Menu
SAJIAN ISI

ISPO, Bukti Sawit Ramah Lingkungan

hortus edisi september 2017Meski belum semua kebun sawit di Indonesia memenuhi standar sertifikasi kelapa sawit berkelajutan (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO), namun tak mengurangi tekad Indonesia untuk terus mengelolanya dengan prinsip lestari dan berkelanjutan. ISPO merupakan bukti untuk meyakinkan upaya tersebut.

Sebagai eksportir terbesar minyak kelapa sawit (CPO),  Indonesia terus mengupayakan agar semua perusahaan perkebunan kelapa sawit memperoleh sertifikat ISPO. Sebab, sertifikat ISPO ke depan diharapkan dapat meyakinkan pasar internasional bahwa kelapa sawit Indonesia dikelola dengan kaidah yang baik sehingga bisa mengurangi kampanye hitam di negara lain.

Saat ini baru 14% dari total area perkebunan kelapa sawit Indonesia, yang telah tersertifikai ISPO. Rendahnya realisasi ISPO tersebut, ungkap Dirjen Perkebunan Bambang, antara lain ketatnya proses verifikasi terhadap persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi pemohonnya untuk mendapatkan ISPO.   

“Target kita secepatnya harus ISPO semua. Supaya pasar luar negeri menghargai produk kita. Pada saatnya kelak ketika kelapa sawit Indonesia ter-ISPO-kan semua maka saya kira tidak ada orang yang mengatakan bahwa kelapa sawit Indonesia tidak ramah lingkungan,” kata Bambang saat menyerahkan sertifikat ISPO sekaligus membuka workshop penguatan ISPO, di Kementerian Pertanian, Jakarta, belum lama ini.

Menurut Bambang, sistem sertifikasi ISPO telah diatur melalu Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor: 11 Tahun 2015. Sertikasi ISPO memiliki 7 kriteria, di antaranya adalah legalitas usaha perkebunan; manajemen perkebunan; perlindungan terhadap pemanfaatan hutan alam primer dan lahan gambut; pengelolaan dan pemantauan lingkungan; tanggung jawab terhadap pekerja; tanggung jawab sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat; serta peningkatan usaha secara berkelanjutan.

ISPO diharapkan menjadi suatu pengakuan pasar atas pengelolaan perkebunan kelapa sawit dengan baik dan diakui pasar Internasional. “Bung karno menyatakan, siapa yang menguasai pangan dan energi maka merekalah yang menguasai dunia, dan siapapun yang menguasai dunia bakal menjadi lawan bagi orang yang tidak mau bersaing,” tegas Dirjen Perkebunan  mengutip pernyataan Bung Karno, menanggapi maraknya berita yang menyudutkan terhadap  industri kelapa sawit di pasar global.

Dia juga menekankan bahwa sawit merupakan kekuatan Indonesia dan dapat menciptakan keseimbangan lingkungan. "Maka kita harus bangga dengan ISPO dan menghargai sertifikasi ini, karena kalau masih ada di antara kita ragu dan tidak yakin dengan ISPO maka jangan harapkan orang lain akan bangga dengan ISPO. Ke depan kita juga harus upayakan agar dunia internasional juga menghargai ISPO," katanya.

Bambang menambahkan, Komisi ISPO terus menjalankan sosialiasi agar target sertifikasi ISPO bisa tercapai sesegera mungkin. Selama dua tahun ini sudah ada 306 sertifikat ISPO yang diterbitkan.

Selain untuk pembuktian, sertifikat ISPO bisa menjadi solusi penyelesaian masalah terkait penyalahgunaan lahan. Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ada 2,5 juta hektar lahan belum memiliki Hak Guna Usaha (HGU) dan 2,5 juta hektar lagi menanam di kawasan hutan produktif.

Hingga saat ini luas keseluruhan area sawit di Indonesia mencapai 11,9 juta hektar. Dari perkebunan sawit seluas itu, kata Bambang, sekitar 4,7 juta hektar merupakan kebun sawit milik rakyat atau petani. Sementara, seluas 1,7 juta hektar di antaranya terindikasi masuk kawasan hutan.        

“Para pemangku kepentingan di industri kelapa sawit mari gotong royong menyelesaikan persoalan ini. Kalau seandainya harus dijadikan kawasan, kita jadikan kawasan. Tapi sekiranya memungkinkan untuk kita lanjutkan yang kenyataannya sudah menjadi kebun kelapa sawit, kita pertahankan menjadi kebun kelapa sawit.

Kita coba usulkan dibebaskan, dilepaskan, disertifikasi. Sehingga ke depan tidak ada sehektar pun kelapa sawit Indonesia yang bersinggungan dengan kawasan,” kata mantan Kepala Dinas Perkebunan dan Holtikultura Provinsi Sulawesi Tenggara ini.  

Dijelaskannya, luas kebun sawit yang sudah bersertifikat mencapai 1,82 juta hektar atau 16,7% dari total 11,9 juta hektar lahan kelapa sawit. Selain itu, masih ada 11 perusahaan yang sertifikasinya ditunda dan 70 perusahaan masih dalam proses verifikasi. Menurut dia, pemerintah telah memberikan kewenangan kepada 12 lembaga sertifikasi yang tergabung dalam Komisi ISPO.
 
Hingga saat ini sebanyak 551 pelaku usaha perkebunan telah mengikuti sosialisasi dan telah diterbitkan pengakuan sertifikat ISPO kepada 306 pelaku usaha atau 81,04%, LHA yang diterima sekretariat Komisi ISPO sebanyak 376 laporan.

Dalam proses verifikasi/SKPD dan ditunda sebanyak 70 laporan dan ada pula yang ditunda pengakuannya karena belum adanya kejelasan sebanyak 11 perusahaan.

Hingga Agustus 2017, Komisi ISPO telah menyetujui 40 sertifikasi bagi perusahaan perkebunan dengan luas areal sebesar 202.427,17 hektar dan produksi CPO sebesar 539.265,88 ton.
 
Sedangkan pada April 2017 lalu, tim sertifikasi telah menyetujui 40 sertifikasi bagi 38 perusahaan perkebunan, 1 Koperasi Unit Desa (KUD) Plasma dan asosiasi kebun swadaya dengan luas areal sebanyak 249.543,37 hektar dan produksi CPO sebesar 861.425,82 Ton.

Dengan demikian, jumlah sertifikasi ISPO yang diterbitkan dari tahun 2011 sampai 2017 mencapai 306 sertifikat dengan luas total 1.882.075 hektar dan total produksi CPO 8.147.013,63 ton.
 
Statistik Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat, ada 11,9 juta hektar yang digunakan untuk kelapa sawit. Dengan produktivitas 3,7 ton per hektar, Indonesia mampu memproduksi 33,2 juta ton CPO tahun lalu.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago edisi September 2017. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id