Menu
SAJIAN ISI

Peluang Ekspor Sayur & Buah Masih Menjanjikan

Patani sayur di ladangnya Patani sayur di ladangnya

Di awal tahun 2015 ini, pasar agribisnis dunia masih terbuka lebar. Ini adalah kesempatan  bagi petani dan pekebun Indonesia untuk memenuhi pasar ekspor hasil komoditas hortikultura, khususnya sayur dan buah-buahan. Memang, pasar ekspor produk agribisnis sempat lesu sepanjang tahun 2014, seiring pelambatan ekonomi global. Sejumlah negara tujuan utama ekspor hasil bumi Indonesia mengurangi permintaannya. Sebut saja China, Jepang dan kawasan Eropa, mengurangi permintaan mereka atas produk impornya.

Namun  pada tahun 2015 ini, pemerintah dan para pengusaha masih yakin ekspor produk agribisnis unggulan Indonesia masih prospektif. “Apalagi di awal tahun. Tidak ada negara yang tidak mencari stok di awal tahun,” kata Partogi Pangaribuan, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Produk ekspor unggulan di sektor agribisnis sebagian besar berbasis perkebunan, seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi, dan teh. Sementara produk ekspor lainnya berbasis hortikultura seperti sayuran dan buah. Akhir-akhir ini, permintaan pasar ekspor terhadap sayur dan buah dari Indonesia terus meningkat. Bahkan di saat ekspor komoditas unggulan lain seperti CPO dan kakao turun, ekspor sayuran justru mengalami kenaikan 1,64%. Pun halnya, ekspor buah-buahan naik 27,76%, sejak Januari hingga Oktober 2014.

Bandingkan dengan volume ekspor biji kopi yang minus 31,46%, ekspor buah dan sayuran masih positif. Sebab, permintaannya terus meningkat, selain itu harganya di pasar ekspor juga tidak fluktuatif.

Pengusaha hortikultura mengakui,  nilai ekspor sayur dan buah secara keseluruhan naik rata-rata 30,89% menjadi US$ 408,33 juta sepanjang tahun 2014. “Nilainya memang masih kecil, tapi terus meningkat,” kata Ketua Asosiasi Perbenihan Hortikultura Indonesia (PHI) Afrizal Gindow.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan, lima komoditas ekspor hortikultura yang menjadi favorit adalah nanas, manggis, kubis, cabai dan jahe. Nilai maupun volume ekspor lima komoditas tersebut paling besar dari produk lain. Dan untuk ke depan, masih diproyeksikan akan terus naik karena masih tingginya permintaan.  

Khusus untuk cabai, pasarnya cukup luas: Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, China, Belanda, Swiss dan Norwegia. Adapun sayuran, khususnya kubis, mayoritas diborong Singapura.
Menurut Afrizal, produk hortikultura Indonesia sebenarnya memiliki potensi ekspor yang besar. Sebab beragam produk buah, seperti manggis, dan sayuran Indonesia diminati pembeli di luar negeri. “Sayangnya, produksi kita minim. Sekitar  90% produksi dikonsumsi domestik, sementara yang bisa diekspor hanya 10% dari total produksi,” ujar dia.

Lantaran produksi yang minim itu pula, belakangan produk hortikultura luar negeri semakin gencar masuk ke Indonesia. Lihat saja, dari pasar modern hingga pasar tradisional banyak produk buah dan sayur impor. Jika hal itu terus dibiarkan, Afrizal khawatir, Indonesia justru terus kebanjiran produk hortikultura impor.

Masalahnya, meskipun memiliki potensi tak kalah besar, subsektor hortikultura masih merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Para pelaku menilai pemerintah terlalu fokus menggenjot pembangunan subsektor tanaman pangan dan kurang memperhatikan subsektor hortikultura.

Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, Entang Sastraatmaja mengatakan, hortikultura Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Namun selama ini potensi tersebut belum tergali karena pemerintah dari pusat hingga daerah masih terfokus pada tanaman pangan. “Padahal keduanya sama-sama bisa dindalkan untuk mendukung ketahanan pangan,” tegasnya.

Ditambahkan Entang, banyak pihak yang sering kali berteriak ketika komoditas tanaman pangan, terutama beras diserbu produk impor. Sementara jika menyangkut sayuran atau buah-buahan impor, apa yang dieriakkan petani seolah tak terdengar. Padahal buah dan sayur lokal Indonesia tak kalah kualitasnya untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bersaing di pasar ekspor.

Sudah berlangsung sekian lama bahwa buah dan sayuran impor membanjiri pasar modern maupun tradisional. Bahkan penjual buah di pinggir jalan pun lebih banyak menjajakan buah impor. Akibatnya, masyarakat pun kemudian lebih menyukai buah impor ketimbang buah lokal yang ditanam di tanah airnya sendiri. (hen)

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id