Menu
SAJIAN ISI

Pasar Ekspor Biodiesel ke China Amat Menjanjikan

hortus edisi juli 2017Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) tengah membidik ekspor biodiesel ke China.  Pasalnya, potensi ekspor biodiesel ke negeri Tirai Bambu itu sangat besar, yakni mencapai 9 juta ton per tahun. A blessing in disguise. Di tengah kian sulitnya ekspor biodiesel Indonesia ke  pasar Eropa dan belakangan juga Amerika Serikat karena tudingan anti dumping, China dikabarkan bakal menerapkan program B5 (menggunakan 5% biodiesel dalam campuran solar) di negaranya.   

Setiap tahun, China membutuhkan tidak kurang dari 180 juta kilo liter (KL) solar. Bila solar tersebut dicampur 5% biodiesel, maka ada kebutuhan 9 juta ton biodiesel per tahun yang harus dipenuhi.

Kabar bahwa pemerintah China akan menerapkan program B5 di negaranya, terungkap dalam pertemuan Belt and Road Forum for International Cooperation di Beijing, Tiongkok pada medio  Mei 2017. Dalam pertemuan antar sejumlah kepala negara itu, Presiden Jokowi menyatakan bahwa pemerintah Indonesia menyambut baik program mandatori biodiesel 5% yang dikembangkan Tiongkok.

Untuk itu, program ini akan membutuhkan pasokan minyak kelapa sawit yang akan meningkat sepanjang tahun. "Indonesia siap memasok kebutuhan CPO ke China lebih banyak," kata Jokowi saat itu.

Bahkan, terkait pemenuhan kebutuhan biodiesel tersebut, Presiden China Xi Jinping telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Joko Widodo untuk mengekspor bahan bakar nabati (BBN) biodiesel 5%.

Tak urung, kalangan pelaku industri biodiesel mengapresiasi kebijakan pemerintah China yang menerapkan program biodiesel campuran 5% dengan solar atau B5. Ketua Umum Aprobi, MP Tumanggor mengatakan, penggunaan biodiesel di negara tersebut menjadi pasar potensial untuk meningkatkan ekspor produk sawit Indonesia terutama biodiesel.

"Pemakaian B5 di China akan menciptakan kebutuhan minyak sawit (CPO) sebesar 9 juta ton. Kalau China sudah terapkan B5, nggak peduli lagi kita ekspor dengan Eropa dan Amerika Serikat," kata Tumanggor, sepekan sebelum keberangkatan Delegasi Pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Menko Maritim Luhut Panjaitan ke Tiongkok, pada pertengahan Juni 2017 untuk menindaklanjuti pembicaraan Presiden Jokowi dan Presiden Xi Jinping tersebut.

Saat ini total kapasitas terpasang industri biodiesel di Indonesia disebutkan mencapai 11 juta ton. Sementara kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 4 juta ton. Sehingga masih ada sisa 7 juta ton yang bisa diekspor ke China.
Menurut Tumanggor, China membutuhkan 180 juta kilo liter (KL) solar per tahun. Jadi, jika solar tersebut dicampur 5% biodiesel, maka ada kebutuhan 9 juta ton biodiesel per tahun yang harus dipenuhi.

Permintaan 9 juta ton ini berasal dari perhitungan kebutuhan bahan bakar solar China sebesar 180 juta KL, yakni apabila dikalikan 5% sama dengan 9 juta KL atau setara 9 juta ton. Tahun lalu, ekspor produk sawit Indonesia ke China mencapai 3,8 juta ton.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menambahkan, selain China, Indonesia juga bisa meningkatkan ekspor biodiesel ke Rusia dan Pakistan. Kedua negara itu berpotensi besar bagi Indonesia, apalagi bila Jalur Sutra dari China ke Eropa terealisasi.

Untuk itu, ia mendesak pemerintah terlibat aktif mendorong peningkatan produksi minyak sawit dalam negeri. Saat ini produksi minyak sawit Indonesia diprediksi sekitar 34,5 juta ton, dimana 26 juta ton di antaranya diekspor.

"Kalau produksi minyak sawit ditambah 20% saja dari saat ini, maka kita sudah mampu bisa memenuhi kebutuhan biodiesel di pasar-pasar global," ungkap Sahat.

Sahat juga menyatakan, tingginya permintaan CPO maupun biodiesel dari China diharapkan dapat menutupi lesunya penjualan biodiesel ke Amerika Serikat dan Uni Eropa. Apalagi, semenjak tahun 2016 ekspor biodiesel ke Amerika Serikat tidak lagi kompetitif karena pemberlakukan tarif bea masuk.

China Merespon Indonesia
Pemerintah Cina memberi respon yang baik pada beberapa proyek dan paket yang ditawarkan Indonesia dalam Forum Prakarsa Sabuk dan Jalansutra atau Belt and Road Initiative (BRI). Hal tersebut disampaikan oleh Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut menjelaskan beberapa proyek dan paket yang ditawarkan seperti proyek pelabuhan terintegrasi di Bitung, Sulawesi Utara dan Kuala Tanjung di Sumatera Utara. Selain itu juga ada proyek listrik dan pembangunan kawasan industri di Kalimantan Utara.

Presiden Jokowi, lanjut Luhut, juga sudah memerintahkan (para menteri) untuk mempersiapkan proyek-proyek tersebut. "Waktu pamit kepada Presiden Xi Jinping kemarin, Presiden Joko Widodo mengatakan mungkin bulan depan akan mengirim tim dari Indonesia untuk menindaklanjutinya," ungkap Luhut usai mendampingi Jokowi dalam forum pertemuan yang digelar pertengahan Mei 2017 tersebut.

Mantan Menko Polhukam itu menjelaskan, kerja sama yang dihasilkan di antaranya membuat produk baru sehingga diharapkan akan memberi keuntungkan bagi Indonesia, seperti meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di antara kerjasama tersebut, menurut Luhut, pemerintah China setuju dengan program produksi bahan bakar biodiesel B5, kelapa sawit. "Sehingga kita harapkan nanti harga kelapa sawit bisa lebih baik, yang nantinya akan menguntungkan petani-petani kelapa sawit kita," kata Luhut.

Sebanyak 29 kepala negara/pemerintahan dan pimpinan organisasi internasional berkumpul membahas sinergi kebijakan, hubungan antarmasyarakat dan infrastruktur pada Forum BRI yang berlangsung di Beijing, 14-15 Mei 2017.

Meski tidak mengungkap nilai kesepakatan yang diraih Indonesia, Luhut menyebut sejumlah negara mendapatkan dana investasi yang bervariasi. "Banyak negara lain yang sudah mendapatkan dana investasi ini, mungkin masih banyak negara yang ingin mendapatkannya juga," ucapnya.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago edisi Juli 2017. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id