Menu
SAJIAN ISI

Produksi Rendah, Impor Kakao Melonjak

Produksi Rendah, Impor Kakao Melonjak

Produksi kakao nasional sepanjang tahun lalu menurun. Akibatnya impor biji kakao, khususnya yang diperuntukkan sebagai bahan baku industri naik signifikan. Pada 2017 Indonesia tercatat mengimpor sekitar 200 ribu ton biji kakao.

Ketua Dewan Kakao, Soetanto Abdullah pada mengungkapkan, sepanjang 2017 Indonesia tercatat mengimpor sekitar 200 ribu ton biji kakao. Selain meningkat signifikan, impor kakao pada 2017 juga telah melampaui angka impor terbesar yang pernah terjadi di 2015 sebesar 110 ribu ton. Sedangkan secara rata-rata impor kakao untuk bahan baku industri hanya sekitar 60 ribu ton per tahun.

“Kami harus meningkatkan produksi. Karena jika tidak nanti impor semakin banyak,” kata Soetanto, di Jakarta, baru-baru ini.

Soetanto menambahkan, penurunan produksi biji kakao dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain usia tanaman kakao yang pada umumnya telah berumur atau tua, serangan hama yang belum bisa diatasi secara tuntas, program gerakan nasional (Gernas) yang dinilai belum berdampak signifikan, serta peralihan fungsi lahan kakao menjadi perkebunan tanaman lain, juga fokus pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, yang menurutnya lebih tertuang pada tanaman padi, jagung, dan kedelai.

Menurutnya, peningkatan produktivitas menjadi penting seiring dengan tingkat kebutuhannya juga semakin tinggi. Ia menjelaskan, saat ini industri memerlukan sekitar 800 ribu ton kakao. Sedangkan kapasitas produksi kakao nasional hanya sekitar 400 ribu ton, menurut data Dewan Kakao atau sekitar 600 ribu ton menurut data Kementerian Pertanian. Berkaca pada kondisi tersebut maka tak heran jika volume impor biji kakao semakin banyak.

Tak hanya sampai di situ, tekanan juga kian berat karena harga jual yang semakin rendah seiring pasokan yang meningkat pesat seperti dari Pantai Gading misalnya sebagai salah satu produsen kakao dunia. Saat ini, harga kakao di pasar global tercatat stabil di kisaran US$ 1.900 hingga US$ 2.000 per ton.

Soetanto mengungkapkan, salah satu cara menggenjot produksi kakao adalah dengan melakukan peremajaan tanaman. Misalnya, dengan mengalokasikan minimal 5% dari luas lahan 1,2 juta hektar untuk mendapatkan program peremajaan setiap tahunnya.

Rencana peremajaan tanaman kakao sebenarnya sudah ditangkap oleh pemerintah lewat program Gerakan Nasional (Gernas), kendati implementasinya belum opimal. Dalam program itu, sekitar 70 ribu hektar lahan dilakukan peremajaan dalam jangka waktu 3 tahun.

Bahkan, Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) mencatat terjadinya lonjakan impor biji kakao hingga 271% pada tahun lalu sebagai akibat dari semakin melemahnya produksi biji kakao dalam negeri.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), Sindra Wijaya menyebutkan, impor biji kering kakao dari luar negeri pada 2017 mencapai 226.000 ton meningkat sekitar 165.000 ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Impor biji kakao tersebut berasal dari sejumlah negara seperti Pantai Gading, Ghana, Kamerun, Nigeria, dan Ekuador.

“Impor naik hampir 300% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tepatnya 271%,” kata Sindra menegaskan.

Peningkatan impor yang sangat drastis ini, kata Sindra, terpaksa dilakukan agar pabrik pengolahan biji kakao bisa terus berjalan di tengah semakin menurunnya produksi kakao dalam negeri. Adapun penurunan produksi ini, menurutnya, telah terjadi selama sedikitnya 10 tahun.
Bahkan, menilik data dari AIKI, dalam 10 tahun terakhir, persentasi peningkatan impor telah mencapai 653% - 1.030%.

“Dulu biji kakao dari Afrika kita impor cuma untuk blending karena karakternya yang beda itu. Dulu [sekitar 10 tahun lalu] itu dalam kisaran 20.000 -30.000 ton saja kita impor. Nah, tapi karena produksi kakao dalam negeri semakin turun, bukan lagi kami impor untuk pencampur tapi bahan utama untuk produksi. Makanya saat ini semakin banyak kita impor bahan baku,” paparnya.

Dia menambahkan  jika kondisi tidak berubah, kemungkinan besar tahun ini industri akan kembali mengimpor biji kakao kering dengan peningkatan volume berkisar 5-10% dibandingkan tahun lalu.

Produktivitas kakao nasional sepanjang tahun lalu menurun. Akibatnya impor biji kakao, khususnya yang diperuntukkan sebagai bahan baku industri menjadi naik signifikan hingga 233%.

Untuk itu, guna meningkatkan kemampuan usaha petani kakao, Kementerian Pertanian bersama dengan Cocoa Sustainability Partnership (CSP) melakukan inisiatif pembuatan Kurikulum Nasional dan Modul Pelatihan Budidaya Berkelanjutan dan Pascapanen Kakao. Tujuannya untuk menjadi pedoman pelatihan pengelolaan bagi petani kakao.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, Muzdalifah Machmud mengatakan, saat ini produksi kakao Indonesia hanya mencapai 400.000 ton. Padahal, 1,7 hektar lahan kakao yang ada di negeri ini seharusnya mampu menghasilkan 1,7 juta ton biji kakao.

"Dua permasalahan utama kita yakni pohon yang sudah tua dan pemeliharaan yang tidak intensif dari petani. Sehingga kami akan kembali mulai lakukan program edukasi pada petani di seluruh wilayah dengan kurikulum yang baru dirilis CSP [Cocoa Sustainability Partnership]," katanya.

Muzdalifah mengemukakan dalam kurikulum yang akan dibagikan secara merata ke seluruh petani kakao di Indonesia itu terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan hasil panen. Untuk itu, pemerintah mengharapkan produksi kakao bisa naik dua kali lipat dalam 5 -10 tahun mendatang.

Menurutnya, tahun lalu pemerintah juga telah mengupayakan gerakan nasional atau Gernas tanam ulang kakao. Sayangnya, program tersebut hanya menjangkau 26% dari keseluruhan tanaman kakao yang ada.
Pemerintah pun berharap tanaman yang tidak terjangkau dapat mengikuti langkah dalam Gernas yang sudah dicontohkan.

"Sayangnya masyarakat kita cenderung tipe humble yang menerima keadaan, sehingga menurunnya produksi kakao dijadikan persepsi sebagai sesuatu yang belum rezeki sehingga upaya perbaikan masih kurang," kata dia.

Sebelumnya, pelaku industri pengolahan kakao berharap pemerintah melalui Kementerian Pertanian meningkatkan perhatian terhadap perkebunan tanaman kakao.

Lebih jauh Muzdhalifah menjelaskan bahwa proses penyuluhan berdasarkan kurikulum bakal meningkatkan produktivitas kakao. “Harapan kami, perlahan bisa terlihat hasilnya,” kata dia menandaskan.

Saat ini, produktivitas per hektar kakao hanya mencapai 0,4 ton per hektar. Peningkatannya diharapkan mencapai 0,7 ton per hektar. Target akhirnya, 1 hektar lahan bisa mendapatkan 1 ton produksi.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, Widi Hardjono menambahkan, dengan diluncurkannya kurikulum ini, diharapkan petani bisa mempelajari cara budidaya kakao yang baik dan benar, sehingga kualitas produksi kakao dalam negeri bisa meningkat.

"Kalau petani mempunyai pengetahuan yang cukup, ya hasilnya lebih bagus dari pada, maaf ya, mereka yang tidak tahu sama sekali mengenai budidaya kakao yang baik," katanya.

Dengan perbaikan kualitas kakao dalam negeri, harga kakao diharapkan juga akan ikut terdongkrak naik. Harga yang baik dan permintaan pasar yang diestimasi masih akan bergeliat diyakini akan membuat petani lebih bergairah dalam budidaya kakao sehingga luas lahan dan produksi dalam negeri diharapkan juga bisa semakin tinggi.

Kendati demikian, diakui Widi, saat ini tenaga pelatih yang dibutuhkan oleh para petani untuk bisa membimbing mereka terkait cara pembudidayaan kakao yang baik masih sangat terbatas. Pasalnya, pemerintah masih fokus pada tiga komoditas pangan yakni padi, jagung dan kedelai (Pajale).

Untuk itulah, selain dilakukan peluncuran buku, pihaknya juga akan melakukan pelatihan-pelatihan, baik oleh pemerintah sendiri juga dengan menggandeng pihak swasta dan LSM.

"Sebetulnya untuk sekarang ini prioritas utama kan pajale. Sekarang sedang kita perbaiki dan kita melibatkan asosiasi termasuk LSM untuk melakukan pendampingan. Ya ini makanya kondisi penyuluh kita kan memang makin berkurang nih. Itu posisinya," tambahnya.

Adapun buku kurikulum yang disusun selama kurang lebih satu tahun ini bisa diunduh di situs CSP atau dengan mengirimkan surat permohonan ke pihak CSP untuk pengiriman buku.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, pada 2016 terdapat 1,659 juta hektar (ha) lahan perkebunan kakao milik rakyat dari total 1,701 juta ha. Sementara itu, pada 2017, jumlah lahan kakao milik rakyat diestimasi turun menjadi 1,649 juta ha dari luas total 1,691 juta ha.

Adapun produksi kakao dari perkebunan rakyat pada 2016, dari sumber data yang sama, mencapai 622.516 ton dari total produksi 656.817 ton . Sementara itu, di 2017 produksi kakao perkebunan rakyat naik menjadi 652.397 ton dari total produksi 688.345 ton.  *** SH, NM

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id