Menu
SAJIAN ISI

MENRISTEKDIKTI Resmikan Perpustakaan Instiper

Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir meresmikan gedung perpustakaan Instiper. Gedung megah berlantai 3 dengan luas total 3.215 m2 ini diperuntukkan bagi sivitas akademika INSTIPER maupun masyarakat umum dalam mencari buku, artikel, dan jurnal ilmiah.

Peresmian Gedung perpustakaan Instiper ditandai dengan pemotongan buntal dan penandatangan prasasti oleh Menristekdikti, sekaligus meninjau gallery perkebunan yang sedang dikembangkan Instiper.

Rektor INSTIPER, Dr. Purwadi mengatakan, Instiper terus mengembangan gallery perkebunan Indonesia sebagai pendukung dalam menyiapkan model pendidikan tinggi 4.0 sekaligus pengembangan Politeknik Perkebunan Stiper Yogyakarta, yaitu program pendidikan sarjana terapan bidang perkebunan dan industri serta bisnisnya. Untuk awal pendirian direncanakan ada 3 jurusan yaitu: Agroteknologi Kelapa Sawit, Teknologi Kelapa Sawit, dan Agroindustri Kopi.

Selain mengembangkan Gallery Perkebunan pada saat ini INSTIPER juga menyiapkan Model Pendidikan Tinggi 4.0 dan juga rencana pengembangan pendidikan tinggi yang baru yaitu Politeknik Perkebunan Stiper Yogyakarta, yaitu program pendidikan sarjana terapan bidang perkebunan dan industri serta bisnisnya.

"Untuk awal pendirian direncanakan ada 3 jurusan yaitu: Agroteknologi Kelapa Sawit, Teknologi Kelapa Sawit, dan Agroindustri Kopi. Selanjutnya akan ditambah untuk komoditas teh, kakao, dan gula,” kata Purwadi di Yogyakarta, 18/3 2019.

Purwadi menambahkan, pendidikan ini memiliki ciri khas INSTIPER dengan platform yang baru baik dalam model pendidikan dan proses pendidikannya seperti kurikulum khas INSTIPER dan desain pembelajaran yang juga khas.

"Semua ini disiapkan INSTIER untuk menyongsong era baru model pendidikan kompetensi dengan memanfaatkan teknologi terkini sesuai dengan kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan di era industry 4.0 serta dirancang untuk Mahasiswa generasi milenial. Pada awal pembukaannya program pendidikan ini akan diisi mahasiswa beasiswa dari perusahaan," jelasnya.

Menurut Purwadi, pada model pendidikan yang tengah dikembangkan INSTIPER ini, mahasiswa akan menjalani kurikulum blok dan system ME-ME yang tidak mengenal istilah DO (drop out). Mahasiswa dapat mengambil mata kuliah di suatu blok dan pengambilan blok-nya pun tidak harus urut. Mahasiswa yang mengambil suatu blok akan mendapatkan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai bukti bahwa dirinya telah lulus pada blok yang diambilnya tersebut.

"Mahasiswa tidak harus menjalani pendidikan sepanjang waktu, bias saja mahasiswa yang telah lulus kompetensi tertentu kemudian melanjutkan bekerja, dan jika ingin melanjutkan kuliah lagi bisa langsung mengambil blok lain yang belum ditempuhnya," urainya.

Untuk memudahkan mahasiswa yang mengambil pendidikan ini sambil tetap bekerja, maka model pendidikan ini akan menggunakan model pembelajaran online (daring) menggunakan platform Google Enterprise for Education dengan bekerjasama dengan Google Indonesia. "Mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan semua blok akan dinyatakan lulus dan dapat memperoleh Ijazah Sarjana Terapan," kata Purwadi.

Betti Yuniasih, Humas INSTIPER menambahkan, selain meresmikan gedung perpustakaan, Menristekdikti beserta rombongan berkesempatan untuk meninjau Gallery Perkebunan yang sedang dikembangkan INSTIPER sebagai pusat informasi dan pengetahuan tentang Perkebunan di Indonesia.

Menurut Betti, lantai basement Gedung Perpustakaan pada saat ini dikembangkan sebagai Gallery Perkebunan. Gallery Perkebunan tersebut nantinya akan menjadi salah satu pusat informasi dan pengetahuan tentang budidaya, komoditas, dan pengembangan teknologi di bidang perkebunan di Indonesia.

"Terdapat berbagai komoditas perkebunan yang nantinya akan ditampilkan dalam Gallery Perkebunan tersebut seperti: kelapa sawit, kopi, kakao, karet, tebu, the, tembakau, cengkeh, lada, dan komoditas perkebunan lainnya. Hal ini dilakukan INSTIPER sebagai bukti totalitas INSTIPER yang memilih core competency pendidikan di bidang perkebunan dan kehutanan. Jika masyarakat Indonesia ingin mempelajari tentang perkebunan Indonesia cukup berkunjung ke INSTIPER Yogyakarta,” pungkasnya.

Menristekdikti buka Munas XI FL2MI
Musyawarah Nasional XI Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (Munas XI FL2MI) kali ini mengambil tema “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Menghadapi Era Globalisasi untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Bermartabat”.

FL2MI merupkan wadah pemersatu Lembaga Legislatif Mahasiswa seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia yang memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan lembaga legislative mahasiswa di Indonesia. Forum yang berasaskan Pancasila ini bertujuan supaya terbina rasa kekeluargaan antara lembaga legislatif mahasiswa yang akademis dan mampu berkarya untuk pengabdian yang berketuhanan, bertanggungjawab, atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur.

Dalam sambutannya, Rektor INSTIPER, Dr. Purwadi mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa yang telah hadir dalam acara Munas XI FL2MI. Rektor juga menyampaikan pesan kepada para mahasiswa “INSTIPER sangat mendukung kegiatan positif mahasiswa, seperti Musyawarah Nasional Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia ini.

Rektor menambahkan, melalui kegiatan berorganisasi mahasiswa dapat mengembangkan pemikiran kritis dalam batasan masih berlandaskan Pancasila. Mahasiswa jangan sampai mengikuti kegiatan yang radikal dan harus selalu menjaga kebhinekaan dan merawat rasa kebangsaan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti), Prof. H. Mohammad Nasir, Ph.D, Ak., berkesempatan membuka acara Munas XI FL2MI ini.

Moh. Nasir dalam paparannya menyampaikan, “Mahasiswa harus peka terhadap perubahan terutama di era revolusi industry 4.0 dimana lingkungan berubah dengan cepat. Mahasiswa juga harus cepat berubah dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Anak muda-lah yang harusnya lebih cepat merespon perubahan, karena mahasiswa merupakan salah satu agen perubahan yang diharapkan membawa perubahan yang positif dalam rangka mencerdaskan bangsa. Di tangan para pemuda dan pemudi ini, Bangsa Indonesia akan dibawa menuju Indonesia Emas yang bermartabat dengan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila".

Ke Depan Dunia Akan Tergantung pada Sawit

Deforestasi sulit dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan. Tentu hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainya.

Menurut Teguh Patriawan, Wakil Ketua Komisi Tetap Perkebunan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin), ke depan dunia akan tergantung pada kelapa sawit (sawit) sebab jika tergantung pada komoditas minyak nabati yang lain, maka lahan yang dibutuhkan 10 kali lipat lahan yang dibutuhkan kelapa sawit untuk memenuhi minyak nabati dunia.

"Jika memilih minyak kedelai atau yang lain, kebutuhan akan lahan sangat besar. Deforestasi akan menghabiskan hutan tropis di Amerika Selatan," kata Teguh di kantornya kawasan Kuningan Jakarta, baru baru ini.

Menurut Teguh, United Nations Development Programs (UNDP) memproyeksikan populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata komsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2050 dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton.

"Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya," kata dia.

Peningkatan produksi minyak kedelai khususnya melalui perluasan areal, memang masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Sealatan sebagaimana terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati, dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka akan dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar. Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.

"Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivias 5 ton minyak/hektar," jelas Teguh.

Ditambahkannya, pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).
Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia dari pada ekspansi kebun kedelai. "Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan," tegas Teguh.

Bahkan dia memperkirakan, tahun 2050 dunia akan balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak sawitnya. Hal ini karena sawit mampu memenui kebutuhan untuk pangan dan energi untuk dunia.

"Bisa jadi nanti dunia balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia," jelasnya.

Saat ini saja, share minyak sawit 38 % dari total kebutuhan minyak nabati dunia dan diperkirakan pada 2050 nanati share minyak sawit akan mencapai 55 %.

Teguh berharap, dunia sadar akan potensi besar sawit. Kalau ada yang salah dalam pengelolaannya tinggal diperbaiki, bukan sawitnya yang disalahkan sebagai penyebab deforestasi. Mestinya dunia sadar penyebab deforestasi terbesar di dunia adalah peternakan.

Untuk itu, pemerintah perlu memberi pengertian pada dunia, bahwa Indonesia sudah memiliki perencanaan yang matang untuk memanfaatkan lahan, baik hutan maupun non hutan yang dimilikinya. Negara lain tidak boleh mencampurinya, sebab mereka sudah melakukan terlebih dahulu.

"Kenapa mereka kok ribut. AS menebang ratusan juta hektar untuk peternakan dan kedelai dunia diam saja. Sementara untuk sawit yang hanya kurang dari 20 juta di seluruh dunia ribut, perlu RSPO dan sebagainya," kata dia.

Teguh berpendapat, mestinya dunia tak perlu meributkan pemanfaatan hutan di Indonesia. Semua negara di dunia membutuhkan lahannya untuk kemakmuran. Indonesia memiliki kedaulatan, AS, Eropa dan Australia sudah lebih dulu membuka hutannya, sementara Indonesia baru membuka hutan setelah kemerdekaannya.

Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang menambahkan, dunia mestinya bersyukur dengan adanya tanaman sawit. Karena sawit berkontribusi besar dalam pelestarian dan keseimbangan lingkungan. Betapa tidak, komoditas ini awalnya adalah tumbuhan hutan, perakarannya kokoh mampu menahan tanah dari erosi. Sementara dahan kanopinya mampu melindungi muka bumi dari panasnya sinar matahari, terpaan derasnya air hujan dan hempasan angin.

"Atas dasar itu, maka tidaklah heran jika Malaysia mengategorikan sebagai tanaman hutan. Hebatnya lagi kelapa sawit adalah sumber energi nabati paling efektif dan efisien serta lebih ramah lingkungan bila dibandingkan komoditas sumber energi lainnya,” jelas Bambang.

Untuk itu, Bambang berharap pada ilmuwan, pengusaha, masyarakat luas dan siapapun, untuk memberikan dukungan agar kelapa sawit Indonesia tetap nyiur melambai untuk kejayaan bangsa dan negara serta sumber energi masa depan bagi semua.

Hasil studi oleh Doug Boucher, anggota Union of Concerned Scientists (UCS) dan penasihat Climate and Energy, bahkan mengakui bahwa perkebunan kelapa sawit selama ini menjadi korban salah sasaran oleh masyarakat dunia, terutama Barat, yang dituding sebagai pemicu deforestasi.
“Faktanya, berdasarkan studi yang dilakukan Climate Focus 2016, pemicu terbesar deforestasi adalah industri pengolahan daging. Yang kedua adalah kedelai, sementara produk sawit dan kayu hanya sedikit berperan dalam kondisi hilangnya hutan, atau hanya sekitar sepersepuluh dari industri daging,” tambahnya. ***SH

2050, Mayoritas Kebutuhan Minyak Nabati Dunia Dipasok dari Sawit

United States Department of Agriculture (USDA) atau Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) memprediksi pada tahun 2050 dunia akan membutuhkan 670 juta ton. Dari jumlah itu, 55,9 % kebutuhan minyak nabati dunia akan dipenuhi oleh sawit. Sementara sisanya berasal dari tanaman minyak nabati lainnya, seperti kedelai, bunga matahari, rape seed dan yang lainnya.

Tingginya peran sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia dapat di mengerti, sebab rata-rata produktivitasnya sangat tinggi 4 ton per hektare per tahun, unggul jauh dibandingkan produktivitas kedelai 0,5 ton per hektar atau rape seed yang 0,9 ton per hektar per tahun.

Dengan produktivitasnya yang tinggi, sawit mampu menekan deforestasi di dunia.

Dengan produktifitas yang tinggi, USDA bahkan memprediksi sawit akan mampu memenuhi 55,9% kebutuhan minyak nabati dunia. Tentu ini peluang bagi Indonesia untuk terus mengembangkan sawit.

Menurut Wakil Ketua Komisi Tetap Perkebunan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin), Teguh Patriawan, peluang ini harus dimanfaatkan dengan meningkatkan produksi dan produktivitas sawit melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.

"Peluang ini harus dimanfaatkan oleh Indonesia, sebab sawit merupakan komoditas yang berkelanjutan, berbeda dengan hasil tambang dan kayu yang akan habis pada masanya," kata Teguh di Jakarta, baru-baru ini.

Apalagi, negara-negara konsumen minyak sawit terbesar seperti India, China, Pakistan, juga Uni Eropa, jelas tidak mungkin bisa menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya. “Maka dari itu dunia tidak mungkin hidup tanpa minyak sawit,” tegasnya.

Ditambahkan, Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit memiliki peluang yang lebih baik untuk mengambil porsi terbesar sebagai pemasok kebutuhan minyak nabati dunia ke depan.

“Produktivitas dan efisiensi, ciri khas utama sawit, menjadi syarat utama dalam rangka memperbesar kontribusi Indonesia di pasar sawit global,” ujarnya.

Namun, untuk merealisasikan sebagai pemasok utama sawit ke pasar dunia maka Indonesia perlu memperbaiki daya saing ekspor minyak sawit di pasar dunia. Daya saing sangatlah penting dalam rangka berkompetisi dengan negara produsen CPO lainnya. Di Indonesia, persoalan daya saing sangat dipengaruhi biaya logistik, infrastruktur, dan social security cost.

Apalagi, lanjut Teguh, belakangan ini sering terjadi tren penurunan daya saing industri sawit akibat naiknya biaya logistik, tenaga kerja, serta biaya sosial serta keamanan. Belum lagi, dengan ketidakpastian regulasi dari tingkat daerah sampai pusat yang kerapkali berubah. Kondisi ini mengakibatkan pengusaha bukannya memikirkan cara peningkatan produktivitas melainkan khawatir persoalan regulasi.

Jika hambatan daya saing tidak segera dipecahkan maka bisa mengancam keberlanjutan industri sawit di masa depan.

Teguh menjelaskan, Indonesia telah kehilangan sejumlah komoditas unggulan di masa lalu. "Jangan sampai sawit yang menjadi komoditas andalan yang akan hilang ditelan zaman, yang diakibatkan karena ketidak pedulian kita semua," jelasnya.

Apalagi, saat ini perolehan devisa Indonesia mengandalkan sawit untuk menjaga surplus neraca perdagangan. Jangan sampai neraca perdagangan menjadi minus sehingga berakibat kepada tekanan berat untuk rupiah dan posisi Indonesia di pasar global.

Presiden Jokowi selalu menekankan pentingnya pemangkasan aturan (deregulasi) dalam rangka peningkatan investasi dan inovasi. Tetapi arahan ini belum berjalan baik di level teknis kementerian dan pemerintahan daerah.

“Keinginan Presiden Jokowi belum dilaksanakan sebagain atau sepenuhnya di dalam konteks deregulasi,” ungkapnya.

Industri sawit belum merasakan dampak deregulasi bahkan yang terjadi regulasi terus bertambah. Deregulasi belum menyentuh aspek ketidakpastian hukum atau kepastian investasi sebagai contoh masalah tata ruang (RTRW) yang selalu berubah. Bahkan seringkali membuat cemas pengusaha yaitu, setelah puluhan tahun menjadi pemegang HGU pada kenyataannya kebun tumpang tindih dengan kawasan hutan atau tidak bisa direplanting bahkan tidak dapat diperpanjang karena masuk fungsi lindung.

“Industri sawit belum memperoleh dampak signifikan program deregulasi pemerintah,” tukasnya.

Menurut Teguh, kampanye deforestasi seringkali dijadikan senjata untuk memojokkan industri berbasis sumber daya alam seperti kelapa sawit. Padahal kenyataannya, studi Climate Focus yang berbasiskan data Europe Commision menunjukkan bahwa deforestasi dipicu kegiatan peternakan sapi dalam skala besar. Kemudian disusul tanaman kedelai dan gandum yang aktif membuka hutan untuk lahan pertanian.

Selain itu, lanjutnya, berdasarkan definisi hutan dengan konsep land cover change yang dianut banyak negara maupun definisi hutan yang dianut FAO, perkebunan termasuk perkebunan kelapa sawit dapat dikatagorikan sebagai hutan yang berfungsi ekologis hutan, meskipun secara adminitratif tidak berada dalam kawasan hutan.

Hal ini karena; perkebunan kelapa sawit merupakan penumbuhan land cover (afforestasi menurut konsep land cover change), memiliki canopy cover hampir/mendekati 100 persen pada umur dewasa (syarat FAO, lebih besar 10 persen), dan memiliki ketinggian pohon setelah dewasa lebih dari 5 meter dan luas hamparan diatas 0,5 hektar (FAO mensyaratkan tinggi pohon 5 meter dan hamparan 0,5 hektar). Dengan demikian memiliki kriteria minimal (threshold) bahkan di atas definisi FAO.

Berikutnya, perkebunan kelapa sawit merupakan permanen crop yang baru di-replanting setelah 25 tahun (timber plantation yang oleh FAO dikategorikan hutan, dipanen 7-10 tahun per siklus) yang berarti fungsi ekologis kelapa sawit lebih lama dari pada timber plantation.

Selain itu, perkebunan kelapa sawit juga memiliki perakaran yang massif/padat, berlapis serta permukaan tanah mengandung banyak bahan organik (pelapah daun, batang) yang berfungsi sebagai bagian dari konservasi tanah dan air seperti mengurangi aliran air permukaan (water run-off) sebagaimana salah satu fungsi hutan.

Selanjutnya, perkebunan sawit merupakan bagian dari pelestarian fungsi ekologis seperti pelestarian daur CO2 daur O2 dan daur air (H2O) melalui mekanisme fotosintesis dan respirasi tanaman kelapa sawit. Fungsi ini juga merupakan bagian hutan secara ekologis. ***SH

Sukses dengan Pilot Project Jagung Hibrida di Madura, CORTEVA dan PRISMA Perpanjang MoU

Karawang, Jawa Barat - Setelah sebelumnya sukses dengan pilot project jagung hibrida di Madura, Corteva Agriscience mengumumkan perpanjangan program kerjasama (MoU) budidaya jagung dengan Australia Indonesia Partnership (AIP) for Promoting Rural Incomes Trough Support for Markets in Agriculture (PRISMA) di Karawang, pada Senin (18/03/19). Program ini bertujuan untuk menyediakan akses kepada para petani Indonesia pada benih unggul dan solusi perlindungan tanaman yang berasal dari inventarisasi perusahaan.

Sejak tahun 2016, Corteva Agriscience dan PRISMA telah bekerjasama dengan sekitar 40.000 petani di Madura dan Jawa Timur untuk meningkatkan budidaya jagung melalui penerapan benih hibrida dan praktik pertanian yang lebih baik. Program ini mendorong produktifitas dan meningkatkan panen jagung di wilayah tersebut sebesar 50% yang kini telah berekspansi ke komunitas petani di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Farra Siregar, Managing Director, ASEAN Corteva Agrisciense berharap MoU tersebut dapat memacu perkembangan di sepanjang rantai pasokan serta membangun kosistensi pasar dan menyediakan solusi serta layanan paska-panen, seperti akses pasar, pembiayaan makro dan literasi keuangan, terutama bagi para petani jagung di Madura.

Melalui program tersebut, lebih dari 13.500 petani telah meningkatkan pendapatan rata-rata mereka sebesar 290%. Program ini pun telah memberikan 6000 petani jagung perempuan terhadap akses pendanaan, penambahan akses pasar untuk tanaman mereka dan kesempatan mengikuti pelatihan dalam pemanfaatan teknologi. Melalui perpanjangan program kerjasama ini, Corteva Agriscience menargetkan untuk mengembangkan lebih banyak petani perempuan.

"Corteva Agriscience sangat senang mengumumkan perpanjangan kerjasama kami guna mendukung perkembangan pertanian pedesaan di Indonesia. Dengan berkolaboriasi dengan PRISMA, kami bertujuan menawarkan akses kepada para petani Indonesia dengan rangkaian solusi perlindungan tanaman, serta akses terhdap benih unggul yang terbukti dapat mengoptimalkan hasil dan kualitas panen dan untuk berbagi pengetahuan terkait penerapan serta praktik agronomi yang terkini," kata Farra.

Suwandi Darmawan, Head of Portfolio PRISMA menyebutkan, dengan menjalin kerjasama dengan CORTEVA, ia berharap bisa mereplikasikan pilot project tersebut ke seluruh indonesia. Ke depan, PRISMA juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kerjasama dengan Pemerintah lokal agar akses petani pedesaan terhadap benih hibrida semakin terbuka.

Misalnya saat ini program Pemerintah terkait Jagung adalah subsidi benih hibrida, maka bisa berkerjasama dengan corteva dan PRISMA dalam memaping daerah mana saja yang belum pernah menggunakan bibit hidbrida. "Subsidi bisa diberikan sebagai perkenalan, ketika mereka sudah tahu bahwa ini menguntungkan mereka bisa membeli dan itu menjadi free market untuk benih," katanya.

Sedangkan untuk benih padi hibrida di Indonesia, lanjut Suwandi, penggunaannya masih minim sekali karena pemilihan lokasi yang susah. Jadi pada fase kedua ini, PRISMA bekerjasama dengan CORTEVA akan eksplor lebih jauh bagaimana meningkatkan potensi produktifitas padi dengan bibit hibrida.

Sementara menurut Benny Sugiharto, Head of Seed CORTEVA Agriscience, Indonesia masih punya peluang jika penggunaan benih hibrida ini didorong untuk pencapaian ketahanan pangan. Sebagaimana diketahui saat ini penggunaan padi hibidra di Indonesia baru 1 persen, sedangkan Menteri Pertanian menyebutkan bahwa luas lahan padi 14 juta ha.

Jika 10 persen telah hibridanisasi, lanjut Benny, hal itu bisa menambah panen sebanyak 1,4 juta ton. Sementara petani akan menghasilkan 1-2 ton lebih banyak. Sehingga petani akan mendapat income lebih bagus sekaligus mendukung negara untuk ketahanan pangan.

Sedang sebagai antisipasi cuaca yang ekstrim pihaknya telah mempunyai produk yang bisa membantu petani Indonesia untuk menjaga agar produktifitas tetap tinggi. "untuk benih yang cocok dengan lahan kering contohnya kasus tahun kemarin, kami ada benih jagung P27 yang cocok untuk musim kering. Lalu saat curah hujan sedang tinggi kita juga punya produk B36 dan untuk di pulau Jawa bibit ini cukup cocok dan hasilnya cukup bagus," kata Benny

Perpanjangan program kerjasama ini diharapkan dapat memberikan kesejahteraan lebih baik melalui produk-produk yang mampu meningkatkan produktifitas dan profitabilitas bagi petani-petani jagung dan beras khususnya di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Kementerian Pertanian Dorong Generasi Milenial Masuk Industri Pertanian 4.0

SENTUL, JAWA BARAT - Kementerian Pertanian (Kementan) RI siap memasuki revolusi industri 4.0 dalam rangka mendorong modernisasi pertanian dan generasi milenial di sektor pertanian. Berbagai kebijakan yang disiapkan dapat menunjang efisiensi dan produktivitas pertanian sehingga meningkatkan daya saing serta kesejahteraan petani.


"Sektor pertanian sudah memasuki industri 4.0 yang ditandai babak baru antara lain munculnya KATAM, SI MANTAP, Smart farming, smart green house, autonomous tractor, dan smart irrigation, " ujar Prof.Dr.Ir. Dedi Nursyamsi,M.Agr, Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian.

Hal ini diungkapkan dalam Bincang Asyik Pertanian kerjasama antara Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) dan Kementerian Pertanian RI bertemakan"Mendorong Modernisasi dan Regenerasi Pertanian di Era Revolusi Industri," di Sentul City, Jawa Barat, Senin (18 Maret 2019).

Hadir pula pembicara lainnya yaitu Dr. Farid Bahar (Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI) dan Dr.Riyanto (Ekonom Universitas Indonesia).

Dedi Nursyamsi menuturkan, perkembangan teknologi sangat luar biasa karena telah memasuki era teknologi 4.0 yang sangat luar biasa dampaknya terhadap produksi barang dan jasa. Apalagi penggunaan internet dan teknologi informasi telah menjadi bagian kehidupan manusia sehari-hari.

Oleh karena itu, Kementerian Pertanian sangat siap memasuki revolusi industri 4.0 melalui berbagai aplikasi serta kebijakan. Berbagai aplikasi teknologi kini telah diperkenalkan untuk membantu usaha tani terutama mempermudah petani.

Sebagai contoh, aplikasi Sipotandi yang menggunakan citra satelit beresolusi tinggi untuk bisa membaca standing crop tanaman padi.


Dedi mencontohkan luas lahan sawah di Jawa Barat lebih dari 1 juta ha. Dari areal itu terlihat luas lahan yang akan panen dan tersebar dimana saja. Begitu juga tanaman padi yang baru tanam atau lahan yang belum ditanami (bera).

Termasuk pula ada aplikasi KATAM (Kalender Tanam). Adanya aplikasi KATAM mudah diketahui waktu tanam, rekomendasi pupuk dan penggunaan varietas. "Rekomendasi bukan hanya tingkat kabupaten melainkan kecamatan sampai desa," ujar Dedi.

Aplikasi lain adalah aplikasi si Mantap yang dimanfaatkan PT Jasindo dalam rangka mem-backup asuransi pertanian. Dedi menjelaskan bahwa aplikasi ini membantu pihak asuransi supaya mendeteksi resiko kekeringan dan banjir, bahkan organisme pengganggu tumbuhan.

"Aplikasi yang disiapkan Kementan  juga memfasilitasi generasi muda supaya terjun ke dunia pertanian," ucap Dedi.

Dr. Farid Bahar menyebutkan kinerja Menteri Pertanian, Amran Sulaiman perlu diapresiasi yang selalu membuat kebijakan pro petani. Saat ada wacana impor, Menteri Amran kerap pasang badan supaya produk impor tidak masuk Indonesia.

"Kasihan petani saat panen, tiba-tiba impor masuk. Akibatnya, harga beli pertanian menjadi jatuh. Tapi yang terjadi, Kementerian Pertanian disalahkan, padahal Kementerian lain yang memutuskan impor," jelas Farid.

Untuk itu, Farid meminta peranan Kementerian Perekonomian lebih diperkuat untuk menghindari polemik seperti impor pangan. Dengan begitu, tidak terjadi tudingan dan ketidaksinkronan antar kementerian terkait.

Riyanto, Ekonom Universitas Indonesia, menuturkan implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian sangat bermanfaat bagi konsumen dan petani untuk mendekatkan distribusi.

"Dalam hal ini, Kementerian Pertanian perlu memfasilitasi industri 4.0 lewat regulasi dan aturan. Alhasil, ada payung hukum bagi pelaku usaha dan generasi milenial," ujar Riyanto.

Riyanto menambahkan apabila tidak masuk industri 4.0 akan terjadi kekurangan pangan untuk mendorong multiplier effect dari sektor hulu sampai hilir pertanian.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id