Menu
SAJIAN ISI

Mandatori Biodiesel Menaikkan Harga CPO Dunia

HORTUS EDISI DESEMBER 16Para analis minyak nabati dunia memprediksikan harga minyak sawit mentah (CPO) akan naik pada semester I tahun 2017. Memasuki semester II, harga CPO diperkirakan akan turun, namun program mandatori biodiesel yang dilakukan Indonesia dan Malaysia diyakini akan mencegah penurunan harga komoditas perkebunan ini.

Sebuah hajatan besar bagi pelaku indutri kelapa sawit baru-baru ini berlangsung di Hotel Westin, Nusa Dua Bali, bertajuk The 12th Indonesian Palm Oil Conference and 2017 Price Outlook. Acara yang digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) ini dihadiri hampir 2.000 pelaku bisnis dari 26 negara. Salah satu yang menjadi daya tarik acara ini adalah tentang proyeksi harga CPO yang merujuk pada tren harga komoditas lainnya.  

Beberapa pakar komoditas yang akan menyampaikan analisis mengenai harga adalah Dorab Mistry (Godrej International Ltd),  James Fry (LMC International), Siegfried Falk (Oil World), Wang Liaowei (National Grain & Oils Information Centre), dan Fadhil Hasan (Gapki/Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia).

Menurut mereka, tren harga CPO tahun depan bergerak di kisaran RM 2.600-RM 3.000 per ton. Membaiknya produksi sawit dapat menciptakan sentimen positif pelaku pasar. Memang, faktor penentu harga minyak sawit semakin kompleks. Tidak lagi berpatokan kepada teori ekonomi sederhana seperti suplai dan permintaan.

Ataupun bergantung kepada harga minyak bumi. Tengok saja di kuartal pertama tahun ini, pergerakan harga sawit menunjukkan anomali ketika pasokan turun malahan yang terjadi harga CPO ikut tertekan.

Bahkan, beberapa pengamat mengambil posisi aman dalam memproyeksikan harga pada 2017. Tidak ada satu pun analis berani memprediksi harga CPO tembus di atas RM 3.000 per ton. Hal ini wajar, mengingat perekonomian global masih lesu. Negara konsumen CPO seperti India dan Tiongkok tetap menjadi faktor penentu pergerakan harga. Pasokan dan permintaan minyak nabati kedua negara tadi sangat berpengaruh kepada impor minyak sawit.

Direktur Eksekutif Gapki, Fadhil Hasan mengatakan bahwa banyak faktor yang akan berpengaruh terhadap kenaikan harga CPO tersebut terutama pada awal tahun 2017. Fadhil mengakui, harga CPO tahun ini sebenarnya relatif stabil, setelah pada 2015 lalu harga CPO pernah mengalami masa suram. Menurut Fadhil, tahun depan diperkirakan harga CPO akan sedikit perkasa.

"Harga akan relatif stabil pada akhir tahun 2016, dan akan meningkat pada semester pertama 2017," kata dia.

Fadhil menjelaskan, pada 2015 harga CPO menyentuh angka terendah dari sebelumnya US$831 per metrik ton menjadi US$629 per ton. Pada 2016, akibat berkurangnya pasokan CPO karena El Nino diperkirakan harga rata-rata berkisar US$670 per ton.

Meskipun harga CPO diproyeksikan mengalami kenaikan pada semester I-2017, namun, akan ada tekanan terhadap harga pada semester II. Tekanan tersebut disebabkan adanya kenaikan jumlah produksi CPO yang diperkirakan mencapai 33-35 juta ton sepanjang tahun tersebut.

Tekanan terhadap harga CPO pada semester II 2017 tersebut, masih akan ditopang adanya program mandatori biodiesel B20. Pada 2016 ditargetkan penyerapan biodiesel sebesar 3 juta kiloliter, sementara tercatat hingga Oktober, serapan mencapai 2,14 juta kiloliter.

 “Pemerintah Indonesia akan mengenakan program B20 untuk non-PSO, jadi konsumsi dalam negeri akan meningkat. Sementara itu, Malaysia akan menerapkan B10,” katanya lagi.

Menurut Fadhil, harga minyak mentah pada 2017 juga akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun ini. Meskipun tren harga minyak mentah dan CPO tidak selalu pararel, kenaikan harga minyak ini bisa mengerek harga CPO lebih tinggi.

“Faktor lain yang akan mempengaruhi harga CPO tahun depan adalah produksi yang kembali normal meskipun dampak El Nino tahun lalu masih akan sedikit terasa di beberapa wilayah. Sedangkan dari sisi global demand, masih belum membaik karena pertumbuhan ekonomi China yang masih stagnan dan kondisi ekonomi dunia yang masih rentan,” paparnya.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menambahkan, kenaikan produksi CPO 2017 juga akan dipengaruhi kondisi cuaca akibat La Nina pada 2016. Namun, ia masih belum bisa memproyeksikan berapa besar kenaikan jumlah produksi tersebut.

"Tahun 2017 tidak ada yang tahu persis berapa produksi. Tapi faktor La Nina tahun ini akan berdampak positif pada produksi tahun depan. Diharapkan akan naik produksinya, naik akan bagus," kata Joko.
 
Meski demikian, dengan proyeksi jumlah produksi CPO dalam negeri meningkat, maka akan ada permasalahan lain yang harus dihadapi. Peningkatan tersebut akan mengakibatkan kelebihan pasokan terhadap permintaan dunia yang akan berdampak pada harga komoditas unggulan Indonesia itu.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago Edisi Desember 2015. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung Terdekat

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id