Menu
SAJIAN ISI

Produk Plastik Ramah Lingkungan dari Sawit

Produk Plastik Ramah Lingkungan dari Sawit

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan produk plastik ramah lingkungan yang terbuat dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Bioplastik dengan biobased ini pun diakui lebih cepat terdegradasi. Penggunaan teknologi kemasan plastik berkonsep biodegradable ini merupakan salah satu upaya untuk keluar dari permasalahan penggunaan kemasan plastik yang non degradable (plastik konvensional). Pangkal soalnya, cadangan minyak bumi semakin berkurang, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan serta risikonya terhadap kesehatan.

LIPI yang juga turut serta mendukung pemerintah dalam menciptakan produk yang ramah lingkungan akhirnya mengumumkan hasil temuan terbarunya berupa bioplastik dari limbah TKKS. "Bioplastik dengan biobased ini merupakan bioplastik murni yang 100 persen dibuat dari bagian tanaman atau biomassa. Yang kami kembangkan saat ini berasal dari tandan kosong kelapa sawit,” kata Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono, baru-baru ini, di Jakarta.

Penggunaan limbah TKKS ini tidak hanya bersifat ramah lingkungan tetapi juga dinilai renewable resoursces (bahan terbarukan). Jadi, dengan renewable resources maka pemanfaatan limbah dinilai akan lebih baik nilai konversinya dari segi energi maupun ekonomi.

Selama ini terdapat jenis bioplastik biobased dan additive based. Bioplastik dengan biobased merupakan jenis plastik dengan kandungan karbon yang terbuat dari bahan terbarukan seperti gula pati maupun minyak nabati. Sementara bioplastik additive based merupakan jenis plastik dengan kandungan karbon yang terbuat dari minyak bumi, tetapi mengandung bahan yang dapat memicu degradasi.

Penggunaan TKKS yang bersifat biobased ini akan menghasilkan poliasam laktat (PLA) yang merupakan sumber polimer untuk bioplastik. Dia menyebutkan bahwa pemanfaatan polimer yang diperoleh dari poliasam laktat (PLA) berasal dari tandan kosong kelapa sawit yang telah melewati proses fermentasi.

Limbah tanaman perkebunan kelapa sawit ini, biasanya digunakan untuk bahan boiler, kompos, maupun pengeras jalan di perkebunan. Berdasarkan riset sebelumnya, paling tidak TKKS mengandung 45 persen selulosa. Untuk itu, kerjasama dengan perguruan tinggi dari Jepang pun dilakukan untuk mengembangkan proyek riset ini.

Dijelaskan, TKKS tinggi selulosa dan hemiselulosa, sehingga berpotensi besar sebagai sumber glukosa yang kemudian dikonversikan menjadi asam laktat melalui proses fermentasi oleh bakteri. Kemudian asam laktat ini dipolimerisasi menjadi PLA. PLA merupakan polimer yang serbaguna, biodegradable, alifatik poliester yang berasal dari 100 persen sumber daya terbarukan.
“Salah satu senyawa kimia yang dapat dihasilkan dari selulosa TKKS adalah asam laktat. Asam laktat merupakan bahan baku utama dalam pembuatan polimer biodegradable berupa poliasam Laktat (PLA),” tegas Agus.

Selanjutnya mengenai proses pembuatannya, langkah awal yang dilakukan peneliti yaitu melakukan pengeringan TKKS dengan sinar matahari. TKKS yang sudah kering ini dicincang dalam ukuran yang sangat kecil dan kemudian dihancurkan. Lalu TKKS siap untuk difermentasi setelah melalui tahap hidrolisa. Fermentasi dilakukan dengan menjaga pH dalam tingkat tertentu, sebelum akhirnya dilakukan pemurnian asam laktat. "Hasilnya, poliester yang mudah terdegradasi secara biologis," ucapnya.

Penelitian ini masih proses. Bioplastik PLA masih kaku, tak lentur seperti plastik biasa. Kata Agus, masih bisa ditipiskan, bisa dikombinasikan dengan plasticizer alam agar lebih lembut.

LIPI masih akan terus melakukan pengembangan karena bioplastiknya saat ini berwarna cokelat tua. ”Kita lagi cari cara warna alami yang mampu menembus warna itu, meski sulit,” papar Agus.

Tak hanya kantong plastik, bahan dasar ini, dapat dibuat berbagai bentuk, seperti penggaris, bahan kursi dan alat keseharian. Semua tergantung komposisi, misal, tempat makan harus kualitas food grade.

Terkait bahan baku, ketersediaan limbah TKKS memang cukup melimpah. Meskipun begitu, hal yang menjadi kendala dalam pengembangan plastik berbasis PLA dari TKKS ini menyangkut alur proses yang harus dilakukan.

Hanya memang, jika dikembangkan dalam skala industri, produk bioplastik ini harganya akan jauh lebih mahal dibandingkan plastik konvensional. Akan tetapi, kualitas bioplastik ini tidak kalah dibandingkan plastik konvensional. Sebab, bioplastik ini memiliki kemampuan terdegradasi secara alami.

Menurut Agus, kendala terbesar dari bioplastik ini adalah harganya yang bisa mencapai delapan kali lipat dari harga plastik konvensional. Dari segi ekonomis, bioplastik jauh lebih mahal dari plastik konvensional. “Tapi sangat mungkin untuk dikembangkan,” ujarnya.

Dia meyakini bahwa permintaan bioplastik murni ini akan meningkat saat harga minyak bumi melonjak lagi. Untuk memenuhi permintaan plastik yang semakin tinggi itu, produksi bioplastik akan meningkat dan ini akan mendorong harga produk semakin murah.

Dia menyebutkan, pemanfaatan bioplastik biobased yang karbonnya terbuat dari bahan terbarukan seperti gula, pati atau minyak nabati ini, sudah banyak digunakan di Eropa terutama untuk keperluan media seperti tempat obat.

Plastik biodegradable saat ini berkembang sangat pesat. Berbagai riset telah dilakukan di negara maju (Jerman, Prancis, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Inggris dan Swiss) ditujukan untuk menggali berbagai potensi bahan baku biopolimer. Aktivitas penelitian lain yang dilakukan adalah bagaimana mendapatkan kemasan termoplastik degradable yang mempunyai masa pakai (lifetimes) yang relatif lebih lama dengan harga yang lebih murah.

Di Indonesia penelitian dan pengembangan teknologi kemasan plastik biodegradable masih sangat terbatas. Penyebabnya, selain kurangnya kemampuan sumber daya manusia dalam penguasaan ilmu dan teknologi bahan, juga dukungan dana penelitian yang terbatas. *** HB

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id