business, Sinar Mas Agribusiness and Food (5/0719).

Sejak dimulai proses seleksi pada bulan April, 83 siswa yang lolos seleksi beasiswa akan memasuki tahap selanjutnya untuk menempuh perkuliahan di ITSB (Institut Sains dan Teknologi) Bandung dan Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta dan 30 siswa lainnya akan melanjutkan studinya di Tzu Chi University of Science and Technology (TCUST) yang berlokasi di Taiwan. Seluruh biaya perkuliahan para peserta akan ditanggung sepenuhnya oleh Perusahaan. 

Sinar Mas Agribuinsss and Food seperti dengan industri lainnya saat ini tengah melalukan modernisasi dan peningkatan pemanfaatan teknologi dengan tujuan efektivitas dan efisiensi. Penggunaan teknologi seperti pemanfaatan drone, automation , big data, cloud ataupun IoT ( internet of things ) menjadi peluang dan tantangan baru kedepannya. Tentu, perusahaan akan membutuhkan banyak generasi muda yang melek dan terampil dalam teknologi agar dapat terus sejalan dengan perubahan waktu dan tuntutan dunia industri. 

Sejak tahun 2011, Sinar Mas Agribusiness and Food telah menggulirkan program beasiswa untuk mendorong terlahirnya para pemimpin masa depan Indonesia khususnya dalam bidang industri agribisnis. Program beasiswa ini merupakan investasi jangka panjang yang dilakukan perusahaan untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam dunia industri.

Hadi Santoso merupakan salah satu penerima beasiswa nasional Sinar Mas Agribusiness and Food 2019 yang berasal dari Sumatera Selatan. Selama bersekolah, Hadi dikenal sebagai siswa teladan yang memiliki prestasi di bidang akademik dan non-akademik.  Segudang prestasi non-akademik telah dia raih selama duduk di bangku SMA, seperti juara lomba cipta puisi maupun lomba kreasi limbah tingkat nasional. Di bidang akademik, nilai rata-ratanya pun dapat mencapai 93,33.

“Semoga pihak Sinar Mas Agribusiness and Food memperluas beasiswa ini ke sekolah-sekolah lain supaya anak-anak kurang mampu yang memiliki kemauan yang tinggi bisa terbantu,” ujar Hadi. 

Seleksi program beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food telah berlangsung sejak April 2019 di mana proses seleksi dilakukan secara ketat dan terbuka. Peserta seleksi harus melewati rangkaian tes seperti tes potensi akademik, psikotes, wawancara, dan medical check - up , sehingga pada akhirnya akan menciptakan kandidat terbaik dan sesuai kriteria yang siap berkontribusi membangun negeri secara kompeten untuk perindustrian Indonesia di masa depan.

Selengkapnya
Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id