Menu
SAJIAN ISI

PT Kebun Tebu Mas: PG dengan Konsep Modern &Terintegrasi

hortus edisi september 2016Pabrik Gula (PG) yang dibangun PT Kebun Tebu Mas (KTM) di Lamongan, Jawa Timur ini menggunakan teknologi mesin yang modern dan terintegrasi. Tebu dari petani yang digiling di PG ini hari itu juga bisa diketahui rendemennya, serta dibeli putus oleh pihak pabrik sehingga petani tak perlu menanggung rugi akibat inefisiensi PG. Percobaan giling telah dilakukan Pabrik Gula (PG) milik PT Kebun Tebu Mas di Ngimbang Lamongan Jawa Timur dengan total giling 6.000-7.000 TCD (ton cane per day).  PG tersebut didirikan dengan konsep modern dan terintegrasi pertama di Indonesia, yang akan memproduksi 30% raw sugar, 40% gula kristal putih dan 30% gula kristal rafinasi untuk formula bayi dan farmasi.  

Direktur Operasional PT KTM, Agus Susanto mengatakan, sejatinya PG tersebut memiliki kapasitas 12.000 ton TCD. Namun diharapkan pada tahun depan, PG tersebut sudah bisa melakukan giling sesuai dengan kapasitas terpasang. Menurutnya, agar kapasitas terpasang bisa dipenuhi, pihaknya terus melakukan pengembangan area tebu di 4 kabupaten yakni Lamongan, Gresik, Bojonegoro dan Tuban.

Agus menambahkan, saat ini di empat kabupaten tersebut memang belum ada PG yang berdiri sehingga butuh pengembangan areal tanam tebu. Dengan asumsi giling 150-180 hari, setiap masa giling setidaknya diperlukan tebu sebanyak 1,8 juta-2,16 juta ton.

Adapun PG tersebut didirikan dengan konsep modern dan terintegrasi. PG tersebut dapat menghasilkan beragam jenis gula seperti gula kristal putih (untuk keperluan konsumsi langsung), gula industri (untuk bahan baku industri makanan/minuman), dan gula kristal mentah (untuk diolah lebih lanjut menjadi gula konsumsi dan gula industri).

PG tersebut juga didesain untuk bisa menghasilkan produk derivat melalui industri hilir, seperti listrik dari ampas, bio-ethanol dari tetes, dan bio-fertilizer dari limbah padat blotong. Investasi KTM juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja lokal mencapai 300-500 orang.

"Ini belum termasuk tenaga kerja kebun dan tebang-angkut dalam jumlah lebih banyak," jelas Agus.

Dia menambahkan, dalam hal kemitraan, Kebun Tebu Mas menjalin kerja sama dengan petani sekitar dengan menggunakan sistem pembelian tebu secara beli putus sehingga petani mendapatkan layanan dan uang hasil penjualan tebu secara cepat.

"Dengan begini risiko setelah tebu digiling menjadi tanggung jawab PG sepenuhnya. Konflik tentang perhitungan rendemen yang selama ini sering terjadi praktis dapat dieleminir," paparnya.

Dengan cara tersebut, katanya, petani langsung dapat memanfaatkan uang diperoleh untuk diinvestasikan kembali ke kebun tanpa harus menunggu penjualan gula dan terhindar dari dampak fluktuasi harga yang seringkali kurang menguntungkan.

Selain itu, tambah Agus, PT KTM juga berkomitmen dalam pembinaan kepada petani, di mana akan terus bertambah mengingat antusiasme petani yang ingin bekerja sama dengan PT KTM. "Tebu kami peroleh dari daerah Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Mojokerto dan Jombang. Kami juga memberikan pelatihan kepada para petani agar tebu yang dihasilkan kualitasnya bagus, sehingga bisa diproses di pabrik ini," kata Agus.

Komitmen pembinaan terhadap petani ini sesuai dengan amanat dari  pasal 13 dan pasal 22 Permentan No. 98/PERMENTAN/ OT.140/9/2013. Hingga saat ini, PT KTM telah menjalin kemitraan dengan petani tebu seluas 23.475,76 hektar yang terdiri dari  petani tebu sendiri seluas 56,34 hektar, tebu rakyat seluas 2.316,56 hektar dan tebu rakyat mandiri seluas 21.102,86 hektar.  

Petani tebu tersebut tersebar di wilayah Lamongan, Tuban, Bojonegoro dan Gresik baik secara individu maupun yang bernaung di bawah Kelompok/Koperasi Tebu, di antaranya Kelompok Tani Mitra Rosan 30, Kelompok Tani Mitra Rosan 40, Kelompok Tani Mitra Rosan 16 dan KPTR Lamong Jaya.  

"PG-PT KTM berperan aktif untuk meningkatkan kesejahteraan petani tebu melalui peningkatan produksi dan kualitas rendemen tebu  dengan memberikan penyuluhan dan pembinaan budidaya , dukungan dan penyediaan sarana produksi seperti  bibit ,pupuk, transportasi, obat-obatan dan PG-PT KTM juga menjadi penjamin/avalist atas pembiayaan beberapa petani tebu dari perbankan," papar Agus lagi.

Menurutnya, PG-PT KTM dalam melakukan kemitraan tersebut, telah mengembangkan pembelian dengan sistem jual beli putus sesuai dengan harga pasar pada waktu pembelian dengan memperhitungkan tingkat rendemen tebu yang diukur/ditetapkan secara transparan menggunakan peralatan dengan teknologi terkini, yaitu core-sampler.

Dan yang menarik dan ini belum pernah terjadi di PG-PG lain, pembayaran  tunai dalam waktu 3 hari setelah penimbangan dan disetor ke rekening petani secara individu.  "Sistem jual beli putus dan  pembayaran  tunai tersebut sangat disambut baik dan diapresiasi oleh petani tebu karena sangat menguntungkan," kata Agus.

Selanjutnya PG-PT KTM sejak tanggal  1 Juni 2016 telah melakukan giling tebu yang berasal dari kemitraan tersebut untuk  periode tahun giling 2016 sebanyak 232.241,72 ton yang berasal dari  petani tebu sendiri sebanyak 511,950 ton, tebu rakyat sebanyak 20.336,97 ton dan tebu rakyat mandiri sebanyak 211.392,80 ton dengan total produksi gula sebanyak 9.354,5 ton.  

"Dengan demikian dalam periode giling 53 hari, rata-rata jumlah tebu yang digiling PG -PT KTM adalah 4.382 TCD atau masih di bawah dari kapasitas pabrik  12.000 TCD," jelasnya.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago edisi September 2016. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat seluruh Indonesia.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id