Menu
SAJIAN ISI

Pembangunan Puslit Kakao di Pangkep: Produktivitas Kakao Petani Diharapkan Bisa Dilipatkan

hortus edisi desember 2017Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengharapkan pembangunan Pusat Penelitian (Puslit) Kakao di Pangkep, Sulawesi Selatan dapat mendorong peningkatan produktivitas kakao nasional yang masih rendah. Dengan dibangunnya pusat penelitian dan pengembangan tersebut Wapres berharap akan dapat meningkatkan jumlah produktivitas kakao di Sulawesi Selatan sebesar 1,5 kali lipat dari posisinya saat ini.

Apalagi negara lain angka produktivitasnya sudah bisa mencapai 2 ton/ hektar/ tahun, sementara Indonesia baru bisa mencapai 700 kg/hektar/tahun. Dengan produktivitas yang meningkat diharapkan pendapatan masyarakat akan meningkat sehingga akan menyejahterakan masyarakat yang selama ini membudidayakan kakao.

"Jika sekarang 700 kg/ha, padahal di negara lain sudah 2 ton/ha. Sangat mungkin, dengan hasil penelitian meningkat menjadi 1, 5 kali. sehingga pendapatan akan meningkat sampai Rp 9 triliun per tahun, " ujar JK pada acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kakao PT Mars Symbioscience Indonesia, di Pangkep, Sulawesi Selatan, baru-baru ini.

JK memyambut baik keberadaan pusat penelitian yang akan dibangun di lahan seluas 95,2 hektar. Menurutnya, aktivitas pengembangan kakao selain upaya dari pihak swasta, tetap ada program pemerintah di bidang pertanian.

"Kita tetap lanjutkan program gerakan nasional (Gernas) kakao itu, dengan memberikan bibit kepada masyarakat, memperbaiki sistemnya. Nah untuk di PT Mars ini, jika risetnya berhasil, maka itu yang akan disebarkan secara bersama. Karena ini kan tujuannya meningkatkan mutu dan kualitas produk. Dimulai dari bibit, pupuk kemudian cara budidayanya yang meningkatkan produktivitas," urai Kalla.

Menurut Kalla, Gernas kakao tetap berlangsung. Meski ia mengakui terjadi penurunan produksi kakao, tapi tetap ekspor. "Ada juga pabrik untuk mengimpor. Yang jelas setelah kebijakan memajaki ekspor biji kakao keluar, pabrik pengolaannya tumbuh."

Bahkan Kalla optimis, jika produksi kembali pada angka 900 ribu ton per tahun, meski saat ini menurun pada angka 700 ribu ton."Memang butuh waktu untuk meningkatkan kembali. Tapi jika hilirisasi kan sebenarnya sudah cukup. Di Sulawesi ada dua pabrik, di sini dan di Kendari, Sulawesi Tenggara, yang malah kekurangan bahan," katanya.

JK menambahkan, saat ini sekitar 60 sampai  70 persen produksi kakao di Indonesia dihasilkan oleh 4 provinsi yang ada di Pulau Sulawesi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Selawesi Utara dan Sulawesi Barat, selebihnya ada di Jawa dan Sumatera.

Bukan hanya kakao, lanjut JK, Sulawesi juga memproduksi kopi, udang dan rumput laut, semuanya dilakukan oleh rakyat sendiri. " Ini memberikan pemerataan dan kemakmuran yang baik buat rakyat, karena lahan-lahannya milik mereka sendiri. Daerah baru tumbuh apabila ada nilai tambah dari masyarakat. Berbeda dengan perkebunan di Sumatera yang dikuasai oleh industri-industri besar," tegas JK.

Wapres menyatakan saat ini produksi kakao Indonesia masih terbesar ketiga di bawah Pantai Gading dan Ghana, maka diharapkan dengan penelitian ini, produksi akan bertambah. " Kita masih punya kesempatan yang baik, karena kita masih di bawah," ujarnya.

Selain itu dalam kesempatan tersebut, JK mengapresiasi pembangunan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kakao yang didirikan oleh PT Mars Symbioscience tersebut.
"Ekonomi bisa berjalan dengan baik jika ada nilai tambah dan produksi. Salah satu nilai tambah itu adalah penelitian dan hasil dari penelitian tersebut," ujar JK.

JK yang didampingi Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman juga menyaksikan tiga penandatanganan nota kerja sama. Pertama, PT Mars Symbioscience Indonesia dengan Universitas Hasanuddin (Unhas). Kedua, PT Mars Symbioscience Indonesia dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Ketiga, PT Mars Symbioscience Indonesia dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan).

Menurutnya, keberadaan pusat penelitian kakao di Pangkep diharapkan mampu menjadi solusi guna meningkatkan produktivitas kakao di Tanah Air, sehingga cita-cita menyaingi Ghana, Pantai Gading dalam jumlah produksi dan kualitas dapat tercapai.

"Modal lahan tersedia, iklim yang ada, petani yang sudah mempunyai kemauan yang keras maka upaya satu-satunya adalah bagaimana meningkatkan teknologinya lewat penelitian, percobaan, dorongan, penyuluhan, lewat bibit yang baik, pupuk yang baik. Barulah kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan untuk naik peringkat dari tiga ke nomor dua, ke nomor satu dari produktivitas kakao dunia ini," kata JK.

Namun, dalam pandangannya, pembangunan pusat penelitian kakao tak hanya berbicara mengenai peningkatkan produksi tetapi juga kesejahteraan masyarakat. Terutama, bagi masyarakat Sulawesi karena mayoritas perkebunan kakao yang ada di empat wilayah ini adalah perkebunan rakyat.

Ia mengandaikan produktivitas kakao meningkat sebanyak 1,5 juta ton maka pendapatan yang dihasilkan bisa mencapai Rp 9 triliun per tahun. Kemudian, itu dibagikan kepada masyarakat, mengingat mayoritas perkebunan merupakan plasma atau milik rakyat.

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa dari delapan kabupaten yang menjadi pusat perkebunan kakao mampu menghasilkan lebih dari Rp 10 triliun per tahun.
"Kakao di atas Rp 10 triliun penghasilannya. Ditambah ini pembangunan pusat penelitian bisa mencapai 3 kali lipat," ujarnya.

Tetapi, selain meningkatkan produksi kakao, Syahrul juga mengatakan bahwa pemerintah provinsi sedang berupaya meningkatkan produksi rumput laut. "Kami mau menjadi penghasil rumput laut terbesar di dunia. Sebesar Rp 4 triliun lebih sudah menghasilkan," ungkapnya.

Investasi 4 Juta Dolar AS
Pusat Penelitian Kakao Pangkep melengkapi fasilitas serupa yang sudah ada sebelumnya di Tarengge, Sulawesi Selatan yang telah dibangun sejak tahun 2010. Dan ini akan memperluas jaringan komoditas kakao Mars ke lima lokasi secara global selain Brasil, Ekuador dan Amerika Serikat.

Dengan investasi Mars sebesar 4 juta dolar AS atau setara Rp 50 millar, Pusat Penelitian Kakao di Pangkep akan menempati area seluas 95,2 hektar.

Di fasilitas ini, Mars berharap dapat lebih jauh mengembangkan genetika kakao yang unggul dan tahan hama, dimana penelitian pertama telah dilakukan di Tarengge tahun 2010.

Selama 10 tahun ke depan, Mars ingin memajukan petani dengan memperbaiki produksi dan cara mengelola kebun sehingga dapat meningkatkan produktivitas kakao yang saat ini menghasilkan kurang dari 1 ton/ha secara global menjadi lebih dari 3 ton/ha.

Direktur Mars, Frank Mars mengatakan, investasi di Pangkep ini adalah fasilitas penelitian kakao kedua di Indonesia, dimana hal ini berkaitan erat dengan bagaimana Mars menerapkan prinsip bisnisnya secara nyata, khususnya pada prinsip mutualitas. Kakao telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 6,5 juta keluarga petani di seluruh Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tenggara.

Namun, 40% produksi kakao menurun karena serangan hama, penyakit dan praktik pertanian yang kurang tepat. Jika Mars dan seluruh pemain industri tidak mengubah kondisi ini dan membuka lapangan kerja bagi petani, maka tidak akan ada petani yang ingin menanam kakao dan pada akhirnya kakao akan punah. “Kami berharap melalui Pusat Penelitian Kakao di Pangkep dapat mengubah keadaan ini.”

Kakao merupakan bahan baku penting yang digunakan oleh produk Mars di seluruh dunia. Oleh karena itu Mars memastikan pasokan kakao stabil dan berkelanjutan. Mars mengatakan bahwa pembangunan pusat penelitian kakao di Pangkep ini dimaksudkan mengatasi masalah penurunan produksi kakao di dunia dan Indonesia khususnya.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan data organisasi kakao internasional, produksi kakao Indonesia menurun 47 persen selama tujuh tahun terakhir menjadi sekitar 290.000 MT untuk musim panen 2016/2017.

Kemudian, diungkapkannya dengan nilai investasi sebesar US$ 4 juta atau setara dengan Rp 50 miliar, pusat penelitian nantinya akan menempati area seluas 95,2 hektar. Selanjutnya, diharapkan mampu mengembangkan genetika kakao yang unggul dan tahan hama sehingga memperbaiki produktivitas kakao di Indonesia, Sulawesi khususnya. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id