Menu
SAJIAN ISI

Ramai-ramai Menolak Resolusi Sawit Eropa

Ramai-ramai Menolak Resolusi Sawit Eropa

Resolusi Sawit yang dicetuskan Parlemen Eropa pada 4 April 2017 lalu di Strasbourg, Perancis telah menyudutkan kepentingan dan kedaulatan Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia. Tak pelak, resolusi itu telah menuai penolakan dari para pemangku kepentingan sawit di negeri ini.   

Produk sawit Indonesia kembali dipojokkan oleh Eropa. Kali ini giliran Parlemen Uni Eropa yang mengaitkan perkebunan sawit dengan isu pelanggaran pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), korupsi, pekerja anak, dan penghilangan hak masyarakat adat.

Tudingan tidak mendasar yang dikemas melalui pengesahan “Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests” oleh Parlemen Eropa di Starssbourg, Perancis, pada tanggal 4 April 2017 tersebut, kontan membuat para pemangku kepentingan industri sawit di negara ini meradang.

Memang, isu tersebut saat ini tidak berpengaruh terhadap ekspor, namun hal ini bisa mengundang negara-negara lain untuk melakukan hal serupa akibat berkembangnya stigma negatif dari pemberitaan isu resolusi ini terutama di negara Eropa dan Amerika.

Bahkan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya pun sampai menyatakan kekecewaannya ketika memperoleh informasi tentang resolusi sawit yang dicetuskan Parlemen Eropa tersebut.

Menurut Siti, catatan-catatan negatif dalam mosi tersebut merupakan penghinaan kepada Indonesia dan tidak dapat diterima. "Tuduhan bahwa sawit adalah korupsi, sawit adalah eksploitasi pekerja anak, sawit adalah pelanggaran hak azasi manusia dan sawit menghilangkan hak masyarakat adat, semua itu tuduhan yang keji dan tidak relevan sekarang," tukasnya.

Didampingi Duta Besar RI untuk Finlandia, Wiwiek Setyawati Firman, saat memberikan klarifikasi kepada pers, di sela penandatanganan MoU antara Menteri LHK RI dengan Menteri Pertanian dan Lingkungan Hidup Finlandia, Kimmo Tiilikainen, pekan pertama April 2017 lalu, di Helsinki, Siti menyampaikan pandangannya tersebut.

Dalam keterangan persnya, Siti juga menegaskan, studi sawit Parlemen Eropa tersebut tidak lengkap dan tidak tepat dengan potret yang ada untuk Indonesia. Mosi Parlemen Eropa dinilai Siti telah menyinggung kedaulatan Indonesia, karena menuduh dan mengajak segenap pihak untuk “boikot” investasi sawit dan beralih ke komoditas sunflower dan rapeseed.

“Saya kira ini langkah yang tidak pas. Apabila dunia berharap Indonesia sebagai bagian penting dalam lingkungan global dan sebagai paru-paru dunia, dunia harus percaya bahwa Indonesia dapat menyelesaikan persoalan dalam negerinya,” begitulah ia menandaskan.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago Edisi Mei 2017, dapat diperoleh ditoko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id