Menu
SAJIAN ISI

Bersama Pentani Milenial, Kementan Angkat Petani Bandung Barat Menuju Petani Mandiri

Lembang - Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi membuka Grand Launching Desa Tani Expo Petani Milenial #2019TetapPetaniBerdayaDitanahSendiri yang diselenggarakan oleh Kelompok Tani MACAKAL bekerjasama dengan Dompet Dhuafa di Desa Cibodas Kecamatan Lembang Bandung Barat Provinsi Jawa Barat, Rabu, 13 Maret 2019.

Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi mengapresisi kegiatan launching Desa Tani Expo Petani Milenial tersebut. Menurutnya upaya tersebut merupakan hal baik karena untuk mengangkat petani, baik itu petani dhuafa, penggarap, buruh supaya lebih mandiri dengan pola-pola sinergi seperti ini.

"Saya harapkan pola-pola seperti ini diterapkan di tempat-tempat lain, sehingga jangkauannya bisa lebih luas. Manfaatnya luar biasa, karena yang diproduksipun produk-produk sayuran yang kelas supermarket dan ekspor, Ini sangat baik. Jadi komprehensif, mulai dari pembinaan hulu, kemitraannya, hilir sampai pasar," terang Suwandi di Bandung Barat, Rabu (13/03/3019).

Selain itu, pola sinergi seperti ini juga saya lihat sangat bagus, terbukti dengan banyak pihak yang ingin bermitra dan membangun kerjasama dengan petani. "Saya lihat tadi ada MoU salah satunya dengan Bank BJB dan ini saya harap terus di tingkatkan," imbuh Suwandi.

"Kita aka mensupport penuh dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan, kita akan support," tambah Suwandi.

Terkait dengan lahan pertanian yang tersedia di Bandung Barat menurut Suwandi lahannya subur dan pengelolaannya efisien. Saya berharap tingkatkan pola bertani tumpangsari, ramah lingkuangan dan mengikuti SOP.

"Produksi kita akan naik, sekaligus ramah lingkungan dan memberdayakan masyarakat sekitar," ujarnya.

Mengenai konsep pertanian milenial yang diharapkan oleh pemerintah saat ini sudah ada pada Kelompok Tani MACAKAL ini. "Ini sudah contoh generasi Milenial, generasi muda bangkit. Image kita selama ini pertanian itu becek-becek dan kotor-kotor. Contonya apa, ini sudah dilakukan mekanisasi, pakai teknologi, produknya market oriented, dan pola transaksinya pun udah mengikuti generasi milenial," terang Suwadi.

"Jadi teknologi informasi, teknologi mekanisasi, teknologi yang lain kita manfaatkan untuk menggenjot produksi selada air, baby buncis kenya, baby timun, horenzo, tomat beef, kale dan lainnya. Tata niaga untuk pasar supermarket dan ekspor. Manajemen kelembagaannya tolong naik kelas menjadi koperasi, BUMP atau sejenisnya" tambah Suwandi.

Sementara itu Bupati Bandung Barat AA Umbara mengaku bangga dan mengapresiasi upaya Kelompok Tani MACAKAL dalam memajukan pertanian. Baginya, hal tersebut menjadi inspirasi karena dirinya juga lahir dan dibesarkan di keluarga petani.

"Saya dulu bertani, dan hari ini barangkali pertanian tidak seperti jaman jadul lagi. Karena sudah zaman now. Makanya sekarang ada petani milenial. Ini inspirasi buat kami terutama pemerintah daerah Bandung Barat," kata Umbara.

Sebagai wujud dukungan terhadap petani, pada tanggal 21 Maret 2019 mendatang pihaknya akan mengundang para petani dan kelompok tani dan akan diberikan bantuan Alsintan.

"Saya akan memberikan 1.000 traktor untuk petani Kabupaten Bandung Barat, dan didalamnya ada semua yang dibutuhkan petani," ujar Umbara.

Ketua Kelompok Tani MACAKAL, Triana dalam sambutannya mengucapakan banyak terimakasih kepada berbagai pihak, baik itu Dirjen Hortikultura Kementan, Bupati Bandung Barat, Dinas Pertanian Jawa Barat serta Dompet Dhuafa sebagai mitra Kelompok Tani MACAKAL.

"Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak. Ini merupakan penyemangat bagi kami sebagai petani di Cibodas," kata Triana.

Menurutnya, Kelompok Tani MACAKAL siap memajukan pertanian bersama para petani yang ada disekitar Desa Cibodas. Untuk itu kata Triana adanya dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak lain sangat dibutukan.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat Andriyansyah menuturkan setiap hari ada petani dapat memanen buncis 100 kg.

"Sebanyak 12 petani binaan tersebut kami berdayakan dalam program yang bernama desa tani dilahan seluas 1,2 hektar di kampung Ateng Lembang ini. Program ini berjalan sejak akhir tahun 2018 lalu,"ujar Andriansyah.

Andriansyah melanjutkan, desa tani merupakan salah satu program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa Jabar. Desa tani hadir untuk mengatasi masalah kesejahteraan para petani yang ada di desa Cibodas.

Dan dalam pelaksanaan pembedayaan petani tersebut, Dompet Dhuafa Jabar bermitra dengan Kelompok Tani MACAKAL. Kelompok Tani MACAKAL lah yang membantu melakukan ekspor ke Malaysia.

"Adanya kolaborasi dengan mitra lokal diharapkan bisa semakin memudahkan dan melejitkan tujuan program," imbuh Andriansyah.

Program DMPA Sinar Mas Agribusiness and Food Torehkan Prestasi

Ketapang, 14 Maret 2019 – Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) Sinar Mas Agribusiness and Food yang dilaksanakan sejak tahun 2016 telah menorehkan catatan prestasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Melalui program pemberdayaan masyarakat secara partisipatif, masyarakat memiliki kemampuan dalam mencegah dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mencapai ketahanan pangan dengan cara yang lebih ramah lingkungan melalui Pertanian Ekologis Terpadu (PET), dan meninggalkan pola bertani dengan membakar.

"Program DMPA kami rancang dengan memahami kebutuhan masyarakat dari desa binaan kami. Tahap pertama fokus pada pencegahan dan mengatasi kebakaran. Tahap kedua, kami mencoba memberikan solusi dari akar permasalahan agar masyarakat mau dan bisa meninggalkan pola bertani dengan membakar melalui PET. Saat ini, perusahaan telah melakukan pendampingan kepada 32 desa di Sumatera dan Kalimantan untuk program DMPA,” jelas Susanto Yang, CEO Sinar Mas Agribusiness and Food Wilayah Kalimantan Barat.

Melalui PET, masyarakat akan tetap dapat bertani dan mendapatkan pangan yang dibutuhkan, bahkan mendapatkan produktifitas yang lebih baik dan pengeluaran yang lebih sedikit untuk mengelola pertanian. Bersama dengan Masyarakat Siaga Api (MSA) dan pemerintah setempat, masyarakat desa diajak untuk melakukan proses belajar dengan praktik di lapangan – atau disebut juga sekolah lapangan PET – dan kemudian mereplikasikan di kebun masing-masing. Keberhasilan ini dapat terlihat dengan keluarga anggota kelompok PET yang mampu mendapatkan penghasilan 1 – 1.3 juta rupiah setiap bulannya.

Penghasilan tersebut dapat membantu masyarakat anggota kelompok PET untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun membayar kebutuhan anak-anak sekolah. Selain itu, tentunya indikator keberhasilan program DMPA yang telah berlangsung sejak tahun 2016, juga dapat diukur dengan penurunan titik panas di Kabupaten Ketapang. Pada tahun 2018, titik panas di Ketapang menurun sebesar 89,0% dibandingkan dengan tahun 2015, dimana terdapat 213 titik panas dan 130 titik api di desa binaan. Cuaca menjadi tantangan utama di tahun 2018, di mana curah hujan lebih sedikit dan musim kering lebih panjang dibandingkan tahun 2017.

Upaya dari desa-desa binaan di Ketapang untuk menjaga areanya agar tidak terbakar mendapatkan apresiasi dari perusahaan. Sejak tahun 2016, desa-desa yang berhasil mencegah terjadinya kebakaran lahan menerima penghargaan sebesar 50-100 juta rupiah dalam bentuk sarana dan prasarana pemadaman kebakaran dan fasilitas umum bagi desa. Di tahun 2018, sebanyak lima desa mendapatkan 100 juta rupiah dan tiga desa mendapatkan lima puluh juta rupiah.

Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan (Distanakbun) Kabupaten Ketapang menyambut baik dan merespon positif hasil yang telah dicapai masyarakat delapan desa di Kecamatan Nanga Tayap dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

“Kami menyadari bahwa diperlukan sebuah kolaborasi yang menyentuh dari berbagai pemangku kepentingan agar program dapat berjalan dengan berkelanjutan," ungkap Ir. L. Sikat Gudag, M.Si., Kepala Dinas s Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Ketapang.

Oleh karena itu, lanjutnya, peran serta elemen perusahaan, masyarakat dan pemerintah seperti Distanakbun, Manggala Agni, serta Muspika dan Lembaga Adat di Kecamatan Nanga Tayap sangatlah diperlukan. Distribusi informasi yang mampu mengedukasi masyarakat harus tetap berjalan baik melalui lembaga pendidikan formal dan informal.

"Saya berharap dengan melihat kisah sukses dari warga desa yang lain, program positif dari DMPA, dengan Pertanian Ekologis Terpadu akan dapat cepat diikuti oleh warga-warga lainnya,” pungkasnya.

DEKOPI Rayakan Ulang Tahun Pertama di Hari Kopi Nasional

JAKARTA, Di hari ulang tahun pertama dari Dewan Kopi Indonesia (DEKOPI) yang juga bertepatan dengan Hari Kopi Nasional, maka diselenggarakan Workshop dengan tema “Harmonisasi Pengembangan Kopi Hulu Hilir” dan Ngopi Bareng bersama Bapak Menteri Pertanian, serta Public Cupping. 

Pada kesempatan ini, dilakukan penandatanganan MoU DEKOPI bersama ITC Group sekaligus terkait pengembangan industri kopi dari hulu sampai dengan hilir. Hal ini juga meliputi penjualan biji kopi khas Nusantara, alat – alat pendukung pembuatan kopi, serta training pembuatan kopi dari kopi khas Nusantara.

“Dekopi berharap industri kopi dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ekonomi rakyat, sebab kita semua tahu sebagian besar industri ini dimiliki oleh small holder.” Ujar Anton Apriyanto pada acara workshop di Gedung PIA Kementerian Pertanian, pada Senin (11/03).

Perkembangan kopi saat ini terasa sangat pesat, ditandai dengan mulai maraknya pembukaan kedai – kedai kopi dari anak Negeri. Hal ini patut kita dukung agar memberikan dampak positif bagi Negara kita terutama dari segi ekonomi. Juga mendukung para petani kopi dalam Negeri untuk menyalurkannya ke pihak yang tepat.

Untuk mendukung tren industri kopi yang terus meningkat tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Tahunan Kementerian Pertanian, Irmiyanti mengatakan bahwa Pemerintah akan berupaya melakukan sejumlah usaha lain untuk mendukung peningkatan produksi.

“Kami akan berupaya terus melakukan pemberdayaan kelembagaan petani, pandampingan intensif dan berkelanjutan, peningkatan kapasitas dan kemampuan sumber daya manusia, pengaturan tata niaga, peningkatan ketersediaan investasi usaha, pengembangan kopi berdasarkan indikasi geografis, serta mendorong pengembangan kopi specialty atau produksi kopi khas daerah Indonesia,” ungkapnya.

Dengan berbagai upaya ini, lanjut Irmiyanti, Pemerintahberharap pada 2045 Indonesia bisa menghasilkan 1,742 juta ton kopi per tahun dengan ekspor sebanyak 643.835 ton kopi. Adapun kebutuhan dalam negeri pada saat itu diperkirakan mencapai 1,033 juta ton.

Selain itu, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungn Hidup dan Kehutanan (PSKL KLHK) Bambang Supriyanto juga menyatakan bahwa saat ini ada 4 juta hektare lahan perhutanan sosial yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pertanaman kopi. Hal itu untuk mendukung peningkatan produksi kopi nasional.

“Saat ini ada 13,8 juta hektare (ha) lahan perhutanan sosial di mana 4 juta ha diantaranya memenuhi kriteria untuk dimanfaatkan sebagai lahan bertanam kopi,” tuturnya Bambang.

Adapun kriteria yang dimaksud meliputi curah hujan tahunan, lamanya bulan kering, kemiringan lereng, elevansi atau ketinggian, dan sifat fisik tanah. “Untuk kopi syaratnya curah hujan 1.500-2.000 milimeter, kelerengan 0,8 derajat, lama kering dua bulan saja,” ujarnya usai acara Workshop Harmonisasi Pengembangan Kopi Hulu Hilir yang dilaksanakan dalam rangka memperingatati hari Kopi Nasional dan Ulang Tahun Dekopi itu.

Minyak Sawit Menjadi Solusi Stunting dan Kekurangan Gizi

JAKARTA, Minyak sawit mempunyai kandungan vitamin dan nutrisi tinggi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyakarat. Tingginya kandungan vitamin A dan E sangat dibutuhkan mengatasi persoalan gizi buruk dan stunting yang terjadi di Indonesia sekarang ini.
 
Hal ini menjadi pembahasan Dialog Majalah Sawit Indonesia bertemakan "Sawit Menjawab Kebutuhan Gizi dan Persoalan Kesehatan", di Jakarta, Rabu (6 Maret 2019). Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit sebagai lembaga pengelola dana pungutan sawit yang fokus kepada program replanting, biodiesel, promosi, dan riset.
 
Pembicara yang hadir antara lain Ir. Doddy Izwardy, MA, (Direktur Gizi Kementerian Kesehatan RI), Prof.Nuri Andarwulan (Direktur SEAFAST IPB), Dr.Darmono Taniwiryono (Ketua Umum MAKSI), dan Sahat Sinaga (Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia).
 
Doddy Izwardy  mengatakan perbaikan gizi merupakan investasi ekonomi dimana kecukupan gizi makro dan mikro merupakan prasyarat membangun kualitas sumberdaya manusia termasuk kualitas fisik dan intelektual  serta produktivitas tinggi. Masalah stunting di Indonesia berdampak kepada tiga aspek yaitu  gagal tumbuh, gangguan kognitif dan gangguan metabolisme. Jika masalah stunting tidak diatasi, maka Indonesia mengalami kerugian dari aspek ekonomi.
 
“Untuk itu, kami berharap kelapa sawit dapat menjadi solusi dalam mengatasi stunting. Karena masalah yang dihadapi pola konsumsi,” jelasnya. Kementerian Kesehatan berharap ada produk olahan kelapa sawit menghasilkan kaya akan vitamin A, melalui hasil penelitian.
 
Kalangan peneliti dari Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI)  menawarkan solusi pemakaian minyak sawit merah alami untuk mengatasi kekurangan gizi masyarakat Indonesia. 
 
Darmono Taniwiryono menceritakan pengalamannya sewaktu di Afrika yang menunjukkan  tradisi makanan olahan minyak sawit merah  telah dimulai semenjak 5.000 tahun lalu dengan teknik ekstraksi sederhana. Namun, saat ini minyak sawit merah alami yang kaya nutrisi belum termanfaatkan secara maksimal di Indonesia. 
 
Dikatakan Darmono, disinilah peluang mengatasi kekurangan gizi dan kesehatan masyarakat sangat tinggi termasuk untuk mengatasi permasalahan stunting. "Di Indonesia, minyak sawit merah alami bisa dipakai sebagai campuran minyak makan pada berbagai tingkat persentase. Saat ini, telah ada minyak sawit merah yang dapat dikonsumsi untuk makanan olahan dan pakan ternak," ujar Darmono yang juga menjabat Direktur Utama PT Nutri Palma Nabati.
 
Prof.Nuri Andarwulan menuturkan minyak sawit sangatlah cocok digunakan sebagai bahan baku minyak goreng karena mengandung hampir 50 persen asam lemak jenuh dan hampir 50 persen lemak tidak jenuh. Selain itu, terdapat pula kandungan omega 9 yang berfungsi untuk membangun dinding sel dan membran sel tubuh.
 
Dijelaskan Nuri, susu formula mengandung campuran spesifik lemak nabati  yang berasal dari minyak sawit untuk meniru kandungan asam lemak jenuh (SFA), asam lemak tak jenuh rantai tunggal (MFA), dan asam lemak tak jenuh rantai jamak (PUFA) pada ASI3.
 
"Banyak orang tidak tahu kandungan di susu formula berasal dari minyak sawit. Itu sebabnya negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat menekan komoditas sawit," ujarnya.
 
Diantara minyak nabati lain, minyak sawit juga mengandung kandungan karoten (Vitamin A), tokoferol dan tokotrienol (Vitamin E) yang sangat tinggi sehingga mengandung zat antioksidan.  Dibandingkan minyak kedelai, kandungan tokotrienol minyak sawit dua kali lebih banyak 
 
Sahat Sinaga sepakat bahwa asupan vitamin A di dalam minyak sawit dapat menanggulangi masalah stunting di Indonesia. Salah satunya memanfaatkan minyak sawit merah yang alami. Yang harus diperhatikan, pemerintah harus berkomitmen untuk mengubah pemakaian minyak goreng dari curah menjadi kemasan. 
 
"Pemerintah jangan lagi mundur dari kewajiban minyak goreng kemasan pada 1 Januari 2020. Sebaiknya diberikan insentif kepada pelaku industri," ujar Sahat.
 
Di sisi lain, kata Sahat, minyak jelantah harus dilarang peredarannya karena berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Sahat meminta Kementerian Perdagangan untuk mengawasi peredaran minyak jelantah. Meskipun diakuinya, rencana fortifikasi minyak goreng belum bisa terealisasi, karena masih mengalami banyak perdebatan dari berbagai pihak.
 
“Untuk itu, program ini butuh dukungan semua pihak termasuk di dalamnya industri  dan para pemangku kepentingan,” pungkasnya.

Ekspor Durian lokal Ranah Minang Naik 353 Persen

Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk terus meningkatkan pengembangan buah-buahan lokal asli tanah air salah satunya adalah buah durian atau yang kita kenal dengan sebutan King of Fruits. Kemarin, Kamis (28/2/2019), Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi, bersama dengan anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chandra, Assisten II Pemda Provinsi Sumatera Barat Benni Warlis berkunjung ke Solok mencari durian lokal khas setempat. Salah satu pohon durian yang disambangi Dirjen Suwandi dan rombongan adalah kebun 40 hektar dengan 4.000 pohon milik Pak Anjung di Kecamatan Kubung. Jenis durian lokal yang ditanam belum dirilis antara lain jantung selayo, tembaga selayo, tembaga emas, tembaga super, kunyit super, sanggan, sehelai sarawq, kubung, madu racun, maupun bangau berat berkisar 3,5 hingga 6,5 kg per butir. Anjung pemilik kebun durian tersebut mengatakan membudidaya jenis durian Matahari yang pada saat panen raya mampu berbuah paling banyak 1.000 butir per pohon. Namun harga durian di kebun masih murah di petani Rp 15.000 per butir. "Harga di petani ini berbeda dengan di Jakarta bisa mencapai harga Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per butir," ujarnya. Menurut Anjung, perbedaan harga tersebut justru merupakan sebuah peluang bisnis yang cukup terbuka. Dia memiliki durian lokal yang unik, belum ada di daerah lain yakni jenis Madu dan Racun yang bisa berbuah hingga mencapai berat 8 kilogram per butir. "Jenis durian lainnya adalah durian Madu Racun. Salah satu keunikan durian tersebut adalah satu butir durian Madu Racun tidak akan habis untuk 4 orang. Saking besarnya durian ini sehingga sering disebut dengan Durian Galon. Pohon durian ini bisa berbuah 800 sampai 1.000 buah per pohon," ungkap Anjung Anjung menjelaskan di kebunnya juga terdapat durian jenis Bango yang salah satu keisitimewaannya adalah memiliki rasa tidak kalah dengan durian Musang King. Satu butir durian Bango bisa dijual Rp 350 ribu per butir. Menurutnya, supaya pohon durian berbuah lebat, caranya menerapkan aturan tanaman sesuai dengan kaidah SOP. "Kami benar-benar mengikuti setiap tumbuh kembangnya durian seperti pada pemberian pupuk organik, pencegahan hama penyakit dan sebagainya," sambungnya. Anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin menyatakan kepuasannya dapat mencicipi nikmatnya durian khas Solok. Sebagai warga asli Solok, dia merasa bangga dengan beragamnya jenis durian yang ada di tanah air khususnya asli Solok. "Di sini tidak hanya dikenal beras dan kopi maupun bawang merahnya, tetapi duriannya juga hebat," ujarnya. Hasanuddin berharap agar pemerintah dalam hal ini Kementan melanjutkan komitmennya untuk memberikan perhatian terhadap pengembangan buah-buahan asli tanah air. "Khususnya buah-buahan yang berasal dari kekayaan alam Solok," pintanya. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Chandra menyampaikan apresiasi atas perhatian Kementan dan DPR RI. Hal tersebut bisa memberikan semangat kepada petani untuk terus berkebun dengan baik dan mempromosikan durian lokal khas Solok agar bisa diterima masyarakat luas yang pada gilirannya dapat memperluas pasar durian untuk meningkatkan kesejahteraan petani durian. "Saat ini terdapat beberapa durian jenis baru yag dapat dikenalkan kepada masyarakat seperti Salai Sarawa Serayo, Jantung Sedayo dan lain sebagainya," sebutnya. Dirjen Hortikultura Suwandi menjelaskan durian adalah buah yang paling banyak digemari oleh masyarakat Indonesia setelah itu jeruk. Selain rasanya yang nikmat durian juga banyak memberi manfaat untuk kesehatan tubuh manusia seperti kaya akan protein, serat, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin C, Kalsium, Kalium dan Fosfor "Kami berpesan agar buah-buah durian unggulan lokal segera didaftarkan untuk diberi nama varietas sehingga semakin mudah dikenal oleh anggota masyarakat dan yang terpenting adalah bisa dikomersilkan," ucapnya. Suwandi juga mengharapkan bantuan semua instansi terkait untuk selalu memberikan pendampingan agar setiap sumberdaya yang ada di Provinsi Sumatera Barat dapat dikelola dengan baik. Kemudian menghasilkan produk durian unggulan yang bisa bersaing dengan durian dari negara lain. "Indonesia memiliki keragaman jenis dan varietas durian lokal. Varietas durian unggul yang sudah dikenal masyarakat seperti durian Pelangi dari Papua, durian Merah dari Banyuwangi, durian Srobut dari Kalimantan Barat, Durian Bawor Romo Banyumas, durian Petruk, durian Matahari dan banyak jenis lainnya," bebernya. Suwandi pun menyebutkan pasar durian sangat terbuka luas dan durian lokal digemari baik di dalam negeri dan mampu bersaing di pasar ekspor. Buktinya, Indonesia pada tahun 2017 masih defisit neraca perdagangan durian, namun seiring berbagai program menggerakkan mutu dan mendorong ekspor. "Kini pada 2018 ekspor durian lebih tinggi dari pada impornya, sehingga neraca perdagangan durian sudah surplus 733 ton," tuturnya. Mengacu pada data BPS Tahun 2017, ekspor durian hanya 240 ton sementara impor lebih besar mencapai 764 ton sehingga neraca perdagangan defisit 524 ton. Namun ekspor durian 2018 melonjak 1.084 ton, impor hanya 351 ton artinya neraca perdagangan surplus 733 ton. "Volume ekspor durian 2018 naik 353 persen dibandingkan 2017," pungkasnya Suwandi.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id